Rabu, 03 April 2013

Contoh Latar Belakang Masalah ISPA

Latar Belakang Masalah 

Di Indonesia penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Episode penyakit batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan sebesar 3 sampai 6 kali per tahun. Ini berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Sebagai kelompok penyakit, ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Sebanyak 40 % - 60 % kunjungan berobat di puskesmas dan 15 % - 30 % kunjungan berobat dibagian rawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA (Dep.Kes.RI, 2002 : 9-10). 

Word Healt Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita diatas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15 % - 20 % pertahun. Menurut WHO ± 13 juta anak balita didunia meninggal setiap tahun dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (http:// syair.worpress.com/2009/04/26/faktor-resiko-kejadian-ISPA-pada-balita, diakses tanggal 13 0ktober 2009). 

Di Kabupten Tapin, penyakit ISPA juga merupakan masalah kesehatan utama masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari sub bagian P2M kabupaten Tapin tahun 2007 diperoleh informasi bahwa cakupan penemuan ISPA mencapai 5.167 balita (34,43 %). Angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2008 yaitu menjadi 6.156 balita (40 %). 

Berdasarkan laporan bulanan P2M Kabupaten Tapin pada triwulan III (Juli-September) penderita ISPA terbanyak pada tahun 2009 adalah golongan umur 1 sampai 4 tahun yaitu 1.851 balita (12 %), dan urutan kedua adalah golongan umur 1 sampai 12 bulan yaitu 1.271 balita (8,27 %). 

Puskesmas Salam Babaris merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Tapin. Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Salam Babaris pada tahun 2007 dari 850 orang balita, 95 diantaranya terkena ISPA (11,17 %). Sedangkan tahun 2008 terjadi peningkatan dari 895 orang balita, 130 diantaranya terkena ISPA (14,52%). Tahun 2009 jumlah balita yang menderita ISPA pada bulan Januari sampai dengan bulan September sebanyak 162 balita (18,1 %). 

ISPA memang menjadi penyakit terbanyak di wilayah kerja Puskesmas Salam Babaris dari tahun ke tahun. Penyakit ini juga selalu mendapat urutan pertama dari sepuluh penyakit terbanyak. 

Kematian pada penderita ISPA terjadi jika penyakit telah mencapai derajat ISPA berat, paling sering kematian terjadi karena infeksi telah mencapai paru-paru atau pneumonia. Sebagian besar keadaan ini terjadi karena penyakit ISPA ringan yang diabaikan. Jika penyakitnya telah menjalar ke paru-paru dan anak tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang tepat, anak tersebut bisa meninggal. 

Terjadinya ISPA dipengaruhi atau disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti virus, keadaan daya tahan tubuh, umur, jenis kelamin, status gizi, imunisasi, dan keadaan lingkungan (pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, polusi udara, ditambah dengan perubahan iklim terutama suhu, kelembaban, curah hujan) merupakan ancaman kesehatan bagi masyarakat terutama penyakit ISPA. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor tersebut diatas tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku dan tingkat jangkauan ke pelayanan kesehatan yang masih rendah. 

Dengan diketahuinya faktor-faktor yang bisa menyebabkan penyakit ISPA, maka diharapkan penyakit ISPA penanganannya dapat diprioritaskan. Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan, serta penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan saat ini, diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor resiko terjadinya ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Salam Babaris.

ads

Ditulis Oleh : Dermon Siahaan Hari: 19.23 Kategori:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar