Jumat, 24 Mei 2013

Bahan kimia Pembersih dan Sanitiser



TOILET 

Toilet adalah tempat keryawan untuk buang air dengan demikian harus selalu bersih . Toilet harus dilengkapi dengan sabun, tissue dan tempat sampah. Ventilasi toilet harusn diatur sedemikian rupa agar tidak mencemari bahan pangan. Pintu toilet harus tidak menyerapair dan bersifat anti karat. 

Kebersihan toilet harus selalu dijaga . Toilet yang tidak terjaga kebersihannya akan menjadi sumber kontaminasi yang dapat mencemari bahan pangan, baik melalui perantaraan karyawan atau binatang. 

Toilet selain bersih, jumlah toilet harus memadahau dengan jumlah karyawan yang ada. Sebagai patokan , satu toilet maksimal diperuntukkan bagi 15 Karyawan. 
Tempat Cuci Tangan dan Kaki 

Tempat untuk karyawan mencuci tangan harus tersedia dalam jumlah memadai dan ditempatkan pada tempat yang mudah dijangkau. Tempat cuci tangan biasanya terletak disekitar toilet, pintu masuk, atau di disekitar cuci kaki. Tempat cuci tangan harus dilengkapi dengan sarana pembersih tangan dan dan pengering. Bahan yang digunakan sebagai pembersih tangan harus bahan yang tidak memiliki bau agar tidak mencemari bahan pangan yang dihasilkan. Tempat untuk mencuci tangan yang terletak dibagian awal dari alur proses dilengkapi dengan sabun. 

Tempat untuk cuci tangan berikutnya dapat berupa wadah berisi air yang telah ditambahkan senyawa klorin sebagai anti mikrobia. Konsentrasi senyawa klorin yang digunakan sebagai senyawa anti mikrobia adalah 50 ppm 

Tempat untuk mencuci tangan dilengkapi dengan peralatan pengering ( hand drying). Tempat untuk mencuci tangan juga dapat dilengkapi dengan tissue untuk mengeringkan tangan atau bagian tubuh laiinya Sediakan tempat sampah yang memiliki tutup. Keberadaan tempat sampah diperlukan untuk mempertahankan kondisi higienes. Tempat sampah diletakkan didekat toilet, tempat untuk mencuci tangan, atau sekitar tempat unit pengolahan. Buanglah tisu dan kotoran lainnya ke tempat sampah yang telah tersedia. 

Tempat untuk mencuci kaki ( sepatu) dibutuhkan untuk mencegah masuknyamikrobia dan bahan pencemar lainnya melalui kaki. Fasilitas cuci kaki biasanya terletak berdekatan dengan tempat mencuci tangan atau kamar mandi. Tempat mencuci kaki berupa genangan air yang telah ditambahkan klorin sebagai anti mikroba. Konsentrasi klorin berkisar 100 – 200 ppm. 
Bahan kimia Pembersih dan Sanitiser 

Jenis bahan kimia pembersih dan sanitiser yang digunakn dalam industry pangan harus sesuai persyaratan yang ditetapkan. Bahan kimia harus mampu mengendalikan pertumbuhan bakteri (anti mikroba). Senyaw antimikroba adalah senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroba. 

Antimikroba ddapat dikelompokkan menjadi antiseptic dan desinfekta. Antiseptik adalah pembunuh mikroba dengan daya rendah dan biasanya dibunakan pada kulit, misalnya alcohol dan deterjen. Desinfektam adalah senyawa kimia yangdapat membunuh mikroba dan biasanya digunakan untuk pembersih meja, lantai dan peralatan. Contoh desinfektan yang digunakan adalah senyawa klorin, hipolcorit, dan tembaga sulfat. 

Bahan kimia yang umum digunakan sebagai pembersih atau sanitiser mengandung klorin sebagai bahan aktifnya. 

Bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba disebut bahan pengawet (preservative). Bahan pengawet yang banyak digunakan pada makanan daan tidak beracun
Bahan Pengawet makanan yang umum digunakan
Bahan Pengawet
Konsentrasi
Penggunaan
Asam propionate
0.32 %
Senyawa anti jamur pada roti dan keju
Asam sorbet
0.2 %
Senyawa anti jamur pada jeli, sirup dan keju
Asam Benzoat
0,1 %
Senyawa anti jamur pada margarine, cuka dan minuman ringan
Na diasetat
0.32 %
Senyawa anti jamur pada roti
Asam laktat
Tidak diketahui
Senyawa anti jamur pada susu, yoghurt, acar dan keju
Sulfur dioksida,
Sulfite
200 – 300
Senyawa anti jamur pada pada buah kering,anggur, molasess
Na nitrit
200 ppm
Senyawa anti bakteri pada daging dan ikan olahan
Na klorida
Unknown
Mencegah bakteri pembusuk pada daging dan ikan
Gula
Tidak diketahui
Mencegah mikroba pembusuk pada selai, sirup, jeli
Asap Kayu
Tidak diketahui
Mencegah mikroba pembusuk pdaging, ikan dan lainnya

  1. Pelabelabelan, penggunaan dan penyimpanan bahan beracun
a.       Pelabelan bahan beracun
Untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan, bahan kimia untuk pembersih dan sanitasi harus diberi label secara jelas. Pemberian label yang kurang jelas memungkinkan terjadinya kesalahan penggunaan
Pemberian label untuk bahanberacun dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pelabelan pada wadah asli dan wadah yang isinya akan segera digunakan. Label pada wadah asli harus memperhatikan naman dan alamat produsen, nomor register, dan intruksi cara penggunaan secara benar.
Label padawadah bahan kimia yang siap digunakan harus tertera secara jelas memperlihatkan naman bahan atau larutan dan intruksi cara penggunaan secara benar
b.      Penggunaan bahan beracun
Penggunaan bahan kimia beracun, pembersih, dan sanitasi dalam industry pangan harus disesuaikan dengan petunjuk dan persyaratan pabrik





Senyawa anti septic dan Desinfektan
Senyawa Kimia
Mekanisme Pengerusakan
Penggunaan
Etanol
(50 % – 70 %)
Denaturasi protein dan kelarutanlemak
Sebagai antiseptic padakulit skin
Isopropanol
(50 %– 70 %)
Denaturasi protein dan kelarutan lemak
Sebagai antiseptic padakulit skin
Formaldehide ( 8 %)
Reaksi dengan NH2, SH dan gugus COOH
Disinfectant,kills endospores
Yodium Tincture
(2% 12 in70% alcohol)
Mengahambat aktivitas protein
Antisepticdigunakan di kulit
Gas Klorin
(Cl2) gas
Membentuk asam Hipoklorous Forms hypochlorousacid ( HClO) a Sebagai antiseptic padakulit skin sstrong oxidizing agent
Disinfektan pada air minum
Ag nitrat (Ag No3)
Pengumpalan protein
Antiseptik umum yang digunakan untuk mata bayi yang baru lahir
Hg Klorida
Inactivates proteins by reacting with sulfide groups

Detergen ( e.g
Quarternary ammonium
Compounds)
Disrupts cell membranes
Desenfiktan dan antiseptic pada kulit
Senyawa fenol (e.g asam kabolonat, lisol, hexylresorsinol, hexakhlorophen)
Denature proteins and disrupt cell membranes
Antiseptik pada konsentrasi rendah dan disinfektan pada konsentrasi tinggi
Gas etilen oksida
Alkylating agent
Sebagai disinfektan pada bahan sterilisasi bahan yang tidak tahan panas, seperti karet dan plastik




Prosedur penggunaan bahan beracun harus dapat mencegah pencemarn pada bahan pangan 

c. Penyimpanan bahan beracun 

Bahan kimia pembersih harus disimpan di tempat yang khusus dan terpisah dai bahan lainnya. Demikian pula dengan bahan kimia untuk sanitasi 

Bahan beracun harus disimpan diruang dengan akses terbatas. Hanya karyawan yang diberi kewenangan dapat memasuki ruangan penyimpanan tersebut. 

Pisahkan bahan kimia yang digunakan untuk pangan dan non pangan. Jauhkan dari peralatan dan benda lain yang kontak dengan bahan pangan. 


Kesehatan Karyawan 

Kondisi kesehatan setiap karyawan yang bekerja harus selalu dimonitor oleh oihak oerusahaan. Karyawan yang menderita sakit dan diduga dapat mencermari bahan atau produk pangan dilarang bekerja di unit penangan atau pengolahan 

Jenis penyakit yang dapat menjadi pencemar dan mengkontaminasi bahan dan produk pangan antara lain batuk, flu, diare dan penyakit kulit. 

Pekerja yang mengalami luka pada telapak tangannya juga harus dilarang bekerja di unit penangan dan pengolahan. Rambut pekerja sebaiknya dipotong pendek agar tidak mencemari produk pangan. Bila tidak dipotong, sebaiknya menggunakan topi pelindung. Rambut yang tidak tertutup dapat menjadi sumber mikroba pencemar. 
Pengendalian hama 

Hama harus dicegah agar tidak masuk dalam penagan atau pengolahan. Hama dapat mencemari bahan pangan dengan kotorannya maupun potongan tubuhnya. Hama juga dapat menjadi hewan perantara bagi mikroba pencemar. 

Rodentia pembawa Salmonella, dan parasit. Lalat dan kecoa merupakan serangga pembawa Staphylococcus, Shhigella, Clostridium perfrigens dan C. Botulinum Sedangkan burung ia. 

Pada biji-bijian, serangga menyimpan telurnya di dalam biji dan menutup lubang tersebut dengan lapisan khusus untuk melindungi telurnya dari kemungkinan gangguan. Setelah telur menetas menjadi larva , maka larva akan memakan biji tersebut dari bagian dalam. Setelah dewasa serangga tersebut meninggalkan biji yang telah berongga. 

Ujntuk mengatasi serangan hama sebaiknya disiapkan program pemusnahan hama secara berkala. Fumigasi merupakan salah satu cara yang banyak digunakan untuk mengatasi serangan hama digudang penyimpanan

ads

Ditulis Oleh : Dermon Siahaan Hari: 08.44 Kategori:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar