2.1. Teori- Teori Kepemimpinan
Untuk mengetahui teori-teori kepemimpinan, dapat dilihat dari beberapa literatur yang pada umumnya membahas hal-hal yang sama. Dari literatur diketahui ada teori yang menyatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan dibuat. Ada pula yang menyatakan bahwa pemimpin itu terjadi karena adanya kelompok orang-orang, dan ia melakukan pertukaran dengan yang dipimpin. Teori yang yang paling mutakhir melihat kepemimpinan lewat perilaku organisasi.
2.1.1. Teori Great Man dan Teori Big Bang
2.1.1.1. Teori Great Man
Teori ini mengemukakan kepemimpinan merupakan bakat atau bawaan sejak seseorang lahir dari kedua orang tuanya. Bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan diciptakan. Pandangan ini diwarni filsafat hidup yang deterministik dalam arti bahwa adanya keyakinan diantara para penganutnya bahwa jika seseorang memang sudah ditakdirkan “menjadi seorang pemimpin”, terlepas dari pejalanan hidup yang bersangkutan tampil pada panggung kepemimpinan dan akan efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya. Bagi para penganut pendapat ini tidak menjadi soal betapa banyak kesempatan yang dimanfaatkan seseorang dalam upaya menumbuhkan efektivitas kepemimpinannya, apabila seseorang itu tidak dilahirkan dengan bakat kepemimpinan yang bersangkutan tidak akan pernah menjadi pemimpin yang efektif.
Contoh dari teori ini adalah Pangeran William dari Wales. Pangeran William merupakan pewaris tahta kerajaan Inggris, sehingga sejak dini beliau memang dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin bagi rakyat Inggris. Kekuasan Pangeran William didapatkan karena beliau merupakan garis keturunan kedua setelah Pangeran Charles yang merupakan ayahnya dan cucu dari Ratu Elizabeth II.
Dari teori Great Man ini dapat dilihat bahwa Pangeran William memang sudah ditahbiskan sebagai pemimpin sejak ia dilahirkan, karena kepemimpinan di kerajaan Inggris berlaku secara turun temurun bukan berdasarkan pemilihan sehingga masyarakat mau tak mau harus mengikuti pemimpin mereka yang sudah ditakdirkan sejak pemimpin mereka dilahirkan.
2.1.1.2. Teori Big Bang
Teori ini mengemukakan bahwa adanya suatu peristiwa besar menciptakan seseorang menjadi pemimpin. Suatu peristiwa besar tersebut dapat berupa revolusi, kekacauan/kerusuhan, pemberontakan, ataupun reformasi.
Adapun contoh dari teori ini adalah sosok pemimpin seorang Ernesto Guevara Lynch de La Serna atau yang lebih dikenal dengan nama Che Guevara
[1] (lahir di
Rosario,
Argentina,
14 Juni 1928 –meninggal di
Bolivia,
9 Oktober 1967 pada umur 39 tahun). Beliau adalah seorang pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya
Kuba. Setelah melakukan perjalanan dengan sepeda motornya menjelajah Argentina dengan sepeda motor, itulah untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan orang miskin dan sisa suku
Indian. Ia kembali ke daerah asalnya dengan sebuah keyakinan bulat atas satu hal bahwa ia tidak mau menjadi profesional kelas menengah dikarenakan keahliannya sebagai seorang spesialis kulit. Kemudian pada masa revolusi nasional ia pergi ke
La Paz,
Bolivia di sana ia dituduh sebagai seorang oportunis. Dari situ ia melanjutkan perjalanan ke
Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian
Maya dan
Inca. Guatemala saat itu diperintah oleh
Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham
marxisme dan ahli sosial
Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin.
Pada bulan
Juni 1956 ketika mereka menyerbu
Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran
Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling
Batista.
Pada tokoh Che Guevara ini dapat disimpulkan bahwa beliau menjadi seorang pemimpin karena memimpin suatu peristiwa besar yaitu revolusi di Kuba.
2.1.2. Teori Sifat
Teori sifat menjelaskan bahwa seorang dapat menjadi pemimpin apabila memiliki sifat yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Dalam hal ini dapat pula dilihat sosok seorang Che Guevara yang merupakan spesialis kulit yang miskin, dapat menjadi seorang komandan tentara revolusioner Barbutos.
Karakter terus berkembang dari waktu ke waktu. Banyak orang mengatakan karakter seseorang terbentuk sedari kecil. Kita memang tidak mengetahui dengan pasti kapan tepatnya karakter itu mulai berkembang. Akan tetapi, bisa dipastikan bahwa karakter tidak dapat berubah dengan cepat. Dari perilaku seseorang, kita bisa menebak karakternya. Seorang yang berkarakter kuat menunjukkan aktivitas, energi, kemantapan tekad, disiplin, kemauan keras, dan keberanian. Dia melihat apa yang ia inginkan lalu mengejarnya. Ia juga menarik orang untuk mengikutinya. Di sisi lain, orang yang berkarakter lemah tidak menunjukkan sifat-sifat tersebut. Ia tidak tahu apa yang ia inginkan. Sifatnya tidak terkelola dengan baik, terombang-ambing dan tidak konsisten. Akibatnya, tidak ada seorang pun yang bersedia mengikutinya.
Che memiliki sifat rajin membaca yang merupakan modal untuk pengetahuannya sebagai pemimpin. Che juga memiliki sifat yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran
Lenin kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang ceroboh dan di arena inilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin dalam eksekusi massa pendukung fanatik presiden yang terguling
Batista Guevara. Dari sifat-sifat inilah yang membuat ia langsung melesat menjadi pemimpin dari hanya seorang Dokter yang bertugas saat perang gerilya.
2.1.3. Teori Kepemimpinan Perilaku (Behavior Theories)
Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung pada perilakunya dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan. Gaya atau perilaku kepemimpinan tampak dari cara melakukan pengambilan keputusan, cara memerintah (instruksi), cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat bawahan, cara membimbing dan mengarahkan, cara menegakkan disiplin, cara memimpin rapat, cara menegur, dan memberikan sanksi.
2.1.3.1. Studi Kepemimpinan Universitas IOWA
Usaha untuk mempelajari kepemimpinan pada mulanya dilakukan pada tahun 1930 oleh Ronald Lippitt dan Ralph K. White di bawah pengarahan Kurt Lewin di Universitas IOWA. Dalam penelitian ini klub hobi dari anak-anak umur 10 tahun dibentuk. Setiap klub diminta memainkan tiga style kepemimpinan, yaitu otokratis, demokratis, dan semaunya sendiri (laissez faire). Terdapat beberapa penemuan dari hasil percobaan tersebut. Salah satu penemuan yang pasti adalah kesukaan yang melimpah dari anak-anak tersebut pada pemimpin yang demokratis dibandingkan dengan pemimpin yang otokratis. Sayangnya penelitian IOWA ini tidak mengungkapkan pengaruh langsung dari gaya kepemimpinan tersebut pada produktivitas.
2.1.3.2. Studi Kepemimpinan Universitas OHIO
Dalam tahun 1945, Biro Penelitian Bisnis dari Universitas Negeri Ohio melakukan serangkaian penelitian dalam bidang kepemimpinan. Penelitian ini mengembangkan dan mempergunakan Kuesionair Deskripsi Perilaku Pemimpin (the Leader Behavior Description Questionnaire – LBDQ). Dalam kuestioner (LBDQ) terdiri dari 15 item yang berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai struktur inisiatif, dan 15 item yang berisi pertanyaan mengenai perhatian. Di dalam menelaah perilaku pemimpin, tim dari Universitas OHIO ini menemukan bahwa kedua perilaku tersebut sangat berbeda dan terpisah satu sama lain. Oleh karena itulah selama penelitian kedua dimensi perilaku tersebut dikembangkan empat segi empat yang digunakan untuk menunjukkan kombinasi dari struktur inisiatif (perilaku tugas) dengan perhatian (perilaku hubungan), sebagai berikut:
2.1.3.3. Studi Kepemimpinan Universitas Michigan
Pada tahun 1947, kantor riset dari Angkatan Laut mengadakan kontrak kerja sama dengan Pusat Riset Survey Universitas Michigan untuk melakukan suatu penelitian. Tujuan dari kerja sama penelitian ini antara lain untuk menentukan prinsip-prinsip produktivitas kelompok, dan kepuasan anggota kelompok yang diperoleh dari partisipasi mereka. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa para responden lebih menyukai:
a. menerima pengawasan dari pengawas-pengawas mereka yang bersifat terbuka dibanding yang terlalu ketat
b. menyukai sejumlah otoritas dan tanggung jawab yang ada dalam pekerjaan mereka
c. mempergunakan sebagian besar waktunya dalam pengawasan
d. memberikan pengawasan terbuka pada bawahannya dibandingkan pengawasan yang ketat
e. berorientasi paka pekerja daripada berorientasi pada produksi
2.1.3.4. Managerial Grid
Gaya managerial grid sering kali digunakan dalam rangka mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam management. Dalam pendekatan managerial grid ini, manager berhubungan dengan dua hal, produksi di satu pihak dan orang-orang di pihak lain. Managerial grid di sini menekankan bagaimana manajer memikirkan mengenai produksi dan hubungan kerja dengan manusianya.
Ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan dalam gaya yang ekstrim, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang dikatakan di tengah-tengah gaya ekstrim tersebut. Gaya kepemimpinan dalam managerial grid itu antara lain sebagai berikut:
a. Pada Grid 1.1. manajer sedikit sekali usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengannya, dan produksi yang seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manajer dalam grid ini menjadikan dirinya perantara yang hanya mengkomunikasikan informasi dari atasan kepada bawahan.
b. Pada Grid 9.9. manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksi maupun orang-orang yang bekerja dengannya. Manajer yang termasuk grid ini dipercaya dapat menjadi ”manajer tim” yang riel (the real team manager). Manajer ini mampu untuk memadukan kebutuhan-kebutuhan produksi dengan kebutuhan-kebutuhan orang-orang secara individu.
c. Pada Grid 1.9. ini gaya kepemimpinan dari manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk selalu memikirkan orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi lemah. Dalam suasana seperti ini tidak ada satu orang pun yang mau memikirkan tentang usaha-usaha koordinasi guna mencapai tujuan organisasi.
d. Pada Grid 9.1. manajer menjalankan tugas secara otokratis (autocratictask managers). Manajer semacam ini hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya.
Selain empat gaya yang ekstrim di atas, ada satu gaya yang berada di tengah-tengah. Manajer semacam ini termasuk dalam grid 5.5. Dalam hal ini manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang.
Kelima grid tersebut amat bermanfaat untuk mengetahui dan mengenal macam-macam gaya kepemimpinan seorang manajer. Dengan adanya sistem grid ini, diharapkan para pemimpin akan dapat mengetahui gaya kepemimpinan yang paling sesuai untuk diterapkan dalam organisasinya.
2.1.3.5. Empat Sistem Manajemen Likert
Gaya empat sistem manajemen dikembangkan melalui suatu ide dan pendekatan yang penting untuk memahami perilaku pemimpin. Gaya empat sistem manajemen ini dikembangkan berdasar suatu proses penelitian yang bertahun-tahun.
Gaya empat sistem kepemimpinan dalam manajemen sebagai berikut:
a. Sistem 1
Dalam sistem ini pemimpin bergaya sebagai exploitive-authoritative. Manajer dalam hal ini sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada bawahannya. Pemimpin dalam sistem ini, hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja.
b. Sistem 2
Dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevolent authoritative). Pemimpin atau manajer-manajer yang termasuk dalam sistem ini mempunyai kepercayaan yang berselubung, percaya pada bawahan, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah dan katakutan berikut hukuman-hukuman, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas, mendengarkan pendapat-pendapat, ide-ide dari bawahan, dan memperbolehkan adanya delegasi wewenang dalam proses keputusan. Bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya.
c. Sistem 3
Dalam sistem ini gaya kepemimpinan lebih dikenal dengan sebutan manajer konsultatif. Manajer dalam hal ini mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan biasanya dalam hal kalau ia membutuhkan informasi, ide atau pendapat bawahan, dan masih menginginkan melakukan pengendalian atas keputusan-keputusan yang dibuatnya. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.
d. Sistem 4
Dalam hal ini manajer mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahannya. Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugasnya bersama atasannya.
Manajer yang termasuk sistem 4 ini mempunyai kesempatan untuk lebih sukses sebagai pemimpin (leader). Setiap organisasi yang termasuk sistem manajemen 4 ini sangat efektif di dalam menetapkan tujuan-tujuan dan mencapainya, dan pada umumnya organisasi semacam ini lebih produktif.
Contoh dari teori kepemimpinan perilaku adalah Adolf Hitler. Adolf Hitler lahir tahun 1889 di Braunau, Austria. Di masa Perang Dunia ke-I, dia masuk Angkatan Bersenjata Jerman, terluka dan peroleh dua medali untuk keberaniannya. Di tahun 1919, dia bergabung dengan partai kecil berhaluan kanan di Munich, dan segera partai ini mengubah nama menjadi Partai Buruh Nasionalis Jerman (diringkas Nazi). Dalam tempo dua tahun dia menanjak jadi pemimpin yang tanpa saingan yang dalam julukan Jerman disebut "Fuehrer." Di bulan Januari 1933, tatkala umurnya empat puluh empat tahun, Hitler menjadi Kanselir Jerman. Dengan jabatan itu, Hitler dengan cepat dan cekatan membentuk kediktatoran dengan menggunakan aparat pemerintah melabrak semua golongan oposisi. Perlu dicamkan, proses ini bukanlah lewat erosi kebebasan sipil dan hak-hak pertahankan diri terhadap tuduhan-tuduhan kriminal, tetapi digarap dengan sabetan kilat dan sering sekali partai Nazi tidak ambil pusing dengan prosedur pengajuan di pengadilan sama sekali. Banyak lawan-lawan politik digebuki, bahkan dibunuh langsung di tempat. Meski begitu, sebelum pecah Perang Dunia ke-2, Hitler meraih dukungan sebagian terbesar penduduk Jerman karena dia berhasil menekan jumlah pengangguran dan melakukan perbaikan-perbaikan ekonomi.
Mungkin tak ada tokoh dalam sejarah yang punya pengaruh begitu besar terhadap generasinya ketimbang Adolf Hitler. Di samping puluhan juta orang yang mati dalam peperangan yang dia biang keladinya, atau mereka yang mati di kamp konsentrasi, masih berjuta juta orang terlunta-lunta tanpa tempat bernaung atau yang hidupnya berantakan akibat perang.
Keberhasilan Adolf Hitler dapat terlihat dari perilakunya dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan. Perilaku kepemimpinannya tampak dari cara melakukan pengambilan keputusan, cara memerintah (instruksi), cara memberikan tugas, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat bawahan, cara membimbing dan mengarahkan, ataupun dari cara menegakkan disiplin. Adolf Hitler menjadi pemimpin yang berhasil pada masanya walaupun dia oleh dunia luas dianggap manusia yang paling jahanam sepanjang sejarah.
2.1.4. Teori Kepemimpinan Kontigensi atau Situasional
Terdapat beberapa variabel situasional yang mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan perilakunya, berikut pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya. Salah satu usulan mengemukakan suatu model berdasarkan situasi untuk efektivitas kepemimpinan.
Belum ada tanggapan untuk "TEORI KEPEMIMPINAN "
Posting Komentar