Fungsi vestibular
Peningkatan atau pengurangan kecepatan pergerakan sirkular—akselerasi atau deselerasi angular—menimbulkan aliran cairan di duktus semisirkularis sebagai akibat sifat inersia endolimf. Hal ini menginduksi gerakan terkait dari kupula di atas krista ampularis dan berakibat melengkungnya stereosilia pada sel-sel sensorik. Pengukuran impuls listrik di sepanjang serabut saraf vestibular menunjukkan bahwa pergerakan kupula ke arah kinosilia menimbulkan eksitasi reseptor, yang disertai potensial aksi di serabut saraf vestibular. Gerakan dalam arah berlawanan menghambat aktivitas neuron. Bila gerakan yang seragam terjadi lagi, akselerasi akan terhenti; kupula kembali ke posisi normalnya; dan eksitasi atau inhibisi reseptor tidak terjadi lagi.
Duktus semisirkularis berespons terhadap pcrpindahan cairan dan karenanya, juga berespons terhadap posisi tubuh setelah timbulnya akselerasi angular. Makula sakulus dan utrikulus berespons terhadap akselerasi linear. Karena densitasnya yang lobih tinggi, otolit berpindah tempat bila posisi kepala berubah. Perpindahan ini diteruskan ke sel rambut di bawahnya melalui membran otolit gelatinosa. Perubaban bentuk stereosilia sel rambut membangkitkan potensial aksi yang dibawa ke susunan saraf pusat oleh cabang vestibular nervus kranialis kedelapan. Jadi, makula sensitif terhadap kekuatan gaya berat pada otolit. Aparatus vestibular penting untuk menafsirkan gerakan dan orientasi dalam ruangan dan berperan mempertahankan keseimbangan atau ekuilibrium.
fungsi auditorius
Gelombang suara yang tiba di membran timpani menggerakkan tulang-tulang pendengaran. Perbedaan yang besar dari luas membran timpani dan tempat perlekatan stapes menjamin transmisi pergerakan mekanik secara efisien dari udara ke cairan telinga dalam. Dua otot rangka terdapat pada telinga tengah—musculus tensor timpani (yang melekat pada maleus) dan musculus stapedius (yang melekat pada stapes). Suara keras menimbulkan kontraksi refleks otot-otot ini, yang membatasi pergerakan membran timpani dan stapes; hal ini membantu mencegah timbulnya kerusakan pada telinga dalam. Akan tetapi, refleks ini terlalu lambat untuk melindungi kita dari suara keras yang timbul mendadak, seperti pada letusan senapan.
Gelombang suara adalah gelombang memanjang, dengan fase kompresi dan rarefaksi. Fase kompresi menimbulkan pergerakan stapes ke dalam. Karena cairan telinga dalam hampir tak dapat dimampatkan, perubahan tekanan diteruskan melalui membran vestibular dan membran basilaris, dan menyebabkan defleksi kedua membran ke bawah ke arah skala timpani. Perubahan tekanan ini juga menyebabkan penutup tingkap bundar menonjol ke luar sehingga tekanan menjadi berkurang. Karena ujung-ujung sel pilar membentuk semacam pasak (sumbu), defleksi membran basilaris ke bawah dikonversi menjadi penekukan stereosilia sel rambut ke lateral terhadap membrana tektoria. Ujung-ujung stereosilia terdefleksi ke arah modiolus dan menjauhi badan basal. Pada fase rarefaksi gelombang suara, semua proses tersebut menjadi terbalik. Stapes bergerak ke luar, membran basilaris bergerak ke atas ke arah skala vestibuli, dan stereosilia sel rambut menekuk ke arah stria vaskularis dan badan basal. Defleksi dalam arah ini membangkitkan potensial depolarisasi di sel rambut, dan menyebabkan pelepasan neurotransmiter (yang sifat kimiawinya belum jelas) yang menyebabkan produksi potensial aksi di neuron bipolar ganglion spiralis (eksitasi).
Diskriminasi antar frekuensi suara didasarkan pada respons membran basilaris. Membran berespons terhadap frekuensi suara dengan berbagai perpindahan di berbagai tempat di sepanjang membran tersebut. Frekuensi tinggi terdeteksi di ujung basal membran, sedangkan frekuensi rendah terdeteksi di apeks organ Corti. Lokalisasi tonotopik ini dapat berkorelasi dengan lebar dan kekakuan membran basilaris. Bagian membran basilaris yang sempit dan lebih kaku di bagian basal, berespon paling baik terhadap suara berfrekuensi tinggi.
INDERA PENGHIDU DAN PENGECAP
A. RESEPTOR PENGHIDU
Sensasi bau yang dikenal sebagai “Olfaction” dilakukan oleh organ penghidu yang terletak di dalam rongga hidung pada bagian atap rongga hidung, bagian atas septum nasi dan pada konka nasalis superior tulang etmoidalis.
Organ penghidu ini terdiri atas dua lapisan:
1. Epitel olfaktorius yang terdiri atas sel reseptor penghidu (sel olfaktorius), sel penyokong (sel sustentakular) dan sel basal. Epitel ini pada keadaan hidup tampak bewarna kekuningan.
2. Lamina propria merupakan lapisan yang terdapat di bawah epitel olfaktorius dan disusun oleh jaringan ikat longgar. Lapisan ini mengandung akson sel olfaktorius, pembuluh darah dan kelenjar olfaktorius (dikenal sebagai kelenjar Bowman) yang menghasilkan sekret serosa.
Sel olfaktoria merupakan sel saraf bipolar termodifikasi. Bagian ujung dendrit mengalami penggembungan yang dikenal sebagai vesikel olfaktorius. Vesikel olfaktorius ini mempunyai 6-8 silia yang panjang dan tidak bergerak. Silia ini terbenam di dalam lapisan lendir yang menyelimuti permukaan lapisan epitel. Akson dari sel olfaktorius akan berjalan menembus lamina propia untuk bergabung dengan akson dari sel olfaktorius lainnya membentuk berkas (bundle) serat saraf. Berkas saraf ini akan berjalan melintasi lempeng kribiformis (Cribiform plate) pada atap rongga hidung untuk bersinap dengan sel saraf kedua pada bulbus olfaktorius. Akson dari sel saraf kedua pada bulbus olfaktorius ini kemudian akan berjalan ke korteks olfaktorius, hipothalamus dan bagian limbik sistim melalui traktus olfaktorius. Badan sel olfaktorius ini mempunyai inti yang bulat dan lebih dekat ke arah lamina basal daripada ke vesikel olfaktorius. Sitoplasmanya mengandung struktur-struktur yang sama dengan sel saraf lainnya.
Sel penyokong merupakan sel-sel berbentuk silindris, berukuran 50-60 um dan mempunyai mikrovili pada permukaannya. Intinya berbentuk bulat terletak pada 1/3 apikal sel. Sitoplasma bagian apikalnya mempunyai granula yang mengandung pigmen bewarna kekuningan. Adanya pigmen kekuningan ini menyebabkan epitel olfaktorius. tampak bewarna kekuningan pada keadaan hidup. Fungsi sel ini adalah untuk menyokong, memberi nutrisi dan insulator listrik bagi sel olfaktorius.
Sel basal merupakan sel kecil, basofilik, berbentuk piramid yang bagian apikalnya tidak mencapai permukaan epitel. Inti sel terletak lebih ke arah basal. Sel basal diyakini sebagai sel induk (stem cells) untuk sel olfaktorius dan sel sustentakular.
B. RESEPTOR PENGECAP
Indera pengecap memberikan informasi kepada kita tentang makanan dan minuman yang kita konsumsi. Reseptor pengecap terletak pada permukaan atas lidah dan bagian faring dan laring yang terletak didekatnya. Reseptor pengecap dan sel-sel epitel yang khas membentuk struktur sensoris yang dikenal sebagai kuncup kecap (taste bud).
Kuncup kecap merupakan organ sensoris intraepitel yang berfungsi dalam persepsi rasa. Permukaan lidah dan bagian belakang rongga mulut mengandung kira-kira 3000 kuncup kecap. Kuncup kecap merupakan organ berbentuk bulat, lebih pucat dibandingkan dengan epitel disekitarnya. Setiap kuncup kecap terdiri atas 40 reseptor pengecap berbentuk silindris yang dikenal sebagai sel pengecap (gustatory cells) dan sel-sel penyokong. Pada bagian ujung sel kecap yang menyempit terdapat mikrovili, yang dikenal sebagai rambut pengecap (taste hairs) yang berjalan menuju permukaan lidah melalui lubang pengecap (taste pore). Ada 4 macam sel pengecap yaitu sel basal (basal cell, sel tipe IV), sel gelap (dark cell, sel tipe I), sel terang (light cell, sel tipe II), dan sel pertengahan (intermediate cell, sel tipe III). Sel basal diyakini merupakan sel awal yang akan berubah menjadi sel gelap yang kemudian menjadi matang sebagai sel terang, lalu berubah menjadi sel pertengahan dan akhirnya akan mati. Serat-serat saraf akan masuk kedalam kuncup kecap dan bersinap dengan sel tipe I, II dan III.
Di bawah mikroskop cahaya kuncup nampak sebagai struktur mirip irisan bawang dengan sel-sel yang tersusun mirip lapisan-lapisan pada bawang yang dibelah tegak lurus melalui dasarnya. Badan akhir serat saraf sensoris ini terdiri atas 2 macam sel yaitu sel pengecap dan sel penyokong yang keduanya berbentuk gelendong langsing. Sel ini cukup panjang sehingga tingginya hampir sama dengan tebal epitel. Sel penyokong lebih gemuk dan intinya berkromatin halus sedangkan sel pengecap lebih langsing, intinya gepeng panjang dan berkromatin padat. Pada ujung yang menghadap permukaan biasanya tampak berjumbai yang terdiri atas rambut-rambut pengecap yang sebenarnya adalah berkas mikrovilus.
Saraf kranial ke VII akan mempersarafi kuncup kecap yang terdapat pada 2/3 anterior lidah, dari akar lidah hingga ke garis papila sirkumvalata. Papila sirkumvalata dan 1/3 posterior lidah akan dipersarafi oleh saraf otak ke IX. Saraf otak ke X akan mempersarafi kuncup kecap yang tersebar pada permukaan epiglotis. Serat saraf sensorik afferent dari saraf –saraf kranial ini akan bersinap di nukleus solitarius di medula oblongata. Akson dari sel saraf di nuleus solitarius akan berjalan memasuki lemniskus medialis selanjutnya menuju ke talamus dan akhirnya informasi akan diproyeksikan ke korteks sensoris primer.
Belum ada tanggapan untuk "Histofisiologi Telinga Dalam "
Posting Komentar