SANITASI – PENULARAN - KUCING?
H. pylori ditularkan dari manusia ke manusia Namun prosesnya belum diketahui secara pasti. Sanintasi yang buruk menjadi faktor utama penyebaran H.pylori. Kontak dengan muntahan atau pup, maupun transmisi melalui saluran pencernaan(selang endoskopi dsb) dapat meningkatkan resiko terinfeksi bakteri ini. Konsumsi langsung makanan atau air syang terkontaminasi oleh H.pylori juga pasti akan meningkatkan secara signifikan resiko terinfeksi.. Bahkan kucing diduga menjadi tersangka penyebaran H.pylori ini.
Di negara barat, prevalensi orang yang terinfeksi H.pylori kebanyakan orang tua (usia>50 th) tapi di Indonesia dan negara berkembang lainnya, justru sebaliknya. Pada orang yang mengkonsumsi pedas,asam atau aspirin dan non steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) lainnya, ada kecenderungan untuk terinfeksi karena makanan pedas atau asam dan NSAIDs dapat mengiritasi lapisan mukosa sehingga memudahkan bakteri H.pylori untuk menginfeksi.
PENYAKIT OLEH INFEKSI H.PYLORI , BERUJUNG KANKER???
Kebanyakan orang terinfeksi H.pylori tidak menunjukkan gejala klinis(asimptomatik) namun pada beberapa kasus, ada yang menunjukkan simptom yang dialami antara lain mual, muntah, perih, nyeri di ulu hati, flatulen(kembung). Hematemesis(muntah darah) dan melena(feses mengandung darah) bisa terjadi bila telah terjadi pendarahan.
Karena menempati lambung, maka H.pylori dapat menyebabkan penyakit pencernaan seperti gastritis kronis, ulkus peptikum dan ulkus duodenum. Pada kondisi H pylori mencapai 1.010 sel dalam lambung bisa mengakibatkan hipochlorhidria, yaitu berkurangnya asam lambung yang akan mengundang Escherichia coli dari usus untuk berkoloni di lambung dan berpeluang bagi terjadinya diare.Bahkan bakteri ini ditetapkan sebagai karsinogen kelas I oleh WHO. Hal tersebut memunculkan banyak pendapat mengenai bagaimana mekanisme H. Pylori menyebabkan kanker. Opini pertama ialah H.plyori sebagai agen karsinogen yang mampu memicu langsung terjadinya kanker. Mekanisme kedua, yang lebih diyakini kini ialah oleh karena lamanya inflamasi akibat infeksi H.pylori dan didukung faktor lingkungan serta makanan memicu terbentuknya atropi mukosal dan pada akhirnya menyebabkan metaplasia intestinal. Perubahan inilah yang menjadi prekursor terjadinya kanker lambung.
DIAGNOSIS
Untuk mengetahui ada tidaknya infeksi H.pylori dapat digunakan uji antara lain,
test antibodi darah, bila mengandung antibodi yang melawan H.pylori berarti telah terinfeksi.
Test nafas urea, pasien dimasuki urea dengan atom C radioaktif. Bakteri H.pylori akan mengubah urea menjadi CO2. Udara pernapasan yang mengandung CO2 radioaktif menandakan adanya H.pyori dalam tubuh
Biopsi saluran pencernan, dengan endoskopi.
Adanya fakta bahwa Helicobacter pylori dapat hidup dalam lambung, maka pemilihan pengobatan kini harus benar-benar dipertimbangkan, karena bisa jadi kita malah membantu pertumbuhan bakteri atau malah meningkatkan resistensinya. Penggunaan antasida dan penekan jumlah asam lambung hanya meredakan gejala tapi tidak memberantas akarnya.
Antibiotik yang secara luas digunakan dalam treatment infeksi H.pylori adalah metronidazol, klaritomisin, amoxicillin, dan tetrasiklin. Penggunaan Amoksisilin ialah yang periodenya paling lama.
Eradikasi kuman Helicobacter pylori dapat berupa terapi tripel dan terapi kuadrupel selama 1- 2 minggu :
Terapi tripel :
1. PPI(obat penghambat pompa proton seperti Omeprazol + amoksisilin + klaritromisin
2. PPI + metronidazol + klaritromisin
3. PPI + metronidazol + tetrasiklin
Terapi kuadrupel, bila tripel gagal :
1. Bismuth + PPI + amoksisilin + klaritromisin
2. Bismuth + PPI + metronidazol + klaritromisin
3. Bismuth + PPI + tetrasiklin + metronidazole (untuk daerah resistensi tinggi klaritromisin).
Namun kini tingkat resistensi metronidazol telah meningkat, maka kadang diganti dengan amoxicilin dalam terapi kombinasinya.
Di samping pengobatan di atas, Journal of Antimicrobial Chemotherapy tahun 2001 melaporkan peranan bakteri probiotik Lactobacillus gasseri (LG21) terhadap infeksi H plyori pada manusia yang secara nyata menekan infeksi. Hal ini tentu saja membuka peluang untuk diadakannya penelitian lebih lanjut mengenai probiotik ini dan probiotik lain untuk mencari pengobatan yang lebih alami.
Belum ada tanggapan untuk "PENGOBATAN, tak sekedar ANTASID ...."
Posting Komentar