Jika anda tertarik membaca tulisan ini, ada kemungkinan anda
sedang berpikir untuk memulakan suatu inovasi di daerah anda sendiri. Berikut
adalah beberapa tips yang mungkin bisa memberikan inspirasi dan memotivasi anda
untuk melaksanakan niat tersebut.
Apakah yang dimaksud
dengan “Replikasi” Inovasi?
Dalam istilah bahasa Indonesia replika berarti tiruan.
Replikasi artinya meniru. Istilah ini kadang mengandung konotasi “negatif”
yaitu melakukan duplikasi, repetisi, atau melakukan tindakan yang biasanya
hanya dilakukan oleh mereka yang malas, tidak kreatif, penyontek atau
pecundang. Padahal, dalam konteks kebijakan dan pelayanan publik, replikasi
adalah tindakan yang harus didorong agar reformasi terjadi secara lebih meluas
dan cepat. Dengan melakukan replikasi, terjadi akselerasi yang tidak semahal
jika perubahan dimulai dari nol. Kemungkinan sukses replikasi akan lebih besar
jika dibandingkan dengan memulakan suatu inisiatif baru tanpa referensi sama
sekali.
Inovasi sendiri paling sering diterjemahkan sebagai penemuan
baru. Aspek “kebaruan” dalam inovasi sangat ditekankan untuk inovasi di sektor
swasta atau di industri. Namun untuk inovasi di sektor publik, sesungguhnya inovasi
tidak menekankan aspek “kebaruan”, melainkan menekankan aspek “perbaikan” yang
akan dihasilkannya, misalnya pelayanan publik menjadi lebih berkualitas, murah
dan terjangkau. Kita tidak perlu menjadi
penemu (inventor) untuk menjadi inovatif. Karena inovasi adalah upaya untuk menerapkan
suatu gagasan yang sebagian besar justru sudah ditemukan orang lain atau pernah
diterapkan di daerah lain.
Ide-ide kreatif yang dikembangkan berbagai daerah yang
dianggap inovatif seperti Solo, Kebumen dan Parepare, misalnya, menunjukkan bahwa
yang penting bukan baru-tidaknya ide tersebut, tetapi apakah ide tersebut
merupakan solusi kreatif dari masalah yang dirasakan orang banyak dan apakah
ide tersebut bisa diaplikasikan.
Bagaimana Cara
melakukan Replikasi Inovasi?
Ada
beberapa langkah yang perlu dijalankan:
Mencari Referensi
Langkah pertama adalah mencari referensi. Bisa dilakukan
dengan melakukan penelusuran melalui internet. Ada beberapa websites yang menarik yang dapat
dijadikan acuan awal. Beberapa negara yang memiliki program pemberian
penghargaan (awards) kepada inovasi dalam kepemerintahan daerah biasanya
memiliki daftar studi kasus yang bisa diakses melalui internet. Cara termudah
adalah melihat koleksi YIPD melalui websitenya. Namun kita juga bisa mencari
referensi dari negara lain misalnya dari Ash Institute for Governance dari
Kennedy School of Government di Harvard
University. Kalau
pengalaman negara maju seperti Amerika dianggap kurang pas dengan daerah anda,
mungkin kita bisa belajar dari negara berkembang seperti Philippines atau Brazil.
Bagaimana dengan studi banding? Cara ini memang menarik dan
sudah banyak digunakan sebagai cara memperoleh referensi. Tapi bisa dipastikan
lebih dari 90% studi banding tidak
berujung pada replikasi. Studi banding memiliki efek besar untuk memberikan
motivasi. Tetapi studi banding yang paling baik adalah yang dilakukan justru
ketika niat sudah tertanam, dan rencana awal sudah tersusun sehingga peserta
memiliki kejelasan tentang pengetahuan dan informasi apa yang akan dipelajari
dari studi banding tersebut.
Suatu referensi yang baik bukan dinilai dari hebat tidak nya
gagasan tersebut, tetapi kesesuaian dengan masalah yang sedang dihadapi dan
perlu dipecahkan, dan tingkat kemungkinan untuk bisa diterapkan. Carilah
gagasan yang paling simpel, murah, dan mudah dilakukan namun diduga akan
memiliki efek perubahan yang signifikan.
Bisa jadi kita akan mereplikasi bulat-bulat suatu inovasi
yang sudah teruji di tempat lain, tapi biasanya kualitasnya akan mengalami
penurunan ketika diterapkan. Oleh sebab itu, buatlah modifikasi, tambahkan
komponen penting dan ide-ide kecil yang kreatif, atau jika perlu kombinasikan
beberapa gagasan menjadi satu gagasan yang lebih solid. Karena tidak ada hak
paten untuk inovasi, berarti anda bebas berkreasi!
Memformulasi gagasan
menjadi tindakan
Langkah kedua adalah bagaimana menerjemahkan ide menjadi sesuatu
yang praktis dan kongkrit, termasuk sumber daya apa yang diperlukan, berupa
dana, waktu, maupun tenaga. Formulasi yang baik akan menerangkan masalah yang
perlu dipecahkan, apa solusi yang ditawarkan, daftar langkah-langkah kegiatan
dan prosesnya, serta input dan dukungan yang diperlukan. Kemungkinan besar untuk
melakukan ini anda tidak bisa bekerja sendirian. Beberapa daerah memiliki
orang-orang yang sangat berbakat dan trampil untuk melakukan tugas ini. Mereka
seringkali adalah seseorang yang berada di eselon 3 birokrasi, aktivis LSM
setempat, aktivis media massa, konsultan, fasilitator, atau akademisi dari
perguruan tinggi sekitar. Kota Parepare, misalnya, memiliki Teamwork berjumlah
belasan orang dari berbagai disiplin ilmu yang siap setiap saat menerjemahkan
ide-ide dan kreasi yang akan diterapkan baik yang muncul dari kepala daerah
ataupun dari pihak-pihak lainnya. Sementara Kabupaten Bandung menggunakan bantuan
para aktivis muda yang idealis dari suatu lembaga yang bernama Perkumpulan
Inisiatif untuk menerjemahkan beberapa gagasan mereka.
Mencari dukungan dan
sumberdaya
Sumberdaya adalah sesuatu yang harus dicari jika suatu upaya
replikasi inovasi akan dilaksanakan. Salah satu alasan yang paling sering
dikemukakan mengapa suatu gagasan inovatif tersumbat adalah karena tidak ada
biaya. Anda beruntung jika daerah anda memiliki pundi-pundi “dana inovasi”,
atau jika ide yang sedang dikembangkan sudah dialokasikan dananya dalam APBD.
Jika tidak, masih ada kemungkinan untuk meraih sumberdaya dari luar misalnya
melakukan kerjasama dengan LSM dan lembaga donor. Carilah informasi LSM atau
donor mana yang memiliki interest untuk mendukung suatu topik inovasi. The Asia
Foundation, misalnya, kerap mendapatkan kunjungan dari pemerintah daerah yang
tertarik untuk mereplikasi penguatan One Stop Services atau pusat pelayanan
perijinan satu atap/satu pintu. Demikian juga dengan TIFA foundation, kerap
dikunjungi pemerintah daerah yang berniat mereplikasi inovasi pelayanan publik
dari Kabupaten Jembrana. Lembaga donor ini biasanya akan mencarikan mitra yang
akan memberikan asistensi teknis untuk membantu menyusun rencana dan
mengeksekusinya bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait.
Dukungan yang tidak kalah pentingnya dari dana adalah
dukungan teknis. Buatlah checklist keahlian dan bahan-bahan teknis apa yang
diperlukan. Carilah manual, panduan atau bahan-bahan pelatihan yang pernah
dibuat oleh pihak lain. Hindari tindakan me”reinvent
the wheel”. Jika perlu lakukan studi banding di tahap ini. Hubungi berbagai
asosiasi pemerintah daerah atau jaringan lain yang anda kenal. Undanglah para
pelaku utama (pelaksana) dari daerah asal inovasi untuk mengunjungi daerah anda
dan mintalah mereka untuk memberikan advis-advis praktis. Berdasarkan
pengalaman, biasanya orang-orang ini akan merasa bangga dan senang hati
melakukannya. Jika merasa cocok, buatlah
MOU kerjasama yang lebih formal dan jangka panjang dengan mereka. Beberapa
daerah sudah mencoba melakukannya.
Merespons resistensi
Salah satu ciri inovasi di sektor publik adalah aspek resiko
dan resistensi yang dihasilkannya. Resistensi tidak selalu (atau tidak hanya)
muncul dari kalangan birokrasi dan legislatif saja, tetapi bisa juga bisa
muncul dari sektor swasta (jika merasa bahwa lahan usaha mereka terganggu),
dari tokoh masyarakat, bahkan dari kelompok komunitas tertentu. Bagaimana kita merespons resistensi adalah
ketrampilan dan seni tersendiri yang perlu dipelajari. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, antara
lain adalah dengan mempersuasi melalui berbagai media yang dapat memberikan
keyakinan bahwa situasi baru yang akan terbangun akan menguntungkan. Jika perlu
gunakan hasil-hasil studi yang pernah dilakukan di kota lain tentang efek dari inovasi. Cara
lain adalah dengan merumuskan sistem insentif yang cukup jelas sejak awal dan
mencari win-win solution. Jika cara
ini tidak berjalan, efek pemaksaan bisa dihasilkan melalui terbitnya peraturan
tertulis, bisa berupa SK kepala daerah, bahkan bisa berupa Peraturan Daerah.
Cari juga peraturan-peraturan di tingkat nasional yang bisa menjadi legitimasi
inisiatif perubahan yang akan dilakukan. Jika perlu undanglah seseorang dari
instansi di tingkat pusat untuk membantu menjelaskan.
Mendokumentasi
Walaupun langkah mendokumentasi biasanya dilakukan sesudah
anda mengimplementasi suatu inisiatif, sesungguhnya proses dokumentasi yang
baik dirancang sejak awal. Setiap strategi dan tahapan yang diambil hendaknya dideskripsikan
dengan jelas sehingga suatu saat bisa dijadikan bahan refleksi apakah strategi
berjalan baik atau tidak. Misalnya, bagaimana studi banding yang efektif bisa
dilakukan, bagaimana cara merumuskan insentif dan peraturan yang baik. Jika
anda sulit melakukannya sendiri proses dokumentasi ini, undanglah mahasiswa
yang sedang melakukan tugas akhir atau kerja praktek untuk membantu. Atau
ajaklah lembaga penelitian independen dari LSM atau perguruan tinggi setempat
untuk melakukan penelitian tanpa harus didanai oleh anda. Coba pula pikirkan
untuk melakukan action research, yang
akan mengkaitkan riset dan aksi sebagai satu kesatuan.
Selain evolusi dari keseluruhan proses yang ada, hal
terpenting dalam dokumentasi adalah tentang
dampak. Pilihlah beberapa indikator hasil yang akan dibandingkan pada
saat sebelum dan sesudah replikasi berlangsung. Jangan terlalu menekankan
indikator yang besifat kuantitatif semata, namun masukkan juga indikator lain
seperti perbaikan kerjasama dan partnerships dengan civil society, tingkat
kesetaraan gender, peningkatan partisipasi kelompok marjinal, atau perbaikan
koordinasi antar instasi dan antar donor.
Mempublikasi
Cobalah publikasikan apa yang pernah anda coba lakukan dan
sertai penilaian anda sendiri tentang masalah yang dihadapi maupun dukungan apa
yang diperlukan agar suatu replikasi bisa berjalan dengan baik. Anda bisa
mempublikasikan melalui berbagai media termasuk surat kabar lokal. Efek publikasi akan
memberikan perasaan kepuasan tersendiri akan capaian yang sudah diperoleh dan
akan mengundang dukungan untuk inovasi lebih lanjut. Hindari publikasi yang
hanya menekankan pada peran individu (misalnya Bupati/Walikota) saja, karena kenyataannya
proses replikasi inovasi ini merupakan hasil kerja kolektif. Berikanlah penghargaan
pada setiap kontribusi.
Jika ada kesempatan, ikutkan inovasi yang anda lakukan dalam
kompetisi yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi, Pemerintah Pusat maupun
lembaga-lembaga independen yang memberikan Award terhadap inovasi. Menang kalah
bukan masalah.
Bersiap-siaplah, kemungkinan daerah anda akan dijadikan
referensi oleh daerah lain yang berniat mereplikasi gagasan serupa.
Belum ada tanggapan untuk "STRATEGI REPLIKASI INOVASI"
Posting Komentar