Pemberantasan vector adalah upaya mengendalikan vector dengan cara menurunkan populasi, mencegah gigitan nyamuk atau mengubah lingkungan sehingga tidak cocok untuk berkembang biak atau tempat istirahat vector. Tujuannya untuk mencegah atau menurunkan tingkat penularan chikungunya.
Kegiatan pemberantasan vektor chikungunya yang dapat dilaksanakan yaitu dengan cara pemberantasan jentik dan pemberantasan nyamuk dewasa.
Kegiatan pemberantasan vektor dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut (Depkes RI, 2005) :
a. Pemberantasan jentik
1). Cara Fisik
Cara ini lebih dikenal dengan istilah 3M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) yaitu dengan cara menguras bak mandi, menutup tempat-tempat penampungan air seperti tempayan, dan lain-lain, serta mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas seperti kaleng, ban bekas, botol,
pecahan piring atau gelas, tempat minum hewan peliharaan, vas atau pot bunga. Pengurasan tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali sebab daur hidup nyamuk 7-10 hari, serta membersihkan tumpukan daun yang ada di kebun-kebun setiap 7-10 hari.
2). Cara Biologi
Cara biologi ini dapat dilakukan dengan memelihara ikan pemakan jentik seperti ikan kepala timah, ikan gupi dan lain-lain.
3). Cara Kimia
Cara pemberantasan jentik Aedes Aegypti adalah dengan menggunakan racun pembasmi jentik (larvasida) ini dikenal dengan istilah abatesasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah temephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah berbentuk butiran pasir (sand granules). Dosis yang digunakan adalah 1 ppm atau 10 gram (± 1 sendok makan rata) untuk tiap 100 liter air. Abatesasi dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. Racun pembasmi jentik ini aman meskipun digunakan ditempat penampungan air (TPA) yang airnya jernih untuk mencuci atau air minum sehari-hari. Selain itu dapat digunakan pula racun pembasmi jentik yang lain seperti : bacillus thuringiensis var israeliensis (Bti) atau Altosit golongan insect growth regulator.
b. Pemberantasan Vektor
Cara pemberantasan vektor penyakit chikungunya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1). Dengan menggunakan Insektisida
Penggunaan insektisida yang biasa dipakai dalam pemberantasan vektor Chikungunya adalah jenis insektisida Malathion 96 EC, yang dilakukan dengan metode pengasapan thermal fogging dan pengasapan cold fogging atau ULV (Ultra Low Volume). Pengasapan thermal fogging sangat efektif dalam memutuskan mata rantai penularan, karena dapat mematikan semua jenis nyamuk dalam waktu singkat, dengan demikian penularan dapat diputuskan.
2). Tanpa menggunakan insektisida
Cara pemberantasan vektor penyakit chikungunya untuk jangka panjang adalah cara yang paling mudah dilakukan serta murah dan aman.
Cara ini lebih dikenal dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yaitu dengan melakukan hal-hal sebagai berikut (Depkes RI, 2005) :
a). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air bersih, misalnya tempayan, drum dan lain-lain
b). Menguras bak mandi dan tempat penampungan air bersih sekurang-kurangnya seminggu sekali, mengingat perkembangan telur menjadi nyamuk dewasa dalam waktu 7-10 hari
c). Membersihkan halaman rumah dari kaleng-kaleng bekas, ban bekas, botol bekas dan pecahan piring atau gelas serta lainnya yang dapat digunakan sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.
d). Memelihara ikan pemakan jentik dalam kolam-kolam ikan yang ada didalam maupun diluar rumah.
e). Membersihkan tumpukan daun yang ada di kebun-kebun setiap 7-10
hari.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk " Pemberantasan Vektor Chikungunya"
Posting Komentar