Tips Mengatasi Krisis Keuangan

Minggu, 13 April 2014
S. Bekti Istiyanto

Bapak Dua Anak Tinggal di Purwokerto

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sederhana dilontarkan istri kepada saya beberapa waktu lalu. “Bi, apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kenaikan berbagai harga-harga?” Pertanyaan yang tentu saja mempunyai banyak segi pembahasan. Bisa kita lihat dari sisi ‘seorang menteri keuangan’ yang pasti akan semakin membikin kening tambah berkerut bila anggaran yang ada tidak bertambah, bisa dari seorang kekasih yang meminta pertanggung jawaban akan bukti kasih sayang, seorang bawahan yang meminta perhatian lebih dan sangat mungkin Anda sendiri yang bisa mengartikulasikan dengan lebih banyak makna.

Saya sendiri melihat dengan minimal dua versi, pertama pertanyaan ini sendiri tidak membutuhkan jawaban kongkret, karena bisa dibelokkan dengan argumentasi seperti seorang ‘materialis’ yang ‘kurang percaya’ dengan prinsip bahwa rejeki sudah ditakdirkan dan pasti akan datang. Sehingga ada semacam upaya pembelaan bahwa yang mesti kita persiapkan adalah justru masalah ma’nawiyah yang lebih baik. Kedua, tentu saja ini juga termasuk masalah matematis yang membutuhkan jawaban tidak sekadar abstrak tapi juga angka-angka yang cukup realistis. Bukan berarti tidak percaya bahwa rejeki sudah terdaftar namanya tapi mesti ada upaya jelas bagaimana mengusahakan dan mendapatkannya. Tidak seperti seorang kawan mahasiswa saya, yang sebentar lagi mau lulus dan sudah berani melamar beberapa orang akhwat dan selalu mendapat jawaban negatif, baik dari orang tua akhwat ataupun dari akhwatnya sendiri, karena ketidak siapan secara realistis masalah nafkah. Beliau selalu berprinsip bahwa dengan bertawakkal pasti kemudahan dan juga rejeki akan segera datang. Kita tidak perlu mendiskusikan lebih lanjut makna tawakkal, karena ini bukan tempatnya. Tapi tentu saja -menurut saya- perlu dibutuhkan sebuah jawaban yang bisa menenangkan di tengah kondisi yang selalu membikin kita tidak tenang.

Kesiapan ruhiah dalam menghadapi segala masalah merupakan sebuah keharusan, tapi berpikir kongkret mencari solusi yang nyata juga merupakan sebuah bukti tanggung jawab. Tidak dengan maunya enaknya sendiri dengan menyerahkan segala sesuatu dengan jawaban pasti nanti ada jalan keluarnya. Kita semua, termasuk istri saya, sadar bahwa tambahan penghasilan di tengah saat-saat sulit seperti ini tentu bukanlah hal yang gampang. Bahkan dalam sebuah pengajian di masjid kampung saya pernah terceletuk dari seorang jama’ah bahwa sekarang ini mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal. Naudzubillah. Pernyataan tersebut mestinya tidak membuat kita pesimis dan minder menghadapi masalah ini. Walaupun kita harus jujur, seringkali pendapatan yang didapat pada kondisi dewasa ini tidaklah mesti sebanding dengan segala pengeluaran yang kita tanggung. Mesti begitu, ketidak kenalan kita untuk menyerah dalam berusaha dan selalu mencari celah-celah yang dapat kita manfaatkan mesti kita pertahankan.

Seorang kawan saya yang kebetulan mahasiswa sudah hampir menyerah dengan kondisi keuangan yang ada. Justru di tengah keterjepitanya tersebut muncullah sebuah ide brilian untuk menjadi ‘karyawan PJKA’. Bukan berarti melamar kerja di PJKA tapi beliau melihat peluang dengan menjual majalah bekas (sudah kadaluarsa waktu edarnya) dan juga souvenir lain di dalam kereta api. Beliau bisa mendapatkan Rp 5.000-15.000 per setengah jam sampai tiga jam karena memanfaatkan celah faktor keberuntungannya kenal dengan seorang distributor majalah dan souvenir yang dengan senang hati mau dibantu untuk dipasarkan kembali barang-barangnya. Saya sempet bertanya, “√Čnte nggak malu mahasiswa cukup elit di sini mau menjual majalah bekas?” dan jawabannya ternyata mengagetkan saya, ternyata malu itu cuma di awal, berikutnya yang ada hanya senang saja dan hilang rasa malu itu. Sekarang masalah keuangan sudah tidak menjadi berarti lagi, karena dengan penghasilan yang didapat beliau bahkan merasa bangga karena bisa melampui UMR lokal bila dibandingkan waktu kerja yang dibutuhkan. Ternyata malu ini masalah psikologis saja, ketika keberhasilan mendapatkan sesuatu itu sudah dirasakan, nilainya bisa mengalahkan masalah malu.

Kawan saya yang lain malah menjadikan ketiadaan modal sebagai faktor kebangkitan berusaha. Beliau adalah seorang perantau dari kota lain yang kemudian juga bisa memanfaatkan celah dan menjadikan sebagai usaha. Dalam pengamatannya beliau mendapatkan banyak keluarga yang paham Islam meragukan untuk membeli ayam potong yang ada. Akhirnya beliau menawarkan tenaganya –yang tanpa modal- untuk memasarkan ayam-ayam pedaging yang dipunyai kenalannya untuk dipotong secara Islami dan ditawarkan langsung ke rumah-rumah keluarga yang Islami tersebut. Dengan jaminan kesholehan dan pemahaman Islam yang dipunyai, usaha tersebut berkembang dan sekarang malah mulai kesulitan untuk memenuhi para pelanggannya.

Dua kisah ini menjadi ibrah buat saya karena pertama, rintisan usaha biasanya memang dimulai dengan kecanggungan dan rasa malu tapi seiring waktunya hal itu akan segera memudar bila terus menjalaninya. Kedua, cerdasnya seseorang dalam memanfaatkan peluang dan menjadikannya momentum kebangkitan buat dirinya bisa mendapat hasil yang optimal sesuai dengan yang diinginkan. Ketiga, kerja tidak mesti dengan hitungan angka-angka yang rumit dan mesti diimbuhi dengan modal awal, tapi kesungguhan, keuletan dan keberanian juga merupakan faktor penting lainnya. Keempat, seringkali dalam benak kita yang namanya usaha mestilah sekalian besar tanpa pernah berpikir bahwa banyak usaha besar justru dimulai dari yang kecil-kecil dan diremehkan orang. Kesiapan untuk berusaha dari yang kecil dan tidak dinilai harus mulai ditumbuh kembangkan karena sering kali yang tidak dianggap orang bahkan suatu saat menjadi sesuatu yang bernilai. Kelima, faktor kemandirian juga merupakan hal yang penting karena lebih baik jadi raja kecil daripada menjadi pelayan besar, karena walaupun besar toh tetap pelayan.

Kelima faktor tadi mestinya harus sudah diberikan bukan sekadar saat-saat sulit sekarang ini tapi juga harus sudah dirintis sedari kecil kepada anak-anak kita. Bagaimanapun seringkali pendidikan kita sekarang ini mewariskan jiwa-jiwa pengabdi (dalam bahasa kasarnya buruh) dan bukan sosok individu yang berani menampilkan kepribadian dan potensi yang dimiliki serta perbedaan dengan orang lain. Semua itu tentu saja sangat terkait dengan iktikat kita sebagai orang tua. Warisan nilai yang ditanamkan harus punya orientasi ke depan dan keluargalah yang sangat mempunyai peranan dominan di sana.

PEMBAGIAAN LIMA UNIVERSAL

Minggu, 06 April 2014
Masing-masing dari pahaman lima universal dibagi menjadi beberapa bagian:

1. Universal golongan, dibagi menjadi dua:


a. Universal golongan hakiki

Yaitu suatu golongan yang sesuai dengan definisi asalnya.

b. Universal golongan hubungan

Yaitu suatu universal zat yang dihubungkan dengan dan terletak di bawah

universal zat lainnya yang lebih luas. Misalnya manusia dan binatang, kalau

dihubungkan dengan universal zat lainnya yang lebih luas. Keduanya berupa

universal zat yang berada di bawah universal lainnya yang lebih luas, yang

dalam hal ini kepadanya kedua universal tersebut dihububngkan. Yaitu

menghubungkan manusia dengan binatang dan binatang dengan benda

berkembang. Dengan penghubungan ini, dan binatang menjadi sebagian dari

benda berkembang. Golongan hubungan, bisa jadi dai golongan hakiki – atau

bahkan dai jenis. Yang terpenting adalah bahwa ia – golongan hubungan – harus

berupa universal zat dan dihubunga\kan dengan universal zat lainnya yang lebih

luas. Oleh karena itu, hubungan antara golongan hakiki dan golongan

hububungan berupa hubungan umum dan khusus mutlak. Yakni universal

golongan hubungan lebih luas ketimbang golongan hakiki.



Golongan hubngan ini dibagi menjadi tiga:

(i) Golongan terendah ( golongan hakiki, golongannya golongan saafil ). Yaitu suatu golongan yang tidak ada golongan lagi di bawahnya. Misalnya Manusia.

(ii) Golongan tengah ( Mutawassith ). Yaitu suatu golongan yang di atas dan di bawahnya terdapat golongan. Misalnya binatang. Dibawh dan di atas binatang terdapat golongan lain,, yaitu manusia dan benda berkembang.

(iii) Golongan teratas ( 'Aliy ). Yaitu suatu golongan yang golongan lain hanya terdapat di bawahnya. Seperti benda. Di bawah benda terdapat golongan lain seperti benda berkembang, benda hidup ( binatang ) dan manusia. Sedang di atasnya tidak terdapat golongan. Sebab substansi[1], yang hanya satu-satunya di atas benda, hanya berupa jenis, alias tidak bisa berupa golongan sebagaimana benda, misalnya.


2. Universal Jenis, dibagi menjadi dua:



a. Universal Jenis Dekat ( Qarib )

Yaitu suatu jenis yang adanya – dalam urutan – langsung di atas golongan

yang diperhatikan. Baik golongan hakiki atau hubungan. Misalnya benda

cair terhadap golongan air, benda tak berkembang terhadap benda cair,

benda terhadap benda tidak berkembang, substansi terhadap benda dan

lain-lainnya. Lihat contoh grafik di bawah dengan mengambil benda cair

sebagai golongan yang diperhatikan.


b. Universal jenis Jauh ( Ba'id )

Yaitu suatu jenis yang adanya - dalam urutan – tidak langsung di atas

golongan yang diperhatikan. Baik golongan hakiki atau hubungan. Misalnya

benda tidak berkembang, benda dan substansi terhadap air. Atau benda dan

substansi terhadap benda cair dan lain-lain. Lihatlah contoh grafik di bawah

dengan mengambil benda cair sebagai golongan yang diperhatikan.


Perhatian!

Ada pembagian lain dalam membagi jenis, yaitu suatu pembagian yang

membagi jenis menjadi tiga bagian: Jenis terendah ( saafil, inferior genus ),

jenis tengah ( mutawassith, the intermediate genus ), dan jenis tertinggi (

jenisnya jenis, jenis 'aliy, jinsu ajnas, the higher genus ).



jenis terendah adalah jenis yang paling dekat dengan golongan hakiki; jenis

tertinggi adalah jenis yang paling jauh dari golongan hakiki; sedang jenis

pertengahan adalah di antara keduanya. Lihat diagram di bawah ini:



3. Universal Pembeda, dibagi menjadi dua:



a. Universal pembeda dekat ( Qarib )

Yaitu suatu pembeda yang membedakan golongan ( baik hakiki atau hubungan ) dari golongan yang lain yang bersatu dalam satu jenis, misalnya rasional. Ia membedakan manusia dari golongan lainnya seperti kuda harimau burung dan lain-lainyang bersatu dalam satu jenis yaitu binatang. Atau perasa yang menjadi pembeda bagi binatang.

b. Universal Pembeda jauh ( Ba'id )

Yaitu suatu pembeda yang dihubungkan dengan suatu golongan dari

jenisnya – baik yang jauh atau dekat – atau golongan hubungan yang ada

diatasnya. Misalnya perasaan – pembeds binatang – yang dihubungkan

dengan manusia, kuda, kucing dan lain-lain sebgai golongannya. Misalnya

dengan membuat proposisi "manusia adalah binatang perasa", bukan

"manusia adalah binatang rasional". Oleh karena itu, definisi tersebut –

manusia adalah binatang perasa – dikatakan definisi dengan jenis dekat (

binatang ) dan pembeda jauh ( perasa ). Lihat bagan dengan mengambil

manusia sebagai yang diperhatikan:


Tambahan

Pembeda mempunyai hubungan dengan jenis atau golongannya. Dengan kata lain,

kalau pembeda kita hubungkan dengan jenisdan golongannya, maka ia

mempunyai hubungan tersendiri. Kalau dihungkan dengan jenisnya, maka ia –

pembeda – menjadi pembaginya. Misalnya rasional terhadap binatang. Ia –

rasional – membagi binatang menjadi dua, yaitu binatang rasional dan tidak

rasional. Sementara kalau dihubungkan dengan golongannya, maka ia – pembeda

– menjadi asasnya. Misalnya, rasional terhadap manusia, ia – rasional – sebagai

salah satu asas manusia, sebb manusia adalah binatang rasional.



4. Dan 5. Universal ssifat khusus dan umum, dibagi menjadi dua:

a. Universal sifat lazim ( Lazim, concomitence )

Yaitu suatu pahaman universal yang secra akal tidak mungkin terpisah dari ekstensinya. Seperti ganjil dan genap untuk anka tiga dan empat, samanya jumlah sudut segiti tiga dengan jumlah dua sudut tegak lurus, universalnya manusia dan lain-lain. Sifat lazim ini dibagi menjadi tiga:

1. Lazim Dalam Wujud Luar ( khariji )

Yaitu yang kelazimannya hanya pada wujud luarnya saja. Seperti samanya jumlah sudut segi tiga dengan jumlah dua sudut tegak lurus. Sebab bisa saja orang membayangkan segi tiga tanpa membayangkan juga, atau mengetahui kesamaannya dengan jumlah sudut tegak lurus. Karena itu kesamaan tersebut tidak lazim di dalam akal.

2. Lazim Dalam Wujud Dalam ( Dzihni )

Yaitu yang kelazimannya hanya pada wujud dalam akal saja. Seperti

universalnya manusia, rasiona dan lain-lain, atau partikulirnya

pahaman Ahmad, budi, dan lain-lain.

3. Lazim Dalam Essensi ( Mahiyat, Essence )

Yaitu yang kelazimannya dalam wujud luar dan dalam. Seperti

ganjil genapnya angka tiga dan empat. Sebab, baik di luar maupun

di dalam akal,angka tiga dan empat, tetap melazimi ganjil dan

genap.

Dilihat dari jelas dan tidaknya, sifat lazim dibagi menjadi dua:

(1). Lazim jelas ( Bayyin, Clear )

Yaitu yang kelazimannya tidak memerlukan pembuktian dan

dalil. Lazim jelas dibagi menjadi dua:

a. Lazim jelas lebih khusus.

Yaitu yang hanya menggambarkan yang dilazimi, cukup menggambarkan lazim tersebut. Seperti genapnya empat, dengan hanya menggambarkan empat. Sebab dengan hanya menggambarkan empat sudah cukup untuk membayangkan genap.

b. Lazim Jelas lebih umum

Yaitu yang untuk meyakini atau mengetahui kelazimannya hanya diperlukan terlebih dahulu membayangkan yang dilazimi, lazim dan hubungan keduanya, dan tidak cukup hanya membayangkan yang dilazimi saja. Seperti dua adalah setengah dari empat. Pada contoh ini, kita cukup dengan hanya membayangkan dua, empat dan hubungan keduanya, untuk meyakini bahwa dua adalah setengan dari empat. Atau meyakini bahwa kelaziman lapar adalah makan, kita cukup membayangkan lapar, makan dan hubungan keduanya.


b. Universal Sifat Tidak Lazim ( Muftariq, separate )

Yaitu suatu pahaman universal yang secara akal bisadimungkinkan berpisah

dari ekstensinya. Seperti hitamnya orang negro, mudanya manusia,

gemetarnya orang yang terkkejut dan lain-lain.

Universal sifat tidak lazim dibagi menjadi dua:

1. Selamanya ( Daim, Permanent )

Yaitu suatu sifat yang selamanya melekat pada yang di sifati. Seperti

hitamnya orang negro ( tentu bagi yang berkulit hitam ). Sifat yang

dikategorikan sebagai sifat tidak lazim, karena secara akal ia bisa

berubah, walaupun pada kenyataannya tidak pernah berubah. Yakni akal

tidak melihat kemustahilan terhadap perubahan yang mungkin terjadi

pada sifat tersebut.

2. Sementara ( Ghairi daim, Unpermanent )

Yaitu suatu sifat yang tidak selamanya melekat pada yang disifati. Seperti

mudanya manusia, gemetarnya orang yang terkejut, dan lain-lain.

Universal Tidak Lazim "sementra" ini dibagi menjadi dua:
Lambat hilanya. Seperti mudanya manusia.
Cepat hilangnya. Seperti gemetarnya atau pucatnya orang yang terkejut atau ketakutan.


Lihat bagandi bawah ini:


19. Substnsi adalah lawan dari aksiden ( accident, sifat, 'aradh ). Yakni kalau ditemui di luar, ia tidak memerlukan subyek. Misalnya, manusia, pohon, gunung, air, ruh, malaikat dan lain-lain. Berbeda dengan aksiden yang memerlukan kapas, kapur, tulang, mata, kertas dan lain-lain, sebab tanpa semua itu putih tidak dapat eksis atau ditemui diluar (akal).Ringksnya, untuk menjadi eksis (wujud) substansi tidak berdiri di atas sesuatu yang lain, sedang sifat sebaiknya.

Definisi Ilmu dan logika

Selasa, 01 April 2014
Definisi Ilmu

Para ahli banyak berbeda pendapat dalam mendefinisikan ilmu. Perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan segi dalam melihat ilmu yang mereka definisikan. Namun, yang demikian itu tidak harus disebabkan oleh kerancuan pandangan dan pengertian – lihat definisi ilmu logika dan bab definisi. Dan para ahli itu sama-sama mengerti bahwa definisi mereka itu tidak bertentangan. Bahkan, ada yang menyatakan, dan ini yang paling kuat yang diikuti sampai sekarang, bahwa ilmu tidak bisa didefinisikan. Pernyataan yang dikemukakan oleh Mulla Shadra dan – setidaknya – Baba Afdhaluddin Kasyani. Karena pelanglangan kealam renungan perlu bekal yang cukup, maka komentar atas perbedaan pendapat itu kami tunda sampai pada kesempatan yang lain. Kemungkinan dalam mengenal filsafat, filsafat atau logika yang rinci. Bagi yang berminat untuk itu dan lain-lainnya kami anjurkan mengikuti terus pelajaran buku ini dengan seksama demi memperbanyak bekal seraya meminta ampun kepada Allah dan meningkatkan taqwa, demi membersihkan ruh kita dan mencapai yang kita cari – sebenarnya. Sebab yang kita cari bukan ilmu yang tertulis, melainkan ilmu yang didefinisikan oleh Imam Ali as bahwa, “Ilmu itu adalah cahaya yang Allah berikan dalam hati yang Ia kehendaki”. Sedangkan Allah berfirman, “Dan bertakwalah kamu kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu.”(QS. 2:282)

Baiklah, kita kembali ke masalah pokok kita mengenai definisi ilmu. Dengan penjelasan terdahulu dapatlah dengan mudah kita mendefinisikan ilmu sebagai “Adanya Gambar Sesuatu Dalam Akal”.


Penjelasan

Kata “gambar” dalam definisi di atas, menunjukkan bahwa ilmu yang kita definisikan adalah ilmu hushuli bukan khudhuri. Sebab ilmu juga terbagi menjadi hushuli dan khudhuri.



1. Hushuli adalah pengetahuan terhadap sesuatu yang didapat oleh akal melalui gambarnya, bukan dianya. Misalnya, ilmu kita tentang manis, putih, wangi, panas, bunyi mobil dll. Perlu diketahui bahwa gambar sesuatu di sini merupakan lawan dari sesuatu itu sendiri, bukan gambar pada kata “gambar dinding” misalnya.

2. khudhuri adalah pengetahuan tentang sesuatu yang didapat oleh akal melalui diri sesuatu itu sendiri. Bukan gambarannya. Misalnya, pengetahuan (ilmu) kita tentang keadaan jiwa kita sendiri, dari keberadaannya, senang-susahnya, benci-cintanya dst.


Definisi Ilmu Logika

Dengan uraian terdahulu dapatlah dipahami bahwa definisi ilmu logika adalah: Ilmu yang membahas aturan-aturan umum tentang kebenaran berpikir.

Kadangkala dalam mendefinisikan sesuatu, kita melihat zat-zat yang dimilikinya. Kemudian kita jadikan zat-zat tersebut sebagai definisi. Definisi yang demikian disebut “definisi dengan batasan penuh”. Namun, kadangkala kita melihat hal-hal diluar zatnya yang ia miliki secara khusus. Kemudian kita jadikan sebagai bagian dari definisinya. Definisi yang demikian ini disebut “definisi dengan gambaran penuh”. Untuk lebih jelasnya lihat bab definisi dari buku ini.

Maka dari itu dalam kitab-kitab ilmu ahli logika, dalam mendefinisikan ilmu logika terdapat perbedaan. Perbedaan itu ada karena adanya kelainan segi dalam memandang ilmu logika dan kelainan tujuan dari definisi masing-masing. Contoh, Syeikh Muzhaffar dalam mantiqnya mengatakan bahwa ilmu logika adalah: “Alat pengukur (penguji) yang dengan memperhatikannya terjagalah pikiran dari kesalahan”.

Ibnu Sina sendiri dalam beberapa bukunya mendefinisikan ilmu logika ini dengan beberapa definisi. Ia melakukannya dengan pandangan yang berbeda dari setiap sudut yang memungkinkan, dan dengan tujuan-tujuan tertentu pula. Karena buku ini merupakan pemula – yang kami beri nama Ringkasan Logika Muslim – maka walaupun banyak hal yang harus kami sajikan dalam masalah definisi ilmu logika ini, terpaksa tidak dapat kami lakukan. Mudah-mudahan buku lanjutan dari buku ini dapat menyajikannya kepada saudara-saudara sesuai dengan rencana kami, Insya Allah. Alhasil, - kecuali sebagian definisi yang mungkin memang salah – perbedaan definisi dalam mendefinisikan apa saja dalam kitab para ahli ilmu logika atau filsafat, tidak menunjukkan adanya kerancuan pandangan terhadap hakekat sesuatu yang mereka definisikan. Artinya, semua definisi itu sudah sesuai dengan syarat-syaratnya.
Hubungan Ilmu Logika Dengan Ilmu-ilmu Lainnya

Perbedaan pendapat terjadi di kalangan ahli ilmu logika baik muslin atau non muslim dalam memposisikan ilmu logika. Ada yang mengatakan sebagai ilmu tersendiri, dan ada yang mengatakan pula sebagai ilmu alat. Artinya, ilmu yang digunakan dan dipersiapkan untuk ilmu-ilmu lainnya. Semacam pisau, yang dibuat dengan tujuan sebagai alat memotong. Tetapi, ada juga yang memadukan keduanya, yaitu dari satu segi sebagai ilmu tersendiri (mustaqil) dan dari segi lain sebagai ilmu alat.

Pada hakekatnya pikiran ketiga inilah yang benar. Sebab tidak dilihat dari segi pembahasannya – logika – mengenai aturan-aturan umum berpikir; di sini pembahasannya tersendiri. Namun, dilihat dari segi kegunaan ilmu logika sebagai alat guna menarik kesimpulan-kesimpulan universal bagi setiap ilmu, maka ia sebagai ilmu alat.

Kesimpulnnya, di samping ilmu logika sebagai ilmu tersendiri, ia juga sebagai alat bagi ilmu-ilmu yang lain. Hal inilah yang mungkin ingin diterangkan oleh para ahli ilmu logika muslim, termasuk Al-Farabi dan Ibnu Sina, sehingga mereka dalam beberapa buku karangan mereka sendiri, disatu tempat dengan tempat yang lainnya, berbeda mendefinisikan logika, yakni di satu tempat mengatakan sebagai ilmu tersendiri, dan ditempat lain mengatakan sebagai ilmu alat. Hal mana akhirnya, menimbulkan istilah bahwa ilmu logika itu adalah “ilmunya ilmu”. Begitu juga dikalangan non muslim istilah ini ada dan tersebar, seperti yang dikatakan Francis Bacon, “L’art de tous les arts” – lihat halaman 487 dalam Cours de la Philosophie, karangan Lahr.

Kesimpulannya, di samping sebagai ilmu, yang pembahasannya tersendiri, ilmu logika juga sebagai alat bagi ilmu-ilmu yang lain, apapun bentuk dan rupa ilmu-ilmu itu. Baik geografi, fisika, matematika atau filsafat dll.

Di sinilah kita harus pandai-pandai menerapkan ilmu logika ini dalam disiplin ilmu apa saja. Sebab tujuan pokonya adalah meluruskan pikiran kita dalam memikirkan bermacam masalah dan keilmuan.

PEMBAHASAN LAFAZH (KATA)



Sebenarnya yang diperlukan dalam pembahasan ilmu logika adalah makna dari suatu kata, bukan kata-kata itu sendiri. Akan tetapi, kita perlu membahas kata-kata itu secara umum – tanpa melihat dari segi bahasa tertentu. Hal itu disebabkan, adanya kata-kata diperlukan untuk mencapai makna, dan dalam memahamkan sesuatu, satu sama lain di antara kita memerlukan kata-kata.

Tujuan lain yng lebih penting dari itu adalah agar kita mempunyai gambaran dan pengertian penuh atas hakekat dam posisi lafazh itu sendiri, sehingga dalam mencari hakekat (essensi) sesuatu atau mempercayai suatu proposisi universal kita tidak dipengaruhi oleh bentuk rupa dan indahnya. Bentuk dan rupa kata-kata bias beragam, bahkan mungkin berubah walaupun dalam satu bahasa tertentu. Maka seandainya makna – hakekat – sesuatu kita ukur dengan kata-kata, maka hakekat sesuatu itu juga bisa beragam. Padahal hakekat (essensi) setiap sesuatu harus satu dan tidak beragam.

Perlu diketahui, bahwa salah satu dari pembagian wujud, adalah wujud dibagi menjadi Wujud Hakiki dan Wujud Bukan Hakiki (I’tibari).

1. Wujud Hakiki



Yaitu kewujudan sesuatu yang tidak dibuat-buat. Wujud hakiki ini dibagi menjadi dua:

(i) Wujud luar akal

Wujud luar akal adalah wujud yang ada diluar akal, semacam langit, rumah, pena dll. Wujud ini disebut dengan “wujud luar”. Maka dari itu untuk menyelamatkan dari kerancuan pembahasan, kadangkala para ahli logika mengatakan “Rumah khariji” (“rumah luar” atau “rumah luar akal”).

(ii) Wujud dalam akal

Wujud dalam akal yaitu gambar-gambar dari “wujud luar” yang ada di dalam akal kita. Semacam gambaran (ilmu) akal tentang langit, rumah dll. Wujud ini disebut wujud dzihni (“wujud dalam” atau “wujud dalam akal”). Untuk membedakan dengan wujud luar, para ahli logika kadangkala mengatakan “rumah dzihni” (“rumah dalam” atau “ rumah dalam akal”).

2. Wujud Bukan Hakiki



Yaitu wujud yang dibuat-buat. Wujud ini juga dibagi menjadu dua:

(i) Wujud kata (Lafazh)

Manusia – satu sama lain – untuk mengutarakan pikiran dan keinginannya tidak bisa selalu membawa makna-makna alias wujud luar. Bahkan, kadangkala tidak mampu melakukannya – misalnya ingin mengatakan bahwa laut itu luas, sedang ia ditempat yang jauh dari laut. Maka, manusia perlu kepada sesuatu yang lain, demi memudahkan komunikasinya. Kekuatan fitrahnya telah membuat manusia mampu membuat sesuatu yang diperlukannya tersebut.

Hasil buatan manusia inilah yang disebut “kata”. Wujud ini adalah wujud yang dibuat-buat oleh manusia sesuai dengan kesepakatannya. Karena itulah hasil kesepakatan tersebut berbeda antara kelompok dengan kelompok yang lain.

Kesepakatan yang dibuatnya telah membuat “kata” mempunyai hubungan erat dengan maknanya. Sehingga, ketika kita mendengar katanya – misalnya, “langit” – seakan kita melihat makna yang dikandungnya itu sendiri. Jadi, kata-kata berfungsi mendatangkan makna dalam akal pendengarnya.

(ii) Wujud tulisan (Katbi)

Dengan kata – hasil penemuannya – manusia belum dapat mencukupi segala keperluan komunikasinya, karena kata-kata hanya dapat dipakai dalam komunikasi jarak dekat atau langsung, sedangkan komunikasi yang diperlukannya mencakup yang tidak langsung. Karena keperluannya itulah akhirnya manusia membuat lagi sesuatu yang baru untuk melambangkan – mewakili – kata-kata itu, sehingga akhirnya mencapai makna. Inilah yang disebut “tulisan”.

Jadi, untuk mengutarakan pikiran dan keinginannya yang tidak langsung – kepada yang jauh atau akan dating – manusia menggunakan tulisan untuk mendatangkan kata-kata, yang dengan kedatangan kata-kata tersebut akan datang pula makna yang diinginkannya pada akal pembaca tulisannya.
Dalil

Ketika anda melihat asap, pikiran anda beralih pada suatu wujud lain, yaitu api. Hal ini tidak lain karena asap itu merupakan petunjuk atau pendalil terhadap wujud api tersebut.

Dengan contoh diatas kita dapat memposisikan – mengkhususkan – masing-masing bagian pada kejadian itu dalam posisi berikut:

1. Asap berfungsi sebagai pendalil.

2. Api berfungsi sebagai yang didalili.

3. Tabiat (sifat) asap yang membawa akal kita kepada api disebut sebagai dalil.



Begitulah, setiap yang anda ketahui – baik dari penglihatan, pendengaran, penciuman dan lain-lain – yang dengan mengetahuinya akal anda berpindah darinya kepada suatu yang lain, kita katakana sebagai pendalil, dan yang anda ketahui berikutnya sebagai yang didalili atau yang ditunjuki, sedangkan sifat yang dimiliki – yaitu yang memindahkan akal kita kepada yang didalili disebut dalil.

Dengan demikian kita dapat mendefinisikan dalil sebagai: Sesuatu yang kalau diketahui, akal akan mengetahui sesuatu yang lain.


Pembagian Dalil

Sebab dari perpindahan akal di atas, adalah pengetahuan akal itu sendiri terhadap eratnya hubungan di dalam akal antara pendalil dan yang di dalili. Sedang keeratan itu sendiri disebabkan oleh pengetahuan akal tentang keeratan keduanya di luar akal.

Karena keeratan keduanya – pendalil dan yang didalili – bermacam-macam bentuknya, maka dalil dibagi menjadi tiga: Aqliyah (secara akal), Natural (Thabi’iyah) dan wadh’iyah (peletakan), dan masing-masing dibagi menjadi bersuara dan yang tidak.

1. Dalil Aqliyah – Secara Akal



Dalil aqliyah adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili, di luar akal, merupakan keeratan zati atau hakiki, seperti efek dan pengefek. Ketika kita melihat bekas tapak kaki atau rambu di jalan yang keduanya merupakan efek, akal kita berpindah darinya kepada suatu yang lain, yaitu adanya orang yang berjalan atau adanya pembuat rambu – yang keduanya sebagai pengefek.

Maka, bekas tapak kaki dan rambu befungsi sebagai pendalil terhadap adanya orang yang berjalan atau pembuat rambu, dengan dalil akal. Hasil dalil akal tidak bisa berbeda pada setiap orang. Dalil akal ini dibagi menjadi dua:

(i) Dalil aqliyah yang bersuara

Yaitu yang pendalilnya berupa suara atau bisa didengar. Seperti kalau kita mendengar suara orang berbicara di luar rumah yang tak nampak, kita dengan pendengaran tadi dapat mengetahui adanya orang yang berbicara di luar rumah tersebut.

(ii) Dalil aqliyah yang tak bersuara

Yaitu yang pendalilnya tidak berupa suara. Seperti bekas tapak kaki, dan rambu jalan pada contoh di atas.

2. Dalil Tabiat (Thabi’iyah, Natural)



Dalil natural adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili, di luar akal, merupakan keeratan yang sesuai dengan tabiat manusia. Seperti kalau kita mendengar kata “aduh”, akal kita berpindah darinya kepada suatu yang lain, misalnya orang yang mengucapkan kata tadi kesakitan atau keheranan dan lain-lain.

Hasil dalil tabiat bisa berbeda sesuai dengan natural atau kebiasaan masing-masing orang, kelompok, suku, atau bangsa. Seperti kata “ah” bagi bangsa kita Indonesia bermakna kesal, kecewa dll. Namun, bagi orang Arab bermakna atau menunjukkan rasa sakit.

Dalil tabiat ini dibagi menjadi dua:

(i) Dalil tabiat yang bersuara

Yaitu yang pendalilnya berupa suara. Seperti “aduh” pada contoh di atas.

(ii) Dalil tabiat yang tidak bersuara

Yaitu yang pendalilnya tidak bersuara, seperti pucat pada wajah, yang bermakna orang tersebut malu, takut dan lain-lain.

3. Dalil Peletakan (Wadh’iyah)



Dalil peletakan adalah kalau keeratan antara pendalil dan yang didalili merupakan keeratan yang timbul karena pengistilahan atau peletakan, yang menjadikan adanya salah satu dari keduanya – pendalil – sebagai dalil terhadap wujud yang lain – yang didalili. Seperti kata “buku” mempunyai hubungan erat dengan maknanya karena peletakan, bukan hubungan hakiki atau natural. Dengan dasar bersuara atau tidaknya dalil ini juga dibagi menjadi dua:

(i) Dalil peletakan yang bersuara, yaitu yang pendalilnya berupa suara. Semacam kata “buku” pada contoh di atas.

(ii) Dalil peletakan yang tidak bersuara, yaitu yang pendalilnya tidak berupa suara. Semacam kata “buku” yang dituliskan , atau semacam rambu jalan, misalnya penunjukan tanda berhenti, belok kanan, dan lain-lainnya.


Peringatan!

Dengan melihat rambu-rambu jalan, kita dapat mengetahui dua hal. Pertama, kita mengetahui bahwa ada orang yang membuat rambu-rambu tersebut. Dalil yang demikian adalah dalil aqli.

Kedua, kita mengetahui bahwa kita disuruh berhenti atau belok kanan, misalnya. Maka dalil ini adalah dalil peletakan.
Dalil Kata Peletakan

Dengan penjelasan terdahulu dapat dipahami bahwa perpindahan akal dari suatu kata kepada maknanya – pada dalil peletakan – terjadi karena hubungan yang sangat erat antara keduanya. Sehingga kalau kita mendengar katanya seakan kita melihat maknanya. Begitu pula kalau kita melihat maknanya seakan datang pula kata itu pada pikiran kita. Perpindahan itu bisa terjadi hanya pada akal yang mengetahui hubungan keduanya.

Dengan demikian kita dapat mendefinisikan bahwa dalil kata peletakan (wadh’iyah) – yang bersuara atau tidak – adalah “Suatu kata yang dengan mengetahuinya dari pembicara atau penulis – dapat mengetahui makna yang dimaksud.
Pembagian Dalil Kata

Dilihat dari segi cocok tidaknya suatu kata pada maknanya, kata dibagi menjadi tiga:

1. Dalil kata cocok (muthabiqiyah)

Dalil kata cocok adalah kata yang menjadi pendalil terhadap seluruh makna yang memang telah diletakkan semula. Seperti, pendalilan kata “buku” terhadap seluruh maknanya. Maka masuklah kulitnya, tulisan atau gambarnya, dan seluruh kertasnya.

“Dalil cocok” ini sebenarnya merupakan asal dari peletakan suatu kata. Sedangkan kedua dan ketiga dalam pembagian berikut merupakan cabang dari dalil cocok ini.

2. Dalil kandungan atau bagian (tadhamuniyah, implication)

Dalil kata kandungan adalah kata yang menjadi pendalil terhadap sebagian makna awal. Misalnya pada kalimat “buku anda merah”, kata “buku” hanya menjadi pendalil terhadap kulitnya saja.

3. Dalil kata kelaziman (iltizam, concomitance)

Dalil kata kelaziman adalah kata yang menjadi pendalil terhadap suatu makna yang bukan maknanya, baik cocok atau bagian, namun merupakan kalaziman makna asalnya. Seperti pendalilan kata air terhadap gelas pada kalimat, “berilah aku air”.

Syarat-syarat dalil kata kelaziman antara lain:

1. Kelaziman antara arti kata dan arti kelazimannya merupakan kelaziman dalam akal. Jadi, kelaziman keduanya tidak boleh hanya di luar akal.

2. Kelaziman antara keduanya harus merupakan kelaziman yang jelas; yakni begitu menggambarkan makna pertama, ia – akal – langsung dapat menggambarkan makna kedua yang menjadi kelazimannya.

TRUTH TABLE

Minggu, 23 Maret 2014
Truth table is a table showing a possible combinations of the variables in an expression in symbolic logic and their resulting truth or falsity.

The English word “And” and “Or” correspond (roughly) to logical connectives. Connectives provide a way of joining simple propositions to form complex propositions.

A logical analysis must state exactly how joining propositions by means of a connective affects the truth of the complex propositions so formed.




LOGICAL CONNECTIVES

q Conjunction (‘And’) Joining two statements, pieces of information

1. p (premises) - Jhon likes mango 

q (premises) - Jhon likes orange 

p& q (conclusion) - Jhon likes mango and orange ( T )


2. p& q (premises) - Jhon likes mango and orange

p (conclusion) - Jhon likes mango ( T )



3. p (premises) - Jhon likes mango

p& q (conclusion) - Jhon likes mango and orange ( F) 


Feedback :

1. (T) Because we can see from the premises that John likes mango, John likes orange so, we can conclude that John likes mango and orange. 
(T) Because one can legitimacy conclude for example that John likes mango from the premises John like mango and orange. 
(F) Because one cannot draw the conclusion that John likes mango and orange from the premises John likes mango.
Truth Table “And”
p
q
p & q
John likes mango
(T)

John likes orange
(T)

John likes mango and orange
(T)
John likes mango
(T)
John likes orange
(F)

John likes mango and orange
(F)
John likes mango
(F)

John likes orange
(T)
John likes mango and orange
(F)

John likes mango
(F)
John likes orange
(F)
John likes mango and orange
(F)

q Disjunction (“or”)           is used to show an alternatives

Truth Table “or”

No
p
q
P V q
1
Rina read
(T)
Billy wrote
(T)
Rina read or Billy wrote
( T)
2
Rina read
(T)

Billy wrote
(F)
Rina read or Billy wrote
( T)
3
Rina read
(F)
Billy wrote
(T)
Rina read or Billy wrote
( T)
4
Rina read
(F)
Billy wrote
(F)

Rina read or Billy wrote
(F)



Feedback :

1.Because the truth values come from the truth values of their constituent simple propositions.

2.The values T and F which appear in truth tables are same values as the assigned to simple proposition in relation to the situation in the world.

3.The values F and T which appear in truth tables are same values as the assigned to simple proposition in relation to the situation in the world.

4.Because they don’t have constituent simple propositions.

 

Ramalan Hari Ini | Horoskop | Shio Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger