A. Gejala Klinis
• Non spesifik dan mungkin minimal walaupun terjadi hipoksemia, hiperkarbia dan asidemia berat.
• Tanda utama kecapaian pernafasan:
– penggunaan otot bantu nafas, gerakan abdomen paradoksal
– takipnea, takikardia,
– tidal volume ↓,
– pola nafas ireguler atau gasping
– gerakan abdomen paradoksal.
• Hipoksemia akut à aritmia jantung & koma
• Hiperkapnia à asidemia à peningkatan drive ventilasi à kapasitas buffer di otak ↑ à penurunan rangsangan pH di otak à drive ↓
• Asidemia hebat (pH < 7,3) à vasokontriksi arteriolar paru, dilatasi vaskuler sistemik, kontraktilitas miokard menurun, hiperkalemia, hipotensi & kepekaan jantung ↑ à aritmia
B. Pemeriksaan Penunjang
• Analisa gas darah
• Evaluasi fungsi neuromuskular à pola pernafasan dan uji fungsi paru
• Perhitungan fraksi dead space dan produksi CO2
C. Terapi
• Pemberian O2
– Peningkatan fraksi O2 à memperbaiki PaO2 sampai 60-80 mmHg cukup untuk oksigenasi jaringan dan mencegah hipertensi pulmonal.
– Pemberian O2 berlebih à memperberat hiperkapnia
• Menurunkan kebutuhan oksigen dengan memperbaiki & mengobati febris, agitasi, infeksi, sepsis, dll. Usahakan Hb 10-12 g/dl
• Tekanan positif seperti CPAP, BiPAP dan PEEP
• Perbaiki elektrolit, balans pH, barotrauma, infeksi dan komplikasi iatrogenik
• Atasi atau cegah terjadinya atelektasis, overload cairan, bronkospasme, peningkatan sekret trakeobronkial, dan infeksi
• Kortikosteroid jarang diberikan secara rutin
• Perubahan posisi tiduran à meningkatkan volume paru = 5-12 cm H2O PEEP
• Posisi Prone baik untuk penderita ARDS.
• Drainase sekret trakeobronkial yg kental : mukolitik, hidrasi cukup, humidifikasi udara yg dihirup, perkusi, vibrasi dada & latihan batuk efektif.
• Pemberian antibiotika untuk mengatasi infeksi
• Bronkodilator jika timbul bronkospasme
• Intubasi dan ventilator jika terjadi asidemia, hipoksemia & disfungsi sirkulasi progresif
BRONKITIS AKUT
= proses radang akut yang pada umumnya disebabkan oleh virus. Akhir – akhir ini ternyata banyak juga disebabkan oleh Mycoplasma dan Chlamydia.
A. Gejala Klinis
- Batuk-batuk
- biasanya dahak jernih
- sakit tenggorok
- nyeri dada
- biasa disertai tanda bronkospasme.
- Demam tidak terlalu tinggi.
B. Pemeriksaan Penunjang
- Foto rontgen toraks, untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia atau tuberculosis. Pada bronchitis akut tidak terlihat kelainan di foto thorax
- Pemeriksaan serologi untuk melihat infeksi Mycoplasma atau Chlamydia
C. Diagnosis Banding: Pneumonia, Tuberkulosis.
D. Terapi
- Simtomatis bila disebabkan virus.
- Bila infeksi karena Mycoplasma atau Chlamydia dapat diberi :
§ Tetrasiklin 4 x 500 mg atau
§ Doksisiklin 2 x 100 mg atau
§ Eritromisin 4 x 500 mg
EMPIEMA
è infeksi yang disertai penggumpalan nanah di dalam rongga pleura
A. Anamnesis
- Batuk-batuk
- demam
- sesak napas.
B. Pemeriksaan Fisik
- Sisi yang sakit lebih cembung, tertinggal pada pernapasan
- perkusi pekak
- mediastinum terdorong ke sisi yang sehat
- suara napas melemah.
- Pada empiema yang kronis hemitoraks yang sakit mungkin sudah mengecil karena terbentuknya schwarte.
C. Pemeriksaan Penunjang
- Foto toraks
- Pungsi pleura untuk menentukan penyebabnya, apakah kuman, parasit atau jamur.
D. Diagnosis Banding
- Pleuritis eksudativa
- Abses
- Tumor
E. Terapi
- Drainase nanah dengan WSD yang cukup besar agar nanah keluar dengan lancar.
- Bila nanah kental dilakukan pencucian rongga pleura dengan larutan NaCL 0.9 % 500 ml ditambah dengan 25 ml larutan povidon iodine (betadine solution) setiap hari sampai rongga pleura bersih.
- Antibiotik sesuai kuman penyebabnya.
- Bila dalam 2 minggu tidak membaik perlu dilakukan tindakan operasi.
Belum ada tanggapan untuk "GAGAL NAFAS "
Posting Komentar