Pada tahun
1799 kimiawan Prancis, Joseph Proust, melalui berbagai percobaan menemukan
suatu ketetapan yang dikenl dengan hukum Proust, yaitu sebagai berikut.
“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk
senyawa selalu tetap, sekali pun dibuat dengan cara yang berbeda”
Pada waktu itu Proust menemukan
bahwa tembaga karbonat, baik dari sumber alami
maupun sintetis di laboratorium mempunyai susunan yang tetap.
Untuk menentukan susunan suatu
senyawa, kita dapat menguraikan suatu contoh senyawa yang telah kita timbang,
kemudian senyawa-senyawa itu diuraikan menjadi unsure-unsurnya. Masing-masing
unsur pembentuk senyawa itu kita timbang, ternyata diperoleh suatu perbandingan
tertentu. Jika hal tersebut diulang-ulang, maka akan diperoleh perbandingan
yang sama. Metode lain juga dapat dilakukan, yaitu dengan menimbang massa
senyawa yang terbentuk dari persenyawaan unsur-unsur yang masing-masing unsur
tersebut massanya diketahui. Dari sekian banyak eksperimen mengenai susunan
unsure dalam senyawa, selalu menghasilkan pernyataan berikut.
“Suatu senyawa murni selalu tersusun
dari unsur-unsur yang tetap dengan perbandingan massa yang tetap.”
Contoh :
S(s)
+ O2(g) → SO2(g)
Perbandingan
massa S terhadap massa O2 untuk membentuk SO2 adalah 32
gram S berbanding 32 gram O2 atau 1 : 1. Hal ini berarti, setiap
satu gram S tepat bereaksi dengan satu gram O2 membentuk 2 gram SO2.
Jika disediakan 50 gram S, dibutuhkan 50 graM O2 untuk membentuk 100
gra- SO2.
H2(g)
+ ½ O2(g) → H2O(l)
Perbandingan
massa H2 terhadap massa O2 untuk membentuk H2O
adalah 2 gram H2 berbanding 16 gram gram O2 atau 1 2 8.
Hal ini berarti, Setiap satu gram H2 tepat bereaKsi dengan 8 gram O2
lembentuk 9 gram H2O. Jika disediakan 24 gram O2, dibutuhkan
1 gram H2 untuk membentuk 27 gram H2O.
2.
HUKUM
PERBANDINGAN BERGANDA
Ketertarikan
John Dalton mempelajari dua unsur yang dapat membentuk lebih dari satu senyawa
ternyata Menghasilkan suatu kesimpulan yang disebut hukum perbandingan
berganda:
’’Bila dua unsur dapat membentuk
lebih dari satu senyawa, maka perbandingan massa unsur yang satu, yang bersenyawa dengan
unsur lain yang tertentu massanya
merupakan bilangan bulat dan sederhana’’.
Sebagai contoh yaitu tembaga dengan oksigen,karbon dengan
oksigen, belerang dengan oksieen, dan fosfor dengan klor. Perbandingan massa
kedua unsur tersebut adalah sebagai berikut.
1
Tembaga dan oksigen membentuk dua senyawa tembaga
oksida.
tembaga oksida
tembaga oksigen tembaga : oksigen
I 88,8% 11,2% 1
: 0,126
I 79,9% 20,1% 1
: 0,252
2
Karbon
dan oksigen dapat membentuk dua senyawa
Karbon + oksigen → Karbon
monoksida (I)
Karbon + oksigen → Karbon diosida (II)
senyawa
karbon oksigen karbon : oksigen
I
42,8% 57,2% 1 : 1,33
II
27,3% 72,7% 1 : 2,67
3
Sulfur (belerang) dengan oksigan dapat
membentuk dua senyawa oksigen, yaitu sulfur oksida (I) dan sulfur trioksida
(II)
senyawa belerang oksigen belerang : oksigen
I 50% 50% 1 : 1
II 40% 60% 1 : 1,5
Sampai kini hukum
ini masih dapat diterima, tetapi perlu dikoreksi mengenai bilangan sederhana.
Jika perbandingan itu bilangan sederhana (1, 2, 3, 4, 5) berarti rumus senyawa
juga sederhana, seperti H2O,
CO2,
dan H2SO4. Akan tetapi kini
ditemukan senyawa dengan bilangan besar, seperti sukrosa dan asam arakidonat.
3. HUKUM
PERBANDINGAN VOLUME
Hubungan antara volume-volume dari gas-gas dalam reaksi
kimia telah diselidiki oleh Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Pada
penelitian itu ditemukan bahwa pada suhu dan tekanan tetap, setiap satu volume
gas oksigen akan bereaksi dengan dua volume gas hidrogen menghasilkan dua
volume uap air, dengan demikian perbandingan antara volume hidrogen, volume
oksigen dan volume uap air berurut adalah 2:1:2. Contoh lain : satu volume gas
hidrogen akan bereaksi dengan satu volume gas klor menghasilkan dua volume gas
hidrogen klorida; perbandingan volume hidrogen, volume klor dan volume hidrogen
klorida berurut adalah 1:1:2. Pada reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen
membentuk gas amonik, maka perbandingan volume dari ketiga gas itu berturut
adalah 1:3:2 (N2 : H2 : NH3).
Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa:
“pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume
gas pereaksi dengan volume gas hasil reaksi merupakan bilangan bulat dan
sederhana (sama dengan perbandingan koefisien reaksinya)”
Contoh :
N2(g) + 3 H2(g) → 2
NH3(g)
Perbandingan
volume gas sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini berarti,
setiap 1 mL gas N2 tepat bereaksi dengan 3 mL gas H2
membentuk 2 mL gas NH3. Dengan demikian, untuk memperoleh 50 L gas
NH3, dibutuhkan 25 L gas N2 dan 75 L gas H2.
CO(g) + H2O(g) →
CO2(g) + H2(g)
Perbandingan
volume gas sama dengan perbandingan koefisien reaksinya. Hal ini berarti,
setiap 1 mL gas CO tepat bereaksi dengan 1 mL gas H2O membentuk 1 mL
gas CO2 dan 1 mL gas H2. Dengan demikian, sebanyak 4 L
gas CO membutuhkan 4 L gas H2O untuk membentuk 4 L gas CO2
dan 4 L gas H2.
Belum ada tanggapan untuk " HUKUM PROUST ATAU HUKUM PERBANDINGAN TETAP"
Posting Komentar