Diabetes melitus yang tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan stres oksidatif, dimana produksi radikal bebas (oksidan) yang melebihi kemampuan antioksidan tubuh untuk meredamnya (Syafril S, 2000). Kerusakan oksidatif akan membentuk hasil akhir berupa MDA, 9-hidroksi nonenal, peroksida, dan bermacam-macam senyawa hidrokarbon yang toksik terhadap sel (Suryohudoyo, 2000). MDA merupakan salah satu produk final dari lipid peroksida dan parameter yang mudah terdeteksi.
Penelitian yang dilakukan terhadap 12 ekor tikus dan dibagi menjadi 3 kelompok , yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif DM akibat pemberian aloksan, dan kelompok yang menderita DM akibat pemberian aloksan yang diberikan ekstrak mengkudu (500 mg/kgBB) secara oral selama 12 hari berturut-turut.
Berdasarkan pada tabel 5.1. tampak bahwa kadar rata-rata MDA darah kelompok kontrol negatif adalah 4,261±0,427 nmol/ml dan kelompok kontrol negatif merupakan kelompok dengan kadar rata-rata MDA darah terendah. Hal ini menunjukkan kadar MDA darah dalam batas normal karena pada kelompok ini tikus tidak diberi perlakuan. Berdasarkan tabel 5.3. rata-rata aktivitas katalase kelompok kontrol negatif adalah 6,580 ± 0,277 unit/mg dan merupakan rata-rata aktifitas katalase dalam batas normal karena pada kelompok ini tikus tidak diberi perlakuan.
Berdasarkan tabel 5.1. kadar rata-rata MDA darah kelompok kontrol positif adalah 5,605±0,391 nmol/ml dan kelompok kontrol positif merupakan kelompok dengan kadar rata-rata MDA darah tertinggi. Hal ini disebabkan pada kelompok kontrol positif diinduksi aloksan sehingga menyebabkan rusaknya sel beta pankreas. Rusaknya sel beta pankreas mengakibatkan terjadinya hiperglikemia yang mengakibatkan peningkatan produksi radikal bebas melalui tiga mekanisme, yaitu peningkatan aktivitas jalur poliol, glukoautooksidasi, dan glikasi protein. (Bartosikova et al, 2003;Syafril S, 2000). Peningkatan produksi radikal bebas yang menyerang membran sel akan menghasilkan MDA (Malondialdehid) dalam jumlah yang banyak. Hasil penelitian terhadap aktivitas katalase pada kontrol positif (tabel 5.3), didapatkan rata-rata aktivitas katalase kelompok kontrol positif adalah 4,954 ± 0,485 unit/mg. Hasil ini menunjukkan rata-rata aktivitas katalase yang terendah dibandingkan dua kelompok lainnya. Hal ini disebabkan sel beta pankreas sangat rentan terhadap kerusakan akibat radikal bebas karena sistem pertahanan antioksidan tubuh seperti katalase, Super Oksida Dismutase (SOD), dan Glutation peroksidase (Gpx) menurun pada keadaan diabetes (Srinivasan et al., 2003).
Berdasarkan tabel 5.1 pada kelompok perlakuan yang diinduksi aloksan dan diberi ekstrak mengkudu dengan dosis 500 mg/Kg BB/hari selama 12 hari, didapatkan rata-rata kadar MDA darah adalah 4,679±0,400 nmol/ml. Hasil ini lebih rendah dari kelompok kontrol positif yang diinduksi aloksan dan terdapat perbedaan bermakna dengan kelompok kontrol positif (p<0 0="" 12="" 4="" 5.3.="" 6="" adalah="" aktivitas="" ampiran="" bahwa="" bb="" bermakna="" dan="" dapat="" darah="" dari="" dengan="" div="" dm="" ekstrak="" hal="" hari="" hasil="" ini="" kadar="" katalase.="" katalase="" kelompok="" kg="" kontrol="" lebih="" mda="" mengkudu="" meningkatkan="" menunjukkan="" menurunkan="" mg.="" mg="" nbsp="" oral="" p="" pada="" pemberian="" penelitian="" perbedaan="" perlakuan="" positif="" rata-rata="" secara="" selama="" signifikan="" tabel="" terdapat="" terhadap="" tikus="" tinggi="" unit="">
Penurunan kadar MDA darah dan peningkatan aktivitas katalase pada kelompok perlakuan di atas disebabkan pengaruh ekstrak mengkudu yang berfungsi sebagai antioksidan. Ekstrak mengkudu mengandung berbagai zat aktif yang berperan penting untuk antioksidan, yaitu vitamin A, vitamin C, Selenium dan Fe (Christina W,2005). Vitamin A dalam bentuk betakaroten berperan menangkap radikal bebas peroksi di dalam jaringan pada tekanan parsial oksigen yang rendah (Mayes PA, 2003). Vitamin C berperan menekan proses aktivasi jalur poliol dan glikasi protein pada penderita diabetes melitus sehingga produksi radikal bebas menjadi berkurang (Iqbal K, 2004; Yudkin, John S, 1992). Selenium berperan mengaktifkan glutation peroksidase yang dapat menetralisir hidrogen peroksida menjadi air sehingga dapat mengurangi radikal bebas (Kusnindar A, Mitra R, 2003). Fe berperan penting untuk mengaktifkan beberapa enzim di dalam tubuh termasuk enzim antioksidan. Semua antioksidan yang terdapat dalam ekstrak mengkudu di atas bekerja sinergis untuk meredam radikal bebas pada diabetes melitus. Peran katalase sebagai antioksidan adalah menguraikan H

O

menjadi H

O dan O

. Jadi kalau aktivitas katalase rendah maka H

O

akan diuraikan menjadi radikal hidroksil (·OH) yang sangat toksik terhadap jaringan.
Penelitian yang dilakukan Suweino dkk menemukan bahwa pemberian sari buah mengkudu pada tikus yang dipapari CCl

dapat menurunkan kadar MDA plasma dan MDA hati tikus dibanding kelompok yang dipapari CCl

tanpa diberi sari buah mengkudu (Suweino dkk, 2004). Penelitian yang dilakukan Padoli menemukan bahwa pemberian ekstrak buah mengkudu pada tikus dewasa yang diinduksi aloksan dapat menurunkan kadar MDA darah dan meningkatkan aktivitas Superoksida Dismutase (Padoli, 2007).
Berdasarkan penelitian peneliti dan peneliti di atas dapat disimpulkan bahwa stres oksidatif pada diabetes melitus dapat diatasi dengan pemberian ekstrak mengkudu yang dapat dilihat dari penurunan kadar MDA darah dan peningkatan aktivitas katalase kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol positif. Dengan demikian dapat juga disimpulkan bahwa ekstrak mengkudu dapat meredam aktivitas radikal bebas yang dipicu stres oksidatif akibat induksi aloksan.
0>
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "CARA ATASI DIABETES DENGAN BUAH EKSTRAK MENGKUDU"
Posting Komentar