Selasa, 16 Juli 2013

Musik Dan Metode

Bintang Tidak Bersinar Sendiri, Campur Tangan Para Kreator Busana 



(A+, March06) 


Musik & mode. Dua dunia yang tidak dapat dipisahkan. Saling memberi gairah sambil melahirkan sinestis yang menandai sepenggal identitas. Dimulai dari masalah sepotong busana yang menempel di badan, para musisi ini tidak main-main. Mereka tahu betul bahwa persoalan kemasan merupakan cara jitu meminang hati penggemar. Beruntung bagi mereka yang memang mempunyai kualitas bermusik sebesar nyali berbusananya. Tapi bagi mereka yang bertalenta pas-pasan, bergaya hiperbola dapat menjadi dongkrak yang menjanjikan limpahan kuota popularitas. 

Di era sadar-gaya ini, apa yang dikenakan para musisi sama pentingnya dengan apa yang dinyanyikannya. Hubungan simbiosis ini naik pangkat saat Metropolitan Museum of 


Art’s Costume Institute bekerja sama dengan the Rock and Roll Hall of Fame membuat pameran Rock Style pada tahun 1999. Lima kategori dilegalkan untuk membedah tampilan para musisi: the icons, Poets & Dreamers, Brilliant Disguise, Rebels, dan High Style. Bisa ditebak, pameran yang disponsori Tommy Hilfiger ini menjajakan nama-nama pemusik legendaris macam the Beatles, Janis Joplin, Axl Rose, dan Tina Turner, untuk mengisi labirin konformitas. 

Memang tidak ada habisnya membedah busana panggung para bintang. Ibarat membuka lemari ajaib yang berisi tumpukan saksi perjalanan suatu era. Semua berusaha meninggalkan jejak yang cukup dalam untuk dikenang. Namun ada beberapa nama yang pantas diinjeksi ke dalam memori. Karena bukan hanya menampilkan suguhan kostum yang luar biasa, bersama dengan kreator busana tersebut, mereka berhasil mengunci citra yang melekat di dingatan begitu kita menyebut soal dandanan fenomenal di dalam maupun luar panggung. 


Waktu Musik & Fashion Tabrakan (Juice, Feb 07) 


Musik sudah sukses menancapkan jejak di dunia fashion. Salut untuk ikon-ikon yang sudah memberi pengaruh ke berbagai generasi, musik dan gaya yang mereka tampilin dari grunge, geek, rock, sampe ke glam. Meski bukan suara mereka, tapi penampilan mereka membuat dunia fashion lebih semarak. 

Glam Rock : Viva la Glam; Apa jadinya kita tanpa Inggris? Bayangkan kita tanpa David Bowie, T Rex, dan Gary Glitter. Dengan dandanan yang mengkilap, kostum flamboyan, mereka ngajarin revolusi remaja, seksualitas, kemunduran, dan ketenaran. Mereka adalah 



tampilan Glam Rock yang benar-benar mengejutkan masyarakat. Semuanya dimulai dengan Marc Bolan dari T Rex dan korban rambut besar dan celana ketat macam Slade, Mud, Sweet, dan Mott The Hoople, lalu tumpah ke teater melalui bintang-bintang sperti Wayne County dan Jackie Curtis dari pementasan Andy Warhol, Park. Glam rock lalu jadi immortal melalui film-film seperti Phantom of the Paradise-nya Brian de Palma dan Velvet Goldmine-nya Todd Haynes. Masa kini, glam rock tetap hidup melalui band-band seperti Aerosmith dan The Darkness yang tetap menghidupkan impian gemerlap ini. 

Geek Rock : Revenge of the nerds; Dulu mungkin mencela mereka yang kutu buku dengan kacamata tebal. Tapi gara-gara musik, orang-orang kayak gitu malah menjelma menjadi rockstar. Kata ‘Geek Rock’ memang lebih sering digunakan lantaran sifat dan penampilan para musisinya, bukan karena musiknya. Gayanya? Kaos-kaos vintage, kardigan ketat, dasi dan rompi, kemeja kotak-kotak, sweater garis-garis horizontal, polo shirt, celana bahan, sepatu keds, dan kaos band dengan jas. Band-band-nya? Weezer, Cake, They Might Be Giants, Fountain of Wayne, dan REM sudah mengambil keuntungan dengan penampilan geek rock tersebut sambil membawakan lagu-lagu soal kesendirian, kegagalan dalam hubungan cinta, tapi mempunyai gairah tersembunyi akan game, komik dan sci-fi. Dengan idol geek seperti Beck dan Napoleon Dynamite, jadi orang biasa yang populer sudah menjadi hal yang basi. 


Grunge : Played in plaid; Pergerakan yang lahir berkat ulah band-band asal Seattle seperti Pearl Jam, Nirvana, dan Mudhoney. Grunge muncul sebagai pecahan dari alternative rock dan terinspirasi hardcore punk, heavy metal, dan indie rock. Musik ini 



sukses mewakili perasaan remaja saat menjalani masa puber, kegelisahan, pemberontakan, prasangka sosial, dan depresi. Akhirnya, mereka punya soundtrack kehidupan mereka sendiri. Grunge lahir dengan gaya yang ngelawan mode fashion era 

90-an, dengan kaos hitam/putih yang dikenakan di balik kemeja flanel kotak-kotak, celana denim pudar, Doc Martens, atau sepatu Chuck Taylor tinggi. Rambut panjang berantakan dengan kepala diputar-putar, headbanging, moshpit. Band-band andal yang mewakili musik dan gaya masa ini adalah Soundgarden dan Alice in Chains. 

Punk : Anarchy Rules; Waktu Sex Pistols menyanyikan lagu God Save The Queen, mereka tidak hanya mengeluarkan sinyal melawan pemerintahan Inggris, tapi sekaligus juga menandai awal pengaruh mereka terhadap fashion. Dengan gaya pemberontak yang kontroversial, gaya fashion punk di era 70-an lahir berkat jasa desain Vivienne Westwood, penemu Sex Pistols, Malcom Mcleren, dan idola seperti Ramones. Aliran ini memang sengaja menampilkan simbol-simbol salib terbalik, salib besi, dan swastika Nazi, beserta blazer, jaket denim/kulit, rompi dan celana ketat. Motor dan sepatu boot militer ala Chuck Taylors dan Doc Martens tertanam di kaki kaum punk-rockers. Rambut pendek warna-warni dengan gaya mohawk dan jabrik menjadi mahkota kepala mereka. Tidak ketinggalan aksesoris yang melengkapi haya mereka mulai dari stocking jaring robek-robek, perhiasan tajam seperti peniti dan silet, rantai emas, dan pensil mata tebal. The Clash sukses memperkenalkan gaya punk baru dengan tampilan singlet putih, tali selempang, dan topi bowler ala Clockwork Orange. Tahun 80-an, gaya punk merangkul sepatu boot perang, jins kotor robek-robek, dan rok tartan melengkapi koleksi aksesoris mereka. Kemeja flanel kotak-kotak dengan tulisan nama band di belakang plus rambut yang dicukur setengah atau plontos juga sempat menjadi trnd. Sekarang, gaya punk sudah melewati era komersil dengan desainer seperi Jean Paul Gaultier. 


Hip Hop : Can’t stop, won’t stop; Gaya hip-hop punya peran yang penting dalam kemajuan musik hip-hop, dengan gaya ‘songong’ dan belagunya yang kebawa-bawa sejak era 70-an. MC macam Kurtis Blow dan Big Daddy Kane, sukses mempopulerkan kalung rantai emas besar dan cincin multijari. Salt N Pepa membuat tinggi permintaan anting bulat emas yang besar. Run-DMC dan LL Cool J juga sukses membuat orang tergila-gila dengan sepatu adidas dan topi Kangol. Ada juga pakaian warna-warni yang disemarakan Fresh Prince dan TLC, dengan topi baseball, sebelum tren celana terbalik awal 90-an yang dipopulerkan Kris Kross. Sekarang, gaya hip-hop dipengaruhi gaya preman jalanan dan napi penghuni penjara: celana gombrong dan tato tinta hitam andal, hoodies, bandana, kaos yang kegedean, motif army, plus sepatu boot militer/Timberland. Brand Daddy, Sean John dan FUBU berhasil membuat aliran gaya hip-hop jadi lebih mainstream, diikuti label-label lain macam Rocawear dari Jay Z, Shady Ltd dari Eminem, Outkast Clothing dari Outkast, bahkan BAPE dari jepang. 







Mod : Look on the brighton beach; Dikenal juga dengan mod punk, ini bukan Cuma aliran musik, tapi juga subkultur yang tumbuh di era 60-an, berpusat di daerah Inggris Selatan. Mod jadi semacam kombinasi musik dan kultur pub-rock, punk-rock, dan new wave, dan terpengaruh oleh band-band seperti The Who dan The Small Faces. Mod bangkit lagi di era 70-an berkat The Jam dan film Quadrophenia. Band yang mengusung aliran Mod macam Secret Affair, The Chords, dan The Lambrettas banyak yang berasal 


dari golongan kelas pekerja, celana jins, kaos tenis Fred Perry, jaket Harrington, dan jas buntut panjang. Aliran musiknya pindah ke 2 tone dan subkultur ska-revival. Band-band seperti The Specials, The Beat dan Madness malah keseringan pakai pakaian hitam dan kena pengaruh musik Afro-Amerika. Pergerakan Brit Pop juga dipengaruhi oleh Mod dalam sei musik dan gaya. Penampilan rapih preppy-nya pengusung Mod terbentuk berkat ulah desainer Amerika, Tommy Hilfiger. Gaya rambut pirang dan dijambul ke depan juga sempat menjadi tren. 


Hal ini menyebabkan para penggemar musik-musik tersebut pun ikut-ikutan bergaya seperti idolanya masing-masing. Dan para label-label fashion pun berlomba-lomba dalam menawarkan produk-produk yang diinginkan para konsumen. 

ads

Ditulis Oleh : Dermon Siahaan Hari: 17.31 Kategori:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar