Tantangan yang Dihadapi dalam Mengembangkan Sistem Perlindungan Sosial
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa kebutuhan akan pengembangan sistem jaminan sosial formal yang mencakup seluruh penduduk, sudah sangat mendesak. Namun sistem jaminan sosial formal akan dapat berkembang sistemik dan permanen jika didukung oleh jumlah dan kemampuan ekonomi penduduk usia produktif/angkatan kerja yang secara proporsional lebih besar dari penduduk dependen. Hal ini disebabkan karena penduduk usia kerjalah yang berkontribusi pada sistem jaminan sosial, sebagai salah satu sistem perlindungan sosial yang handal dan permanen. Jika kemampuan ekonomi penduduk dan kondisi ketenagakerjaan masih relatif kecil, sistem perlindungan sosial akan diwarnai dengan besarnya bantuan sosial dan jaringan sosial informal yang temporer dan ad hoc. Pertanyaannya, “apakah kemampuan ekonomi penduduk rendah dan kondisi ketenagakerjaan sudah memadai untuk sebuah sistem jaminan sosial formal permanen?”
Sayangnya, kondisi ketenagakerjaan yang ada saat ini masih menjadi tantangan utama dalam upaya mengembangkan sistem jaminan sosial. Masalah ketenagakerjaan dan sosial ekonomi yang dihadapi Indonesia, diantaranya:
a) Tingginya angka penganguran yang mencapai 12% dari angkatan kerja, dan tingginya sektor informal yaitu lebih dari 60% angkatan kerja berimplikasi pada sulitnya memobilisasi dana kontribusi mereka untuk sebuah sistem jaminan sosial yang kuat.
b) Rendahnya kualitas tenaga kerja yang disebabkan oleh lebih dari dua pertiga tenaga kerja Indonesia berpendidikan kurang dari sekolah lanjutan tingkat pertama. Tingkat pendidikan rendah sangat berhubungan dengan produktifitas dan kemampuan meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan.
c) Rendahnya tingkat pendidikan dan kualitas tenaga kerja menghasilkan tenaga kerja dengan upah rendah, yaitu hanya sedikit di atas kebutuhan fisik minimum (KFM). Upah rendah akan menimbulkan kesulitan pekerja untuk berkontribusi dalam sistem jaminan (asuransi) sosial yang akan dikembangkan.
d) Kurang difahaminya oleh pejabat pemerintah, pemberi kerja, pekerja, akademisi, dan masyarakat pada umumnya, bahwa sebuah sistem jaminan sosial yang baik dan kuat merupakan faktor amat penting dalam ketahanan ekonomi negara di kemudian hari.
e) Masih lemahnya manajemen dan kinerja badan penyelenggara jaminan sosial, akibat struktur badan penyelenggara, status badan hukum, dan kurangnya kesadaran tenaga-tenaga penyelenggara dalam mengemban misi publik.
Jelaslah, bahwa sistem jaminan sosial formal permanen yang mencakup seluruh penduduk belum mungkin terbentuk dalam waktu dekat. Hal ini tidak berarti bahwa kita harus menunggu agar dependensi rasio menjadi minimum untuk memulai. Semua negara memulai sejak dini, sejak jumlah pekerja di sektor formal yang mampu berkontribusi masih relatif sedikit. Secara bertahap, sistem jaminan sosial akan tumbuh menjadi kuat, permanen, dan handal untuk menangkal berbagai risiko sosial-ekonomi penduduk. Kondisi di atas mengindikasikan bahwa sistem perlindungan sosial lain, yang berbasis bantuan sosial dari sektor publik dan swasta dan bersifat mendorong tumbuhnya lapangan pekerjaan, sangat dibutuhkan saat ini dan harus terus dikembangkan.
Masih relatif sedikitnya pekerja yang telah secara aktif menjadi peserta jaminan sosial dalam kondisi ketenagakerjaan sebagaimana diuraikan di atas menggambarkan situasi yang dilematik. Di satu sisi, rendahnya cakupan mengharuskan perluasan kepesertaan ke seluruh pekerja. Di sisi lain, tingginya pengangguran, rendahnya upah, banyaknya pekerja informal merupakan kendala besar dalam mengembangkan sistem jaminan sosial yang ada. Dari mana kita mulai? Membenahi kondisi ketenagakerjaan terlebih dahulu atau mengembangkan sistem jaminan sosial tenaga kerja terlebih dahulu. Jawabannya adalah bahwa keduanya tentu perlu dilakukan secara paralel. Memberdayakan angkatan kerja yang menganggur dan yang berusaha dalam sektor informal secara kecil-kecilan merupakan prioritas penting agar seluruh tenaga kerja nantinya mampu menolong dirinya sendiri dalam menghadapi risiko sosial-ekonomi di masa datang. Selain itu, tenaga kerja tersebut pada akhirnya mampu menolong keluarganya, ketika penghasilannya berkurang atau hilang sama sekali akibat suatu penyakit, kecelakaan, atau memasuki hari tua yang tidak lagi produktif secara ekonomis. Pemberdayaan ini mutlak diperlukan, agar mereka yang secara ekonomis tidak atau kurang produktif dan sangat rentan terhadap kemiskinan, apabila suatu risiko berimplikasi finansial terjadi, menjadi angkatan kerja yang produktif dan mempunyai kemampuan ekonomis yang memadai. Untuk itu, diperlukan satu komando dan penyelenggaraan yang terpadu baik di sektor sosial, tenaga kerja, industri kecil, pertanian, kelautan, perikanan, dan bahkan kehutanan. Segala potensi yang memungkinkan angkatan kerja terserap dan meningkatkan kualitas dan produktifitas tenaga kerja harus dipetakan, digerakkan, dipantau, dikembangkan, dan dimobilisasi untuk membentuk sebuah sistem perlindungan sosial, kombinasi sistem jaminan sosial formal dan bentuk perlindungan sosial lain.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Mengembangkan Sistem Perlindungan Sosial "
Posting Komentar