Asma Dalam Kehamilan
Prevalensi
Di Indonesia prevalensi asma sekitar 5-6% dari populasi. Prevalensi asma dalam kehamilan sekitar 3,7-4%. Hal tersebut membuat asma menjadi salah satu permasalahan yang biasa ditemukan dalam kehamilan2,3,11.
Patofisiologi
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan dengan komponen herediter mayor, terkait pada kromosom 5, 6, 11, 12, 14, 16, dan reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sitokin, reseptor T-sel antigen. Keadaan ini juga dihubungkan denganmutasi gen ADAM-33 pada rantai pendek kromosom 20 pada individu yang terpapar rokok, influenza (stimulasi alergi akibat lingkungan)1-3,11.
Gejala Klinik
Penilaian secara subyektif tidak dapat scara akurat menetukan derajat asma. Gejala klinik bervariasi dari wheezing ringan sampai bronkokonstriksi berat. Pada keadaan ringan, hipoksia dapat dikompensasi hiperventilasi, ditandai dengan PO2 normal, penurunan PCO2, dan alaklosis respirasi. Namun, bila bertambah berat akan terjadi kelelahan yang menyebabkan reteni CO2 akibat hiperventilasi, ditandai denan PCO2 yang kembali normal.
Pengaruh Kehamilan Terhadap Asma
Tidak ada bukti klinik pengaruh kehamilan terhadap asma ataupun pengaruh asma terhadap kehamilan. Studi perspektif terhadap ibu hamil dengan asma tidak didapatkan perbedaan kelompok yang mengalami perbaikan, menetap, atau mrmburuk. Namun, ada hubungan antara keadaa asma sebelum hamil dan morbiditasnya pada kehamilan. Pada asma ringan 13% mengalami serangan pada masa kehamilan, pada asma moderat 26%, dan asma berat 50%. Sebanyak 20% dari ibu dengan asma ringan dan moderat mengalami serangan intrapurtum, serta peningkatan resiko serangan 18 kali lipat setelah persalinan dengan seksio sesarea jika dibandingkan dengan persalinan pervaginam1.
Luaran Kehamilan
Terdapat komplikasi preeklampsia 11%, IUGR 12%, dan prematuritas 12% pada kehamilan dengan asma. Komplikasi ini bergantung pada derajat penyakit asma. Status asmatikus dapat menyebabkan gagal nipas, pneumotoraks, pneumomediastinum, kor pulmonale akut, dan aritmia jantung. Mortalitas meningkat pada penggunaan ventilasi mekanik1,11.
Pada asma berat hipoksia janin dapat terjadi sebelum hipoksia pad ibu terjadi. Gawat janin terjadi akibat penurunan sirkulasi uteroplasenter dan venous return maternal. Peningkatan pH (Alkali) menyebabkan pergeseran ke kiri kurva disosiasi oksihemoglobin. Hipoksemia maternal menyebabkan penurunan aliran darah pada tali pusat, peningkatan resistensi vascular pulmonary dan sistemik, dan penuruna cardiac output1-4,11.
Obat-obatan antiasma yang biasanya digunakan tidak memiliki efek samping teratogenik. Resiko pada anak untuk terkena asma bervariasi antara 6-30%, bergantung pada factor herediter dari ibu dan ayah atopik atau penderita asma1,11.
Penanganan Asma Kronis
Menurut national astma education and prevention program expert panel, 1997, penanganan yang efektif untuk asma kronis pada kehamilan harus mencakup hal-hal berikut.
- penilaian objektif fungsi paru dan kesejahteraan janin
- menghindari/menghilangkan factor presipitasi lingkungan
- terapi farmakologik
- edukasi pasien
Penangnan Asma Akut
penangnan asma akut pada kehamilan sama dengan nonhamil, terapi hospitality tresold lebih rendah. Dilakukan penangnan aktif dengan hidrasi intravena, pemberian masker oksigen, supaya PO2 > 60 mmHg dan saturasi O2 95%. Juga peril dilakukan pemeriksaan analisis gas darah, pengukuran FEV1, PEFR, pulse oximetry, dan fetal monitoring1-4,11.
Selama Kehamilan
Penyesuaian terapi untuk mengatasi gejala. pemantauan kadar teofilin dalam darah, karena selama hamil terjadi hemodilusi sehingga memerlukan dosis yang lebih tinggi. Pengobatan untuk mencegah sertangan dan penangnanan dini apabila terjadi serangan. Pemberian obat sebaiknya inhalasi, menghindari efek sistemik pad janin. Pemeriksaan fungsi paru ibu. Pada pasien yang stabil, NTS dilakukan pada akhit trimester II/awal trimester III.
Belum ada tanggapan untuk "Asma Dalam Kehamilan "
Posting Komentar