Penyakit ini ditemukan pertama kali di china 2002. penyebarannya sangat cepat terutama di asia, termasuk di Indonesia. Merupakan droplet infeksi yang disebabkan oleh koronavirus.
Diagnosis
Gejala dibagi dalam 3 fase. Pada minggu pertama terjadi replikasi virus dan sitolisis yang ditandai demam tinggi dan mialgia. Pada minggu kedua terjadi serokonversi IgG dan penurunan viral load yang ditandai demam naik turun, diare, dan hipoksia.. pada 20% pasien pada minggu ketiga terjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang memerlukan ventilasi mekanik1,4.
Pemeriksaan foto toraks dan CT-scanv menunjukkan gambaran radio-opaq, dalam 1-2 hari trejadi konsolidasi uni-bilateral. Mpemeriksaan darah menunjukkan limfopenia, trombositopenia, dan peningkatan LDH1,4.
Luaran kehamilan
Pengaruh SARS pada kehamilan belum diketahui dengan pasti karena jumlah kasusnya masih sedikit. Namun, dilaporkan luaran yang lebih buruk pada ibu hamil jika dibandingkan dengan ibu yang tidak hamil, tetapi tidak ditemukan transmisipada bayi yang lahir dari ibu dengan SARS4.
Penanganan
Pengobatan yang terpilih saat ini belum terbukti. Kebanyakan pasien diberi antibiotika spectrum luas. Pada kehamilan diberikan klaritromisin 2x 500 mg dan amoksisilin dan asam klavulanat 3x 375 mg. ribavirin dan kortikosteroid digunakan untuk mengurangi replikasi virus dan sebagai imunomodulator. Mortalitas 5% dan kebanyakan terjadi terjadi akibat acute lung injury1,4.
Edema Paru
Penanganan
Perawatan intensif, posisi setengah duduk, pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi, dan keseimbangan cairan merupakan prinsip penatalaksanaan.
Furosemide merupakan diuretik yang paling banyak digunakan dan bekerja paling cepat. Pada keadaan edema paru karena gagal jantung dapat diberikan deuretik golongan tiazit yang bekerja lebih lambat. Efek samping hipokalemiapada ibu hamila dapat terjadi sama dengan yang tidak hamil. Pemberian deuretik pada kehamilan trimester III dapat menyebabkan deplesi elektrolit pada neonatus. Morfin (opiat) juga perlu diberikan untuk mengurangi ansietas, menurunkan venous return, dan vasoditalasi.
Pengukuran tekanan vena sentral, tekanan atrium kanan, tekanan kapiler paru, dan cardiac output dengan memasang kateter swan-ganz memungkinkan keseimbangan pemberian cairan, deuretik, dan digitalis yang maksimal. Ventilasi mekanik digunakan bila pengobatan tidak berhasil1,4.
Prognosis
Mortalitas 50% biasanya akibat kerusakan multiorgan1,4.
Tuberculosis
Prevalensi
Prevalensi TBC bervariasi di berbagai Negara. Prevalensi TBC pada kehamilan di Indonesia menurut survei nasional tahun 2004 adalah 119/100.000 penduduk dan dalam kehamilan prevalensi tuberculosis bervariasi antara 0,37-1,6%6.
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh inhalasi Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan reaksi granuloma paru. Sebanyak 90% infeksi bersifat laten dan pada penurunan status imunologik akan menjadi aktif. MDR-TB (multi drug resistant tuberculosis) bervariasi 1,2-14 % 1,6-8.
Diagnosis
Gejala klinik infeksi tuberculosis adalah buruk dengan sputum minimal, hemoptitis, subfebris, penurunan berat badan, dan pada pemeriksaan foto toraks ditemukan gambaran finfiltrat, kavitas, dan limfadenopati mediastinum. Pemeriksaan radiologik harus menggunakan pelindung timah pada abdomen, sehingga bahaya radiasi dapat diminimalisasi. Pada trimester I hindari pemeriksaan foto toraks karena efek radiasi yang sedikitpun masih mendampak negative pada sel-sel muda janin. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan hapusan sputum dan ditemukan basil tahan asam, uji tuberculin dengan purified protein derivative (PPD) 5 unit intrakutan, pemeriksaan kultur darah, PCR, dan interferon gamma kuantitatif pad infeksi laten TBC1-3,6-10.
Penanganan
Sebelum kehamilan perlu diberi konseling mengenai pengaruh kehamilan dan TBC, serta pengobatan. Adanya TBC tidak merupakan indikasi untuk melakukan abortus. Pengobatan TBC dengan isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid tidak merupakan kontraindikasi pada kehamilan. Pengobatan TBC dengan amino-glikosida (streptomisin) merupakan kontraindikasi pad kehamilan karena dapat menyebabkan ototoksik pad janin1.
Pengobatan TBC dalam kehamilan menurut rekomendasi WHO adalah dengan pemberian 4 regimenkombinasi isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid selama 6 bulan. Cara pengobatan sama dengan yang tidak hamil. Dapat juga diberikan regimen 3 kombinasi, isoniazid, rifampisin, etambutol selama 9 bulan. Angka kesembuhan 90% pada pengobatan selama 6 bulan directly observed therapy (DOT) pada infeksi bari6,9,10.
Saat persalinan mungkin diperlukan pemberian oksigen yang adekuatdan cara persalinan sesuai indikasiobstretik. Pemakaian masker dan ruangan isolasi diperlukan untuk mencegah penularan. Pemberian ASI tidak merupakan kontraindikasi meskipun ibu mendapatkan obat anti-TBC. Perlu diberikan vaksinasi BCG setelah profilaksis dengan isoniazid 10 mg/kg/hari pada bayi dari ibu dengan tuberkolosis1,9.
Belum ada tanggapan untuk "Severe Acut Respiratory Syndrome (SARS)"
Posting Komentar