Paling tidak ada tiga hal yang perlu kita waspadai perihal pemakaian obat:
1. Kemungkinan interaksi antar satu obat dengan obat lainnya
2. Kemungkinan efek samping dan pengetahuan akan indikasi kontra pemberian suatu obat
3. Kepedulian perihal rasio untung ruginya
Di negara maju, terbukti, konsumen menghargai dokter yang mau memberikan penjelasan perihal kerja obat yang harus dikonsumsi serta penjelasan perihal efek-efek yang mungkin terjadi.
Obat bekerja melalu berbagai mekanisme. Pertama, dengan menghambat suatu reseptor di permukaan suatu sel; melalui proses penghambatan kerja suatu ensim, atau melalui pemblokiran reseptor di dalam suatu sel. Berbagai efek yang bisa timbul akibat kombinasi beberapa obat:
Interaksi obat adalah suatu kondisi dimana pemberian 2 obat atau lebih menyebabkan timbulnya efek yang BERBEDA dari yang semula direncanakan. Misalnya, pemakaian suatu obat A bila disertai pula dengan mengkonsumsi obat lainnya, bisa menyebabkan obat A lebih “kuat” efeknya, atau justru lebih “lemah”.
Efek samping. Timbulnya efek negatif suatu obat. Contoh sederhana, bila kita mengkonsumsi obat A; di samping itu, kita juga mengkonsumsi obat B yang memiliki sifat menekan suatu ensim hati yang fungsinya memetabolisme obat. Akibatnya, karena ensim tersebut ditekan, maka proses metabolisme dan pembuangan opbat A pun akan terhambat, sehingga kadar obat A di darah meningkatdan menyebabkan kemungkinan toksisitas akibat obat A akan meningkat.
Indikasi kontra. Suatu kondisi kesehatan yang menyebabkan yang bersangkutan dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi obat tertentu. Misalnya, orang hipertensi sebaiknya menghindar dari obat flu.
Rasio untung rugi. Contoh, anak kita didiagnosis (dengan catatan diagnosisnya akurat) menderita tuberkulosis/TB. Kita harus memberikan obat anti TB yaitu 2 bulan pertama PZA, rifampisin, dan INH dilanjutkan dengan 4 – 6 bulan lagi dengan INH dan rifampisin. Kita tahu bahwa obat-obatan tersebut potensial menganggu fungsi hati (ringan sampai berat), namun, obat tersebut tetap kita berikan (diawasi ketat) karena manfaatnya dalam mengobati TB jauh lebih besar dari kerugian akibat efek sampingnya. Penelitian membuktikan bahwa pasien yang memahami kondisi kesehatannya akan lebih patuh, lebih proaktif dalam penanganan penyakitnya.
Apa saja “rute” yang dapat dipakai untuk memberikan obat?
Secara garis besar ada dua alternatif, pemberian secara enteral (melalui saluran cerna) dan pemberian secara parenteral yaitu penyuntikan langsung ke pembuluh darah (penyuntikan intravena) atau penyuntikan di otot.(intra muskular).
1. Enteral (melalui saluran cerna).
Dapat dibagi menjadi 3 jalur pemberian yaitu peroral (melalui mulut), sublingual (di taruh di bawah lidah), atau per rektal (dimasukkan melalui anus)
2. Parenteral (melalui “aliran darah”).
• Intravenous (IV, intravena, pembuluh darah balik/vena)
• Intra-arterial (IA, melalui arteri)
• Subcutaneous (SC, melalui jaringan di bawah kulit)
• Intradermal (ID, melalui kulit)
• Intramuscular (IM)
• Intraperitoneal (IP, melalui selaput perut)
• Lungs (Inhalation, melalui paru-paru)
• Skin (Topical, terapi lokal di kulit), Eye (Opthalmic), Ear (Otic), Vagina
• Urethra (saluran kencing), Urinary Bladder (kandung kemih)
• Intrathecal (langsung ke rongga otak), Epidural (rongga cairan otak di tulang belakang)
• Langsung ke organ sasaran.
Untung rugi pemberian secara oral, IV, IM, SC.
Safety. Pemberian per oral merupakan cara yang aman. Disusul dengan penyuntikan di bawah kulit, lalu peyuntikan di otot. Risiko dampak negatif paling besar adalah pemberian intra vena.
Kenyamanan. Begitu pula halnya dengan kenyamanan. Pemberian secara oral merupakan cara yang paling mudah dan enak
Biaya. Sebaliknya, biaya paling tinggi bila obat harus diberikan secara intra vena, paling murah bila diberikan secara per oral.
Bila pemberian per oral lebih aman, lebih nyaman, dan lebih murah, mengapa kita mempertimbangkan cara pemberian yang lain?
Ada saat dan kondisi dimana memang diperlukan pemberian melalui jalur lain yaitu kondisi dimana dibutuhkan konsentrasi obat yang tinggi di tempat/jaringan yang dituju (target organ); untuk meningkatkan efikasi obat tetapi tanpa menimbulkan efek samping pada tubuh. Misalnya terapi inhalasi (inhale=menghirup) paru, obat yang diletakkan di bawah lidah (sublingual) agar obat segera memasuki aliran darah ke jantung tanpa harus masuk ke hati terlebih dahulu.
Terapi juga dapat melalui rektum (ujung dari usus besar) bila pasien muntah-muntah dan tidak dapat mengkonsumsi obat peroral.
HATI DAN METABOLISME OBAT – SIAPA BILANG OBAT PASTI AMAN?
Kebanyakan obat tidak larut dalam air sehingga perlu diproses di hati agar menjadi komponen yang larut dalam air. Setelah larut dalam air, obat baru dapat dibuang dari tubuh, baik melalui ginjal dibuang ke urin atau melalui usus dibuang di tinja.
Proses metabolisme tersebut terdiri dari 2 tahapan. Tahapan pertama, ditolong oleh suatu keluarga besar ensim P450, menghasilkan suatu zat antara yang selanjutnya di tahapan kedua akan diolah sekelompok ensim lain di antaranya yang terpenting adalah ensim gluthation sehingga terbentuk produk yang larut air dan siap untuk di”buang”. Zat antara yang dihasilkan tersebut merupakan suatu radikal bebas yang potensial mengganggu sel hati, me”racuni” sel hati. Tahap kedua merupakan tahap “menetralisir” zat antara yang toksik tersebut. Dengan demikian, pada dasarnya semua obat, bila penggunaannya tidak tepat, dapat menganggu fungsi hati. Tidak tepat yang dimaksud adalah tidak tepat indikasinya, tidak tepat penggabungannya dengan obat lain, tidak tepat dosisnya. Di lain pihak bayi baru lahir sampai usia 6 bulan kemampuan hatinya rendah sehingga kemampuan “clearance” atau pembuangan obat juga rendah. Selain itu, kemampuan ginjal untuk mengeluarkan zat-zat yang harus dibuang dari tubuh juga masih rendah. Oleh karena itu, pada kelompok ini pemberian obat harus sangat berhati-hati karena risiko toksisitas obat jauh lebih tinggi anak besar dan orang dewasa muda. Di lain pihak, pada usia sangat lanjut, kemampuan hati juga sudah menurun sehingga kemampuan membuang zat zat beracun juga sudah berkurang. Oleh karena itu, pemberian obat pada manula juga harus berhati-hati. Demikian pula halnya dengan pemberian obat pada pasien penyakit hati dan ginjal kronis.
Kerusakan sel hati bisa terjadi kalau suatu obat diberikan bersama obat lain yang sifatnya merangsang ensim P450 atau menghambat ensim gluthation. Sebagai contoh:
- Parasetamol, bila dosisnya berlebihan, dapat merusak hati. Parasetamol di luar negeri sering dipakai remaja untuk suicide attempt. Parasetamol juga akan meningkat toksisitasnya bila dicampur dengan obat lain yang sifatnya merangsang ensim P450 seperti rifampisisn, fenobarbital atau INH. Di lain sisi, pencampuran parasetamol denga luminal justru akan mengurangi efek atipiretik parasetamol.
- Obat anti TBC seperti pirazinamid (PZA), rifampisin dan INH, memiliki risiko tinggi kerusakan hati. Terlebih bila digabung dengan obat lain yang potensial merusak hati seperti obat anti kejang (asam valproat/depakene), parasetamol.
- Antibiotik golongan makrolid (eritromisin) dan antibiotik kloramfenikol (kemisetin, kloramfenikol, thiamfenikol, urfamisin) menghambat ensim P450 sehingga “clearance” atau pembuangan obat lainnya terganggu dan mengakibatkan kadar obat kedua di darah meningkat dan meningkat pula risiko toksisitas obat kedua. Misalnya, eritromisin digabung dengan teofilin, maka risiko toksistas teofilin akan sangat meningkat. Di lain pihak, teofilin sendiri tergolong obat dengan safety margin yang sempit dan indikasi pemberiannya sebetulnya sangat terbatas.
- Obat anti kejang; Obat sitostatika (antikanker); Hormon
Belum ada tanggapan untuk "BAGAIMANA OBAT BEKERJA & MENGAPA KITA HARUS BIJAK DENGAN OBAT?"
Posting Komentar