Beberapa prinsip yang harus dipikirkan saat memutuskan pemberian obat pada populasi pediatri:
- Apakah terapi memang dibutuhkan? Hal ini tentunya dipengaruhi oleh akurasi diagnosis yang ditegakkan, oleh perhitungan risiko dan keuntungan
- Pemilihan obat, termasuk jenis/bentuk obat dan dosisnya. Pilihan tentunya jatuh kepada obat yang paling cocok (sirup/dropmerupakan bentuk yang paling cocok untuk bayi/anak), yqng paling aman. Hindari pemakaian tetrasiklin.
- Kloramfenikol jangan dipakai sampai bayi usia 2 bulan; pemakaiannya seyogyanya disertai dengan pengukuran kadarnya di darah.
Dosis. Pilih obat yang sudah diteliti. Dosis juga harus bersifat individuil. Pada obat tertentu pantau dosis dengan efek yang dialami anak. Peresepan harus jelas disertai dengan instruksi yang jelas. Tulisa terbaca dan dalam bahasa lokal.
- Drug compliance atau kepatuhan pemakaian obat. Oleh karena itu, penulisan resep harus disertai dengan instruksi yang mudah dimengerti.
- Lama terapi. Ditentukan oleh hasil kajian terkini (EBM), perjalanan atau pola penyakitnya (nature of illness)
- Biaya.
- Kemungkinan kesalahan dispensing.
Oleh karena itu, kebijakan pemberian obat pada bayi harus mengedepankan safety, efficacy berada diurutan berikutnya. sesederhana mungkin dan dengan penjelasan yang informatif.
APAKAH ANAK BENAR-BENAR BUTUH OBAT? APAKAH OBAT YANG DIBERIKAN OBAT YANG PALING “TEPAT”?
Pertanyaan pertama yang harus ada di kepala kita adalah Is this the best drug? Is it safe?
Selanjutnya, pertanyakan bagaimana dampaknya terhadap penyakit yang sedang dialami anak, berapa lama terapi harus diberikan, apakah instruksi dosisnya jelas, efek samping yang mungkin bisa terjadi, ada tidaknya interaksi dengan obat yang lain.
PROFIL
OBAT ANTI DEMAM (ANTIPYRETIC)
|
|
Ibuprofen
|
Asetaminofen
|
Asetosal
|
Asam Mefenamat
|
Metamizole
|
|
Efek
|
AP, AG, AI
|
AP, AG
|
AP, AG, AI
|
AP, AG
|
AP, AG, AI
|
|
Dosis mg/kg
|
5-10
|
10-15
|
Tidak boleh usia < 16 tahun
|
Tidak dianjurkan untuk demam pada anak
|
Tidak dianjurkan
|
|
Efek samping
|
Mual, iritasi-perdarahan saluran cerna, gagal
ginjal
|
Aman bila dosis tidak berlebih, iritasi saluran
cerna,
|
Sindrom Reye, iritasi-perdarahan saluran cerna
|
Anemia hemolitik
|
Agranulositosis
Reaksi alergi berat
|
AP: anti piretik (penurun demam)
AG: analgesik (penghilang rasa sakit)
AI: anti inflamasi (anti radang)
Dari tabel di atas, tampak bahwa dengan dosis yang
benar dan atas indikasi yang tepat, maka
yang paling aman adalah parasetamol atau asetaminofen.
Tips:
-
Hindari pemakaian obat anti demam lebih dari satu jenis
-
Jangan pakai asetosal untuk infeksi virus karena berisiko
mengalami sindrom Reye; asetosal (aspirin, aspilet) tidak boleh diberikan pada
anak usia kurang dari 16 tahun
ASPIRIN/acetosal
Aspirin tergolong obat NSAIDS atau non steroid anti inflammatory drugs, artinya obat yang memiliki efek anti inflamasi tetapi bukan termasuk golongan steroid. Aspirin atau asetosal salah satu nama dagangnya adalah aspilet. Selain efek anti inflamasi atau anti radang, aspirin juga memiliki sifat analgesik (pereda rasa sakit) dan antipiretik (penurun demam). Oleh karena itu, indikasi pemberian aspirin adalah, penghilang rasa sakit, anti inflamasi (misalnya pada penyakit autoimun seperti artritis atau radang sendi), tetapi aspirin juga dipakai pada infark jantung dan hiperagregasi trombosit (“kekentalan darah”) karena aspirin juga bisa mengencerkan darah.
Aspirin berinteraksi dengan:steroid, anticoagulants (obat anti pembekuan darah), obat antirheuma, dan obat anti gout. Pemberian aspirin bersama dengan salah satu obat tersebut akan meningkatkan risiko perdarahan.
Selain itu, pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus potensial menimbulkan sindrom Reye, suatu kondisi yang potensial mengancam jiwa yang pada intinya melibatkan kelainan berat pada otak dan hati. Anak mengalami penurunan kesadaran, kejang-kejang, dan gagal hati. Oleh karena itu, dunia kedokteran membuat keputusan melarang pemberian aspirin pada anak berusia kurang dari 16 tahun. Efek samping lain yang dapat ditimbulkan aspirin:
- Perdarahan saluran cerna
- Blood thinning atau pengenceran darah
- Tukak lambung
- Thrombocytopenia atau penurunan jumlah trombosit
- Reaksi alergi, Dizzyness atau pusing, Tinnitus (telinga berdenging)
OBAT SELESMA
Penyebab flu/selesma adalah infeksi virus. Gejalanya adalah:
- Meler, Sakit menelan/radang tenggorokan, Bersin, muntah, hidung buntu
- Demam tinggi yang timbul mendadak, Sakit badan (otot dan tulang)
Lamanya 3 hari s/d 2 minggu, tergantung daya tahan tubuh anak dan tergantung ada tidaknya orang lain yg juga sakit flu di rumah atau di sekolah si anak. Bayi/anak yang memiliki saudara kandung yang lebih besar (sudah bersekolah), bisa lebih sering mengalami colds dan flu.
Kita sering mengganggap meler sebagai flu. Padahal, penyebab “ingusan” bisa infeksi virus, alergi, kedinginan, atau sesudah menangis. “ingusan” karena alergi tidak disertai demam dan tidak ada tanda-tanda infeksi lainnya (lesu, kehilangan nafsu makan, mual/muntah). Lalu apa bedanya common colds (selesma) dengan influenza?
Selesma tidak ada obatnya, terlebih pada bayi. Obat yang paling ampuh adalah sang waktu, memberi kesempatan kepada sistem imun si anak untuk memerangi infeksinya. Kadang kita perlu membuat bayi/anak merasa sedikit nyaman.
Coba perhatikan resep puyer yang diberikan kepada anak anda yang tengah selesma. Umumnya terdiri dari CTM (antihistamin), diphenhydramine, efedrin atau pseudoefedrin. Pemberian obat-obatan tersebut sebetulnya tidak rasional. Efek samping yang dapat ditimbulkan adalah dahak semakin kental (sehingga anak batuk lebih hebat), mengantuk, palpitasi (jantung berdebar-debar), mulut-hidung-tenggorokan terasa kering, hipertensi, gangguan buang air kecil. Berikut ini pengumuman berdasarkan US government research: “OTC cold medicines dangerous for kids under 6”.
• Satu masalah yang sering mengganggu hubungan dokter-pasien adalah
• ekspektasi yang tak realistis atau
• tidak mempercayai diagnosis –
• tidak mempercayai penyakit harian ringan tak butuh terapi
• Mis: banyak orangtua mengharapkan obat untuk selesma-flu. Padahal, a wait-and-see approach jauh lebih baik. Akibatnya… doctor may feel pressured to give in to parental expectations for prescriptions or treatment, even when it's not necessary or in the best interest of the child's health.
Kesimpulan: selesma dan influenza tak bisa dibunuh dengan antibiotic. Tak ada obat untuk mempercepat penyembuhan. Cukup berikan parasetamol jika demam, observasi, dan cairan sesering mungkin (ASI dll).
Belum ada tanggapan untuk "PRINSIP PERESEPAN PADA ANAK "
Posting Komentar