SETELAH bom atom Amerika menghunjam jantung
kota Jepang pada 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan negeri ini akan
segera mengalami kebangkrutan. Namun dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun,
Jepang ternyata mampu bangkit kembali, dan bahkan menyaingi perekonomian negara
yang menyerangnya, Amerika.
Kemampuan negeri Sakura
bangkit dari reruntuhan akibat perang dan kehancuran rekonomi dianggap sebagai
sebuah keajaiban. Namun, semuanya itu diraih berkat hasil kerja dan usaha keras
rakyatnya untuk memulihkan kembali harga diri bangsa dan negara yang telah
tercemar.
Ann Wan Seng, sosiolog asal
Malaysia, lewat buku ini menyingkap gaya hidup, semangat kerja, dan prinsip
orang Jepang yang membuahkan hasil mengagumkan di bidang ekonomi.
Mereka dikenal sebagai
bangsa yang memiliki semangat pantang menyerah dan sulit menerima kekalahan. Bagi
mereka, lebih baik mati dari pada menjadi bangsa yang dihina. Zaman dahulu,
ksatria Jepang yang dikenal dengan sebutan samurai akan melakukan harakiri atu
bunuh diri dengan menusukkan pedang ke bagian perut jika kalah dalam
pertarungan. Hal ini memperlihatkan usaha mereka menebus kembali harga diri
yang hilang akibat kalah dalam pertarungan.
Semangat samurai itu masih
kuat tertanam dalam sanubari mereka. Namun saat ini harakiri tidak lagi
dilakukan, semangat dan disiplin samurai tersebut sekarang digunakan untuk
membangun kembali ekonomi yang runtuh. Etos Kerja.
Orang Jepang juga dikenal
sebagai bangsa yang kuat bekerja. Bagi mereka, bekerja merupakan
segala-galanya. Lelaki
yang bekerja keras menjadi kebanggaan istri dan seluruh keluarga. Bekerja sampai
malam sudah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, akan menjadi masalah yang luar biasa
bila seseorang pulang lebih awal ke rumah. Ia
akan mendapatkan berbagai kecurigaan negatif, seperti akan dipecat, sakit, atau
malas bekerja.
Pada saat para pekerja di
negara-negara Eropa Barat dan AS mengalami penurunan produktivitas, para
pekerja Jepang menunjukkan prestasi yang cukup mengagumkan. Pada 1975, setiap
sembilan hari, seorang pekerja di Jepang menghasilkan sebuah mobil senilai
seribu poundsterling. Padahal, pekerja di perusahaan Leyland Motors,
Inggris, memerlukan waktu empat puluh tujuh hari untuk menghasilkan sebuah
mobil bernilai sama.
Kecekatan, keahlian dan
kecepatan pekerja- pekerjanya jelas melebihi pekerja di negara mana pun. Karena
itu , tidak mengherankan jika bangsa ini dapat pulih dan membangun kembali
negaranya dengan cepat , walaupun seluruh sendi perekonomiannya lumpuh setelah dikalahkan
Sekutu yang dipimpin AS dalam Perang Dunia II.
Seorang pekerja Jepang
rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam
orang. Di Indonesia, untuk memperbaiki jalan kampung yang rusak mungkin
diperlukan lima belas orang, mulai dari pihak yang menerima pengaduan, memberi
arahan, yang mengangkat peralatan, pemandu, hingga yang mengerjakan perbaikan
jalan. Di Jepang,
pekerjaan itu dapat dilakukan oleh tiga orang saja. Bangga pada Organisasi.
Biasanya, seseorang memperkenalkan diri berdasarkan identitas negara atau
keturunannya. Namun bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka sebagai anggota
organisasi dan perkumpulan tempat ia berkarya.
Menurut mereka, kesuksesan sebuah organisasi tidak boleh dianggap sebagai
kesuksesan individu, tetapi sebagai hasil kerja sama kelompok. Setiap anggota,
baik tingkat bawah, tengah, maupun atas, memiliki peran dan kepentingan yang
sama.
Semangat inilah yang menjadi tonggak utama kekuatan organisasi perdagangan bangsa
Jepang. Mereka bangga bila dapat mencurahkan kesetiaannya pada organisasi.
Hal lain yang dimiliki bangsa Jepang adalah tidak suka pemborosan. Mereka
memanfaatkan waktu dan sumber daya alam dengan sebaik-baiknya. Semuanya
digunakan secara maksimal dengan tahapan yang maksimal pula. Coba bayangkan,
mereka menanam padi di halaman rumah mereka dan tidak menyianyiakan sejengkal
tanah pun tanpa menghasilkan sesuatu. Selain itu, keadaan negara yang
sedemikian rupa mendorong bangsa ini untuk menggunakan sumber yang sedikit
untuk mendapatkan hasil yang banyak.
Orang Jepang lebih suka menggunakan angkutan umum daripada kendaraan
pribadi. Saat berada di dalam bus ataupun kereta api, mereka menggunakan waktu
luang itu untuk membaca.
Hal ini berbeda dari para pekerja di Indonesia yang lebih suka membuang,
mencuri, dan melewati waktu dengan sia-sia tanpa aktivitas yang bermanfaat.
Tak mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jepang. Bagi mereka yang
baru kali pertama ke negeri ini, mungkin akan mengalami goncangan budaya. Cara
hidup bangsa Jepang berbeda dari bangsa Asia lain. Mereka senantiasa bergerak
gesit dan berjalan cepat, mengejar waktu. Kehidupan di Jepang serbacepat dan
tidak ada istilah lamban dalam kamus kehidupan mereka.
Salah satu keistimewaan bangsa Jepang adalah kuatnya memegang tradisi.
Kemajuan di bidang teknologi dan informasi tidak mengubah sedikit pun cara
hidup rakyatnya. Meskipun dikenal sebagai salah satu negara paling maju di
dunia, rakyatnya masih berpegang teguh pada tradisi. Nilai-nilai tradisional masih
dapat dilihat dari sikap, cara berpikir, bekerja, perpakaian, berbahasa, dan
jenis makanan mereka.
Buku ini tak sekadar membeberkan rahasia bisnis orang Jepang tetapi juga
sekaligus memberi inspirasi bagi kita yang mau berubah. Bahwa untuk bisa maju,
kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi, etos kerja yang kuat, tidak
boros, memanfaatkan waktu dan sumber daya sebaik-baiknya.
Kalau pembaca menemukan adanya materi-materi yang sama dalam pembahasan di
beberapa bab yang berbeda, hal itu bisa dimaklumi, mengingat buku ini disusun
dari artikel-artikel ekonomi lepas yang sudah pernah dipublikasikan di berbagai
media yang terbit di Malaysia.
Di samping buku ini, Ann Wan Seng juga telah menulis buku ”Rahasia Bisnis
Orang Cina”, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Hikmah, pada awal tahun 2007.
(Muhammad Ali -35)
Belum ada tanggapan untuk "KUNCI KEBERHASILAN BANGSA JEPANG "
Posting Komentar