Manusia dengan otak
yang diberikan oleh Allah memungkinkan untuk mengira-ngira umur seseorang. Dengan
kepandaiannya seorang dokter mampu "memvonis" umur pasien yang
ditangani, karena perjalanan penyakit sudah digenggam sang dokter. Tapi manusia
tetap manusia. Dengan "kesempurnaan" ilmunya, tetap saja tak bisa
mengubah kehendak Allah. Itulah sebagian yang dialami oleh Prof Dr Amin Syukur
penderita kanker otak dan saluran pernapasan (nasofaring).
Dokter
menyatakan usianya hanya tinggal tiga bulan, namun Allah berketetapan lain.
Sepuluh tahun lalu "vonis" dokter diucapkan, namun hingga kini ahli
tasawuf itu masih tetap saja memberikan ceramah keagamaan, menjadi dosen, dan
menjalani aktivitas kehidupan layak manusia sehat. Tentunya "usia
panjang" itu tidak saja dicapai dengan cara hidup yang biasa. Ada
perjuangan khusus yang dilakukan untuk tetap "sehat" dan eksis yang
tentunya tidak semua orang mampu melakukannya.
Satu
contoh "kebiasaan" luar biasa dilakukan sangat berbeda dari manusia
lazimnya. Kata Dra Hj Fatimah Usman, MSi, sang istri, jika mau menghadiri
perjamuan, suaminya selalu makan dulu di rumah dengan menu yang sudah ditentukan.
Kalau akan bepergian yang kira-kira akan makan di luar rumah, maka persiapannya
tentu saja "rantang" makanan dengan katering khusus, alias masakan
rumah. Syaratnya bebas barangbarang artifisial seperti perasa, pewarna,
pengawet, pemanis, pengental, dan sebagainya.
Rasanya
masyarakat terdidik sekarang umumnya tahu bahwa zat-zat tersebut sangat
berpengaruh akan menumbuhkan penyakit kanker yang sejauh ini belum ada obat
mujarabnya.
Memang
Allah mengharuskan umatnya untuk berusaha sekuat mungkin bertahan hidup, dengan
friman-Nya untuk dilarang menganiaya diri. Di bagian lain (hadis) mengatakan
bahwa penyakit yang diturunkan selalu ada obatnya. Keyakinan itulah yang
menyemangati Prof Amin Syukur untuk tidak menyerah terhadap penyakit.
Bimbingan
orang tuanya sejak kecil, dan kehidupan di pesantren yang dilaluinya, menjadi
energi yang sangat bermanfaat setiap langkah anak pertama dari pasangan Abdus
Syukur dan Umi Kulsum di Gresik, Jawa Timur tersebut.
Sesungguhnya
gejala sakit tumor di otaknya sudah dirasa sejak tahun 1970-an ketika masih
berada di Pesantren Darul 'Ulum Jombang. Saat itu kepalanya kadang-kadang merasa pening (cekot-cekot-Jawa), terutama saat lapar. Barangkali pening itu
merupakan gejala, namun karena keterbatasan, "sakit" itu tak dihiraukan.
Baru ketika satu malam pada 1997 mendadak kejang, menjadi jelas ada kanker di
otak kirinya. Dokter mengoperasi dan Prof Amin sehat kembali. Muncul yang lain
yaitu kanker di saluran pernapasan.
Allah
masih ingin Prof Amin Syukur mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat.
Nyatanya sampai buku ini beredar, masih saja bisa mengajak siapa saja yang
berkenan untuk berzikir dan berzikir. Dengan berzikir itulah ketenangan hidup
diperoleh dan kesembuhan insya Allah diperolehnya.
(Humaini As-35)
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "ZIKIR SEBAGAI OBAT KANKER "
Posting Komentar