Untuk mengklasifikasi teori dan penelitian kepemimpinan dapat dilakukan dengan cara memahami level analisisnya (Lussier dan Achua, 2001: 14). Level analisis teori kepemimpinan minimal terdiri dari empat, yakni individu, kelompok, organisasi dan masyarakat. Karena itu, sebagian besar kajian kepemimpinan diformulasikan dalam konsep proses pada salah satu dari empat level tersebut.
Pertama, level individu. Level analisis ini terfokus pada individu pemimpin dan hubungannya dengan individu lain (pengikutnya). Asumsi yang dianut ialah efektivitas kepemimpinan tidak dapat dipahami lebih jauh tanpa menjelaskan bagaimana pemimpin dan pengikutnya saling mempengaruhi satu sama lain sepanjang waktu.
Kedua, level kelompok. Level analisis ini terfokus pada hubungan antara pemimpin dengan kelompok pengikut kolektif yang disebut proses kelompok. Teori proses kelompok memfokuskan pada kontribusi seorang pemimpin terhadap efektivitas kelompok. Penelitian mendalam tentang beberapa kelompok kecil telah mengidentifikasi faktor determinan penting bagi efektivitas kelompok.
Ketiga, level organisasi. Level analisis ini terfokus pada organisasi sehingga lazim disebut proses organisasi. Kinerja organisasi dalam jangka panjang tergantung pada penyesuaian secara efektif terhadap lingkungan dan perolehan sumber daya yang dibutuhkan untuk tetap hidup, serta pada proses transformasi efektif yang digunakan oleh organisasi untuk menghasilkan produk dan jasa. Sebagian hasil penelitian terakhir pada level organisasi menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari manajer level puncak terhadap kinerja organisasi (Lussier dan Achua, 2001: 14; Manz dan Sims, 2001: 2; Overton, 2002).
Keempat, level masyarakat. Level analisis ini banyak terfokus pada perilaku pemimpin informal dalam masyarakat pada umumnya. Corak kepemimpinan di masyarakat sangat dipengaruhi oleh tatanan nilai dan keyakinan serta norma-norma (adat, kesusilaan, hukum, agama) yang berkembang dalam masyarakat.
Paradigma Teori Kepemimpinan
Teori kepemimpinan merupakan penjelasan mengenai beberapa aspek kepemimpinan dan teori yang memiliki nilai praktis karena digunakan untuk memahami, memprediksi dan mengendalikan sukses kepemimpinan secara lebih baik. Minimal ada empat klasifikasi teori kepemimpinan atau pendekatan penelitian untuk menjelaskan kepemimpinan. Klasifikasi teori kepemimpinan – yang dalam tulisan ini disebut gaya kepemimpinan – mencakup pembawaan, keperilakuan, kontingensi dan integratif.
Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa paradigma kepemimpinan merupakan bagian dari pola pikir yang mewakili cara berpikir, mempersepsikan, mempelajari, meneliti dan memahami kepemimpinan secara fundamental. Keempat klasifikasi teori kepemimpinan utama tersebut juga mewakili perubahan paradigma kepemimpinan (Lussier dan Achua, 2001: 14-19).
Paradigma Teori Pembawaan (Sifat)
Kajian
kepemimpinan pada mulanya didasarkan pada asumsi bahwa pemimpin dilahirkan,
tidak dibuat. Peneliti kemudian mengidentifikasi serangkaian pembawaan pemimpin
yang membedakan dengan pengikutnya, serta pemimpin efektif dengan pemimpin
tidak efektif. Teori pembawaan kepemimpinan mencoba menjelaskan karakteristik
khusus kepemimpinan yang efektif. Peneliti menganalisis pembawaan fisik dan
psikologis serta kualitas, seperti level kemampuan yang tinggi, keagresifan,
kepercayaan pada diri sendiri, daya persuasif yang dimiliki dan kekuasaannya
dalam mengidentifikasi serangkaian pembawaan yang dimiliki oleh pemimpin yang
sukses. Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa, keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat dan perangai pemimpin tersebut. Sifat-sifat tersebut
dapat berupa sifat fisik, sosial dan psikologis (Introducing Leadership
Studies, 2001: 18; Leadership, 2001: 1; Sadler, 2001: 11).
Atas dasar
pemikiran di atas ada anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang
berhasil sangat ditentukan kemampuan pribadi pemimpin. Karena itu, timbul usaha
dari para ahli untuk meneliti dan merinci kualitas seorang pemimpin yang
berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya, kemudian hasilnya diformulasikan
ke dalam sifat-sifat umum seorang pemimpin. Usaha tersebut berkembang menjadi teori
kepemimpinan yang disebut “teori sifat kepemimpinan” (Robbins, at.al., 1994:
469).
|
Teori Sifat atau Pembawaan
(Sumber: Diadaptasi dari Chapter Seventeen, Leadership, 2001,
The McGraw-Hill Company, Inc.)
Bakat-bakat kepemimpinan:
merepresentasikan karakteristik personal yang membedakan para pemimpin dari
bawahannya.
·
Temuan historis
menunjukkan bahwa pemimpin dan bawahan dibedakan berdasarkan:
-
intelijensi,
-
dominasi
-
kepercayaan diri
-
tingkat energi dan
aktivitas
-
pengetahuan yang
relevan dengan tugas
·
Temuan kontemporer
menunjukkan bahwa:
-
orang cenderung
mempersepsikan seseorang selaku pemimpin ketika menunjukkan bakat yang
berhubungan dengan intelijensi, maskulinitas dan dominasi
-
orang mengharapkan
pemimpin tersebut menjadi kredibel
- pemimpin yang kredibel adalah pemimpin yang jujur, berpandangan jauh
ke depan dan cakap.
|
Daftar
pembawaan digunakan sebagai prasyarat untuk mengusulkan calon untuk menduduki
posisi kepemimpinan. Calon yang bisa diberi kesempatan menduduki posisi
kepemimpinan adalah yang memiliki semua pembawaan yang diidentifikasi. Namun,
tidak satu pun yang menjadi daftar pembawaan universal yang dimiliki oleh
pemimpin sukses atau pembawaan yang menjamin keberhasilan kepemimpinan.
Pertanyaannya, perangai bagaimana yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin.
Ternyata hasil usaha yang dilakukan oleh para pakar sangat heterogen sehingga
timbul keraguan terhadap hasil tersebut. Sisi positifnya ialah meskipun tidak
ada daftar yang menjamin keberhasilan kepemimpinan, namun pembawaan yang
terkait dengan keberhasilan kepemimpinan dapat teridentifikasi.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Level Analisis Teori Kepemimpinan"
Posting Komentar