Setelah pada
awal tahun lima puluhan diketahui bahwa penyelidikan mengenai ciri-ciri
kepemimpinan tidak berhasil, para pakar dan peneliti kepemimpinan memulai
mempelajari tingkah laku pemimpin. Tingkah laku pemimpin lebih terkait dengan
proses kepemimpinan. Karena itu, ada dua dimensi utama kepemimpinan yang
dikenal dengan nama konsiderasi dan struktur inisiasi. Dua macam kecenderungan
perilaku kepemimpinan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari
masalah fungsi dan gaya kepemimpinan.
Teori Gaya Keperilakuan
(Sumber: Diadaptasi dari Chapter Seventeen, Leadership, 2001,
The McGraw-Hill Company, Inc.)
·
Studi Ohio State
University mengidentifikasi dua dimensi penting
perilaku pemimpin
(1)
Konsiderasi:
menciptakan respek dan kepercayaan timbal-balik dengan bawahan
(2)
Inisiasi struktur:
mengorganisir dan meredefinisi apa-apa yang akan dikerjakan oleh anggota
kelompok
·
Studi Michigan
University mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan
yang sama dengan studi yang dilakukan oleh Ohio State University.
= salah satu gaya terfokus pada pekerja
dan gaya yang satunya terfokus pada pekerjaan
· Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan
yang terbaik. Efektivitas gaya kepemimpinan tertentu tergantung pada situasi
di mana gaya tersebut diterapkan.
|
Berdasarkan
tabel di atas dapat dipahami bahwa perilaku pemimpin yang efektif melakukan
konsiderasi tergantung pada aspek berikut:
·
Kepuasan pengikut terhadap pemimpin
tergantung pada derajat konsiderasi yang ditunjukkan oleh pemimpin.
·
Konsiderasi pemimpin lebih
berpengaruh terhadap pengikut ketika pekerjaan tidak menyenangkan dan mendesak,
dari pada ketika pekerjaan menyenangkan dan tidak mendesak.
·
Pemimpin yang menunjukkan
konsiderasi dapat melakukan inisiasi struktur yang lebih banyak tanpa
mengurangi kepuasan pengikutnya.
·
Konsiderasi yang diberikan sebagai
respons terhadap kinerja yang baik akan meningkatkan kemungkinan kinerja yang
baik di masa depan.
Sedangkan perilaku pemimpin yang efektif melakukan inisiasi struktur
adalah:
·
Inisiasi struktur yang memperjelas
peran tambahan akan meningkatkan kepuasan.
·
Inisiasi struktur akan menyurutkan
kepuasan pengikut ketika struktur tersebut sudah tersedia.
·
Inisiasi struktur akan
meningkatkan kinerja ketika tugas tidak jelas.
·
Inisiasi struktur tidak akan
mempengaruhi kinerja ketika tugas jelas (Leadership, 2001: 2).
Uraian di
atas memperjelas bahwa teori kepemimpinan perilaku mencoba menjelaskan keunikan
gaya yang digunakan oleh pemimpin yang efektif, atau memahami sifat-sifat
pekerjaan pemimpin. Sepuluh peran manajerial dari Henry Minzberg merupakan
salah satu contoh teori kepemimpinan perilaku. Peneliti perilaku menekankan
pada penemuan cara mengklasifikasikan perilaku yang dapat memberikan pemahanan
mengenai kepemimpinan.
Paradigma Teori
Kepemimpinan Kontigensi
Pada mulanya,
teori kepemimpinan yang dibangun oleh Fiedler ini menekankan pada dua sasaran,
yakni melakukan idenfikasi faktor-faktor penting dalam situasi tertentu dan
memperkirakan gaya atau perilaku kepemimpinan yang paling efektif dalam situasi
tertentu. Hasil penelitian Fiedler menunjukkan bahwa, dalam situasi kerja
selalu ada tiga elemen yang menentukan gaya kepemimpinan yang efektif, yakni:
hubungan pemimpin dengan bawahan, struktur tugas dan ketangguhan posisi
pemimpin.
Teori
kepemimpinan kontingensi menjelaskan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
pemimpin, pengikut dan situasinya. Paradigma teori ini menekankan pentingnya
faktor situasional, termasuk sifat pekerjaan yang dilakukan, lingkungan
eksternal dan karakteristik pengikut. Selain itu, dikenal pula teori
kepemimpinan situasional (Robbins, at.al., 1994: 483) yang dikembangkan dari
teori kepemimpinan model kontingensi Fiedler ini. Berdasarkan teori ini, gaya
kepemimpinan yang paling efektif adalah gaya kepemimpinan yang disesuaikan
dengan tingakat kedewasaan bawahan. Namun, Hersey dan Blanchard tidak merinci
dan memberikan definisi kedewasaan sebagai suatu tingkat kemantapan emosional.
Paradigma Teori
Kepemimpinan Integratif
Pada paruh sampai akhir tahun 1970an, paradigma
kepemimpinan mulai berubah menjadi paradigma integratif atau teori kharismatik
baru. Sesuai namanya, teori kepemimpinan integratif ini memadukan teori
pembawaan, perilaku dan kontingensi untuk menjelaskan kesuksesan dan pengaruh
hubungan antara pemimpin dan pengikut. Peneliti berusaha menjelaskan mengapa
pengikut pemimpin tertentu mempunyai keinginan bekerja keras dan rela berkorban
untuk mencapai tujuan kelompoknya. Di samping itu, menjelaskan bagaimana
seorang pemimpin secara efektif mempengaruhi perilaku pengikutnya, serta
mengapa perilaku pemimpin yang sama dapat membawa dampak yang berbeda pada
pengikutnya dalam situasi tertentu.Paradigma Teori
Kepemimpinan Perilaku
Setelah pada
awal tahun lima puluhan diketahui bahwa penyelidikan mengenai ciri-ciri
kepemimpinan tidak berhasil, para pakar dan peneliti kepemimpinan memulai
mempelajari tingkah laku pemimpin. Tingkah laku pemimpin lebih terkait dengan
proses kepemimpinan. Karena itu, ada dua dimensi utama kepemimpinan yang
dikenal dengan nama konsiderasi dan struktur inisiasi. Dua macam kecenderungan
perilaku kepemimpinan tersebut pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari
masalah fungsi dan gaya kepemimpinan.
Teori Gaya Keperilakuan
(Sumber: Diadaptasi dari Chapter Seventeen, Leadership, 2001,
The McGraw-Hill Company, Inc.)
·
Studi Ohio State
University mengidentifikasi dua dimensi penting
perilaku pemimpin
(1)
Konsiderasi:
menciptakan respek dan kepercayaan timbal-balik dengan bawahan
(2)
Inisiasi struktur:
mengorganisir dan meredefinisi apa-apa yang akan dikerjakan oleh anggota
kelompok
·
Studi Michigan
University mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan
yang sama dengan studi yang dilakukan oleh Ohio State University.
= salah satu gaya terfokus pada pekerja
dan gaya yang satunya terfokus pada pekerjaan
· Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan
yang terbaik. Efektivitas gaya kepemimpinan tertentu tergantung pada situasi
di mana gaya tersebut diterapkan.
|
Berdasarkan
tabel di atas dapat dipahami bahwa perilaku pemimpin yang efektif melakukan
konsiderasi tergantung pada aspek berikut:
·
Kepuasan pengikut terhadap pemimpin
tergantung pada derajat konsiderasi yang ditunjukkan oleh pemimpin.
·
Konsiderasi pemimpin lebih
berpengaruh terhadap pengikut ketika pekerjaan tidak menyenangkan dan mendesak,
dari pada ketika pekerjaan menyenangkan dan tidak mendesak.
·
Pemimpin yang menunjukkan
konsiderasi dapat melakukan inisiasi struktur yang lebih banyak tanpa
mengurangi kepuasan pengikutnya.
·
Konsiderasi yang diberikan sebagai
respons terhadap kinerja yang baik akan meningkatkan kemungkinan kinerja yang
baik di masa depan.
Sedangkan perilaku pemimpin yang efektif melakukan inisiasi struktur
adalah:
·
Inisiasi struktur yang memperjelas
peran tambahan akan meningkatkan kepuasan.
·
Inisiasi struktur akan menyurutkan
kepuasan pengikut ketika struktur tersebut sudah tersedia.
·
Inisiasi struktur akan
meningkatkan kinerja ketika tugas tidak jelas.
·
Inisiasi struktur tidak akan
mempengaruhi kinerja ketika tugas jelas (Leadership, 2001: 2).
Uraian di
atas memperjelas bahwa teori kepemimpinan perilaku mencoba menjelaskan keunikan
gaya yang digunakan oleh pemimpin yang efektif, atau memahami sifat-sifat
pekerjaan pemimpin. Sepuluh peran manajerial dari Henry Minzberg merupakan
salah satu contoh teori kepemimpinan perilaku. Peneliti perilaku menekankan
pada penemuan cara mengklasifikasikan perilaku yang dapat memberikan pemahanan
mengenai kepemimpinan.
Paradigma Teori
Kepemimpinan Kontigensi
Pada mulanya,
teori kepemimpinan yang dibangun oleh Fiedler ini menekankan pada dua sasaran,
yakni melakukan idenfikasi faktor-faktor penting dalam situasi tertentu dan
memperkirakan gaya atau perilaku kepemimpinan yang paling efektif dalam situasi
tertentu. Hasil penelitian Fiedler menunjukkan bahwa, dalam situasi kerja
selalu ada tiga elemen yang menentukan gaya kepemimpinan yang efektif, yakni:
hubungan pemimpin dengan bawahan, struktur tugas dan ketangguhan posisi
pemimpin.
Teori
kepemimpinan kontingensi menjelaskan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
pemimpin, pengikut dan situasinya. Paradigma teori ini menekankan pentingnya
faktor situasional, termasuk sifat pekerjaan yang dilakukan, lingkungan
eksternal dan karakteristik pengikut. Selain itu, dikenal pula teori
kepemimpinan situasional (Robbins, at.al., 1994: 483) yang dikembangkan dari
teori kepemimpinan model kontingensi Fiedler ini. Berdasarkan teori ini, gaya
kepemimpinan yang paling efektif adalah gaya kepemimpinan yang disesuaikan
dengan tingakat kedewasaan bawahan. Namun, Hersey dan Blanchard tidak merinci
dan memberikan definisi kedewasaan sebagai suatu tingkat kemantapan emosional.
Paradigma Teori
Kepemimpinan Integratif
Pada paruh sampai akhir tahun 1970an, paradigma
kepemimpinan mulai berubah menjadi paradigma integratif atau teori kharismatik
baru. Sesuai namanya, teori kepemimpinan integratif ini memadukan teori
pembawaan, perilaku dan kontingensi untuk menjelaskan kesuksesan dan pengaruh
hubungan antara pemimpin dan pengikut. Peneliti berusaha menjelaskan mengapa
pengikut pemimpin tertentu mempunyai keinginan bekerja keras dan rela berkorban
untuk mencapai tujuan kelompoknya. Di samping itu, menjelaskan bagaimana
seorang pemimpin secara efektif mempengaruhi perilaku pengikutnya, serta
mengapa perilaku pemimpin yang sama dapat membawa dampak yang berbeda pada
pengikutnya dalam situasi tertentu.
Belum ada tanggapan untuk "Paradigma Teori Kepemimpinan Perilaku"
Posting Komentar