Cara untuk menentukan struktur organisasi yang efektif
agar tidak “gemuk” dan tidak “kurus” pula ?
Struktur organisasi yang ada
pada sebuah lembaga adalah gambaran dari pemimpin lembaga tentang peran, fungsi
dan posisi dari lembaga tersebut. Pada lembaga yang setipikal sekalipun,
seperti lembaga dakwah kampus, bentuk struktur organisasi bisa berbeda sama
sekali. Oleh karena itu memang tidak ada struktur baku untuk sebuah organisasi,
bisa berubah setiap tahunnya, dan itu bukanlah hal yang salah. Sekali lagi
bahwa struktur organisasi adalah gambaran pemimpin memandang sebuah lembaga.
Saya akan mencoba memberikan
gambaran untuk mempermudah bagaimana menentukan sebuah struktur untuk studi
kasus lembaga dakwah kampus, sesuai dengan apa yang Kita bicarakan dalam buku
ini. Secara fungsional lembaga dakwah
kampus mempunyai dua peran utama, yakni Kaderisasi dan Syiar. Ini peran utama yang harus selalu ada dalam
sebuah lembaga dakwah kampus, basis dasar dari alasan adanya dua peraan ini adalah
surat Ali Imran ayat 79 tentang keseimbangan antara dakwah ( baca : syiar ) dan
tarbiyah ( baca : kaderisasi ). Untuk
memudahkan pembahasaan, saya akan mengganti istilah peran dengan sektor dakwah
(menyesuaikan dengan kebiasaan di kampus).
Untuk mendukun kedua sektor
dakwah ini, dibutuhkan sektor pendukung ( supporting
system ) dari dua sisi, yang pertama sektor
pendukung internal yakni dana, dan sektor
pendukung eksternal yakni jaringan. Sektor pendukung internal dalam hal ini
kebutuhan untuk menyukseskan agenda syiar dan kaderisasi dalam bentuk dana,
dana dalam dakwah ibarat oli yang mempermulus perputaran roda dakwah. Kebutuhan
dana saat ini adalah hal yang mutlak. Selanjutnya sektor pendukung eksternal
adalah jaringan, yang dimana dengan jaringan yang dimiliki oleh lembaga dakwah,
dapat mengembangkan sayap dakwah, serta dukungan eksternal ini dapat
mempermudah sumber dana, kredibilitas lembaga dan menguatkan jaringan dakwah
yang ada.
Terakhir ada 2 sektor istimewa
yang bisa diadakan sesuai dengan kapasitas
lembaga dakwah, jika memang kapasitas lembaga belum stabil maka sektor ini bisa
menjadi sub-sektor dari sektor yang ada. Sektor
istimewa pertama adalah sektor kemuslimahan, ia berperan dalam
mengkoordiniir muslimah di kampus ( penjelasan lebih lengkap pada bagian ”urgensi
dan lingkup dakwah muslimah”). Jika belum memungkinkan sebagai sebuah sektor
maka kemuslimahan dapat fokus pada syiar muslimah terlebih dahulu, sehingga
dapat menjadi sub-sektor di bawah syiar.
Sektor selanjutnya yang merupakan sektor
istimewa adalah akademik dan profesi, dimana akan berperan dalam
mengelola dan menjaga kompetensi akademik dan profesi kader, serta bisa sebagai
sarana untuk syiar berbasis kompetensi. karena peran pembinaan sangat kental
disini, maka jika belum memungkinkan menjadi sebuah sektor, akademik dan
profesi dapat menjadi sub-sektor di bawah kaderisasi.
Untuk menunjang aktifitas
dakwah kampus diperlukan pula perangkat tambahan organisasi yang bertugas untuk
menunjang kinerja sektor yang ada, perangkat tambahan yang pertama terkait
administrasi dan koordinasi dakwah yang terdiri dari sekJen,
administrasi/sekretaris, bendaraha, litbang, kajian strategis, dan tim reaksi
cepat. Selanjutanya kita juga mengenal
badan semi otonom, dimana ini merupakan badan khusus yang dibangun
dengan tugas khusus, dan biasanya memiliki peran yang tidak langsung menunjang
sektor utama syiar dan kaderisasi, seperti pembinaan adik asuh, tim beasiswa,
dan palestina centre.
Dari pemaparan tiga paragraf
diatas dapat di ikhtisarkan bahwa terdapat 6 sektor dakwah dan dua perangkat
tambahan dalam sebuah lembaga dakwah
kampus, yakni ;
1.
Sektor Kaderisasi ( utama )
2.
Sektor Syiar ( utama )
3.
Sektor Dana ( pendukung )
4.
Sektor Jaringan ( pendukung )
5.
Sektor Kemuslimahan ( istimewa )
6.
Sektor Akademik dan Profesi (
istimewa )
1.
Badan semi otonom ( perangkat
tambahan )
2.
Administrasi dan koordinasi dakwah
( perangkat tambahan )
Dari keenam sektor ini bisa
diturunkan lagi menjadi sub sektor, tergantung kebutuhan dan kapasitas kader
dalam sebuah lembaga.
1.
Sektor Kaderisasi
a.
Mentoring
b. Kekeluargaan
c.
Kurikulum
d. Database
dan Manajemen Kader
e. Pengembangan
Organisasi
2.
Sektor Syiar
a.
Syiar Multimedia
b. Syiar
event
c.
Syiar pelayanan
d. Humas
kampus
3.
Sektor Dana
a.
Ekonomi
b. BMT
c.
Pengembangan ekonomi syariah
d. Unit
usaha mandiri
4.
Sektor Jaringan
a.
Humas eksternal kampus
b. FSLDK
5.
Sektor Kemuslimahan
a.
Syiar muslimah
b. Kaderisasi
muslimah
c.
Jaringan muslimah
6.
Sektor Akademik dan Profesi
a.
Akademik
b. Profesi
c.
Tim IT
d. Jaringan
Baca
Bagaimana cara untuk menentukan kebutuhan dari
struktur organisasi ? pengamatan saya sejauh ini menunjukkan bahwa struktur
organisasi dibuat terlebih dahulu, lalu setelah itu dibuat visi lembaga. Secara
proses ini merupakan hal yang salah. Karena visi dan misi lah yang nantinya
akan menjadi landasan untuk menyusun struktur yang ada. Jika memang visi
lembaga Anda tidak membutuhkan bidang akademik profesi, maka tidak perlu
memaksakan ada bidang ini. Proses penyusunan struktur adalah sebagai berikut ;
Sebagai
contoh saya ambil dari LDK GAMAIS ITB:
Visi
satu keluarga menjadi model LDK
Nasional berbasis pembinaan dan kompetensi, melingkupi seluruh sayap dakwah
menuju Indonesia Islami
Misi
·
Terbentuknya
kader-kader sesuai profil gamais ITB melalui pembinaan yang tepat dan
berkelanjutan serta pengokohan ukhwah untuk mendukung suksesnya dakwah di ITB
·
Syiar dan
pelayanan kampus yang mengakar dan menyentuh seluruh elemen kampus
·
Menjadikan
GAMAIS sebagai LDK yang Mandiri Finansial 2010 dan Pelayan Ekonomi Ummat 2013
·
membentuk mahasiswa ITB yang berprestasi, mencintai ilmu
pengetahuan, dan berkontribusi nyata.
·
Berbasiskan
jaringan yang luas dan kuat, menjadikan GAMAIS ITB sebagai akselerator dakwah
kampus Nasional serta inisiator dakwah kampus Internasional
·
Menuju Muslimah ITB
yang Berkepribadian Islami
Struktur Organisasi
Bisa dilihat dari contoh diatas bahwa enam misi yang
ada memunculkan 6 sektor dakwah di lembaga dakwah ini. Proses ini memang tidak baku, akan tetapi
ketika berpikir akan rencana dakwah, kita harus mampu berpikir dari hal yang global
baru diturunkan dalam hal yang lebih detail. Saya masih menggunakan istilah BJ
Habibie, bermula dari akhir, berakhir
dari awal. Setelah ada struktur ini barulah menyusun program kerja terkait
dari masing-masing sektor yang ada.
Dalam menentukan bentuk organisasi, ada beberapa hal
lain yang perlu diperhatikan, antara lain ; (1) Kuantitas kader dakwah, dimana
jangan sampai kondisi sebuah sektor tidak ideal komposisi staffnya dikarenakan
terlalu banyak sektor yang ada, coba bandingkan komposisi kader dengan program
kerja agar tidak ada yang dizalimi. (2) lingkup dakwah kampus, setiap lembaga
mempunyai lingkup dakwah yang berbeda, ada yang sebatas kader, ada yang
mencakup seluruh mahasiswa, ada yang hingga seluruh civitas akademika sebuah kampus, ada yang hingga lingkup nasional.
(3) kapasitas internal kepala sektor, jika kepala sektor memiliki kemampuan
yang lebih, maka bisa dibentuk beberapa sub-sektor pada sebuah sektor, akan
tetapi jika kapasitas internal seorang kepala sektor tidak begitu kuat, maka
tidak perlu ada sub-sektor, dikoordinir saja dengan sektor yang ada, akan
tetapi didukung staff yang kuat.
Belum ada tanggapan untuk "Membuat Struktur Organisasi"
Posting Komentar