Awalnya perusahaan berupaya memperbaiki produk, pelayanan, dan inovasinya melalui “continues improvement” dan “breakthrough strategies”. Cari ini menghasilkan konsep yang dikenal dengan nama Total Quality Management (TQM) dan Business Process Reengineering). Namun perusahaan menemukan fakta bahwa kegagalan atau juga keberhasilan program-program tadi sangat ditentukan oleh faktor manusia (human factors) seperti : ketrampilan, sikap dan budaya organisasi.
Organisasi terutama dalam area globalisasi ini menghadapi sejumlah tantangan. Ada tantangan internal seperti halnya ada tantangan eksternal. Tantangan internal dikelompokkan dalam lima wilayah aktifitas bisnis meliputi orang, barang dan jasa, keuangan, fasilitas dan pemasaran. Tantangan eksternal dapat dibedakan ke dalam lingkungan ekonomi, teknologi, lingkungan politik/hukum, lingkungan sosial budaya dan lingkungan global.
Tingkatan belajar, pada tingkat individual adalah memperoleh pengetahuan, pemahaman dan keterampilan. Pada tingkat organisasi adalah mengubah persepsi, visi, strategi dan mengalihkan pengetahuan. Pada tingkat individual dan organisasi penemuan dan pembaharuan-penciptaan, penjajagan pengetahuan baru, pemahaman gagasan-gagasan baru.
Belajar seringkali didefinisikan sebagai suatu proses yang saling berhubungan dalam perubahan perilaku yang terjadi sebagai akibat pengalaman-pengalaman yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan. Belajar juga sering dipahami sebagai suatu kemahiran dalam keterampilan, pengetahuan , kemampuan dan sikap yang mana mempengaruhi deskripsi dan diagnosa pada setiap kejadian dan orang.
Ada beberapa setting yang berhubungan dengan prinsip-prinsip belajar yang coba untuk dijelaskan apa dan bagaimana belajar terjadi. Di dalam lingkup teknologi pendidikan , area yang pertama untuk diselidiki adalah perilaku terhadap situasi atau respon, modifikasi perilaku tanggapan yang diharapkan untuk dilaksanakan melalui stimulus tertentu. Menurut Romiszowski (1981) pengembangan lebih awal dari teknologi bidang pendidikan ini disebut ’teknologi perilaku’. Hal ini telah didapatkan bahwasannya tidak semua tugas-tugas belajar, terutama sekali pada tingkat keinginan yang tinggi dalam menyelesaikan masalah, tidaklah mudah untuk menganalisis bagian-bagian dalam perilaku. Oleh karenanya pendekatan-pendekatan alternatif dibutuhkan ketika dalam cakupan yang luas dan Romiszowski menyebutnya ini adalah’instruksi teknologi’ pendidikan yang berkembang. Perkembangan ini tidaklah cukup, sejak aplikasinya dibatasi dalam pendidikan formal dan pelatihan. Di dalam lingkungan bisnis dan industri, instruksi bukanlah satu-satunya yang dapat mempengaruhi perubahan (dimana terjadi improvisasi penampilan kerja), dalam proses belajar secara luas disebut ’performa teknologi’.
[5]
Organisasi Belajar lebih dari sekedar pelatihan (training). Pelatihan membantu seseorang mengembangkan ketrampilan dalam bidang tertentu, sedangkan organisasi belajar mengembangkan ketrampilan dan pengetahuan pada tingkat yang lebih tinggi. Ada 4 tipe pembelajaran yang dikembangkan dalam organisasi belajar.
· Pertama : Mempelajari fakta-fakta, pengetahuan, proses, dan prosedur. Diaplikasikan pada situasi buruk yang telah diketahui.
· Kedua : Mempelajari ketrampilan kerja baru yang bisa ditransfer ke situasi lain. Diaplikasikan pada situasi baru yang memerlukan perubahan. Membawa pakar dari luar organisasi merupakan cara yang bermanfaat.
· Ketiga : Belajar beradaptasi. Diaplikasikan pada situasi yang lebih dinamis, di mana perlu dikembangkan cara pemecahan masalah. Percobaan (eksperimen), dan menarik pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan organisasi lain merupakan cara pembelajaran yang tepat.
· Keempat : Belajar mempelajari sesuatu. Di sini kita bicarakan inovasi dan kreativitas; merancang masa depan, tidak sekedar beradaptasi. Jika organisasi sudah mencapai tingkat ini maka yang dijadikan sasaran tidak hanya pada organisasi, melainkan juga pada semangat industrial. Keempat tipe pembelajaran tersebut dapat diaplikasikan ke tiga tingkat peserta belajar : INDIVIDU – KELOMPOK – ORGANISASI. Semua kontribusi dari hasil pengembangan organisasi belajar berpulang pada kesiapan teknolog pembelajaran untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.
Beberapa karakteristik dasar adalah bahwa pembelajaran berlangsung dalam individu, kelompok, organisasi dan bahkan di masyarakat tempat organisasi berinteraksi. Pembelajaran adalah proses yang dilakukan terus menerus berinteraksi dengan pembelajaran, dan dijalankan secara paralel untuk melakukan tugas. Hasil pembelajaran memiliki perubahan dalam pengetahuan, kepercayaan dan perilaku. Pembelajaran meningkatkan kapasitas keorganisasian untuk berinovasi dan berkembang. Organisasi telah menggunakan sistem untuk menangkap dan membagi pembelajaran.
Sebuah pandangan yang menyeluruh terhadap organisasi pembelajaran adalah organisasi merupakan sebuah tempat dimana pembelajaran dimulai pada tingkat individu, dilanjutkan pada tingkat kelompok dan dikumpulkan, disusun dan disimpan pada tingkatan proses dan sistem agar dibangun dengan baik bahwa setiap orang yang datang dan berhubungan dengan mereka mampu untuk ikut berpartisipasi dalam organisasi dalam sikap yang konsisten. Art Kleiner penyusun buku Fifth Discipline Fieldbook mengutarakan bahwa gagasan organisasi belajar disebar luaskan guna :Mencapai kinerja tinggi dan memenangkan persaingan, Hubungan dengan pelanggan lebih baik, Menghindari penurunan, Memperbaiki kualitas, Memunculkan inovasi, Memenuhi kebutuhan pribadi dan spiritual, Meningkatkan kemampuan kita dalam mengelola perubahan, Bisa saling memahami, Memperluas batasan-batasan, Memperoleh kebebasan, Menghargai saling ketergantungan.
Belum ada tanggapan untuk "MENGAPA PERLU MEMBANGUN ORGANISASI BELAJAR ?"
Posting Komentar