Pada tingkat ini, prilaku yang digunakan untuk berkomunikasi lama-lama makin abstrak.
Isyarat yang kompleks – Ketika
Lee mampu menggunakan sedikit isyarat sederhana
lalu isyarat yang lebih banyak lagi dapat diajarkan. Pikirkan soal
isyarat yang kita kadang-kadang gunakan
Contoh
Isyarat “Ingin”
Isyarat “Letakkan disini”
Mengangkat bahu untuk menunjukkan
“Saya tidak tahu”
Isyarat “Kesini”
Menggelengkan kepada “Tidak atau
Ya”
Simbol bagian dari objek – Ketika Lee telah belajar untuk
mengasosiasikan isyarat objek dengan orang atau kegiatan pada program
komunikasi yang terbuka (lihat lembar informasi Komunikasi yang terbuka), Lee
mampu untuk menggunakan simbol bagian dari objek yang diasosiasikan dengan
kegiatan sebagai cara untuk mengekspresikan
keinginan dan kebutuhan Lee.
Contoh
Tangan memegang tempat pegangan
kepada guru untuk meminta latihan sepeda
Menekan tombol pada alat yang
dapat bicara yang membutuhkan sentuhan untuk mengaktifkannya yang memiliki
objek yang kecil yang ditempelkan ke masing-masing tombol.
Menyalurkan 1 atau 5 objek yang
kecil (ditempel di bak kursi
roda) kepada guru untuk menunjukkan dimana Lee ingin pergi.
Gambar dan gambar jiplakan
– Lee mungkin memiliki penglihatan cukup (bila Lee menggunakan kacamatanya)
untuk melihat gambar-gambar jiplakan
(gambar berwarna hitam) walaupun Lee tidak dapat mengenali foto. Garis sedikit lebih murah daripada symbol bagian objek
dan membutuhkan sedikit waktu untuk menemukannya. Jika Lee dapat melihat dan mengerti hal tersebut, kita dapat
menggunakannnya bila kita ingin meningkatkan kosa kata Lee.
Contoh
Pilih gambar ayunan untuk
menunjukkan “saya ingin naik ayunan”
Tekan pilihan 3 dengan gambar
ember unutk menunjukkan “Perlu ember untuk membersihkan meja di kafetaria”
Menunjuk gambar garis segi empat
merah untuk menunjukkan “Letakkan saya di tikar merah’
Komunikasi simbolik
Isyarat, kata-kata tertulis,
sistem dengan huruf braille dan kata-kata yang diucapkan adalah simbol yang
sesungguhnya. Lee harus mengerti bahwa ada suatu hubungan 1 : 1 antara simbol dengan
benda/orang/kegiatan. Symbol merupakan singkatan dari atau melambangkan ke
sesuatu yang nyata. Hal tersebut sangat
sulit untuk beberapa anak. Jika Lee memiliki kemampuan kognitif yang cukup ,
Lee mungkin mampu untuk menggunakan sistem elektronik dengan hasil berupa kata
yang diucapkan. Sistem simbol Lee mungkin dapat berupa huruf pada keyboard yang
besar atau keyboard dengan huruf braille, tergantung pada penglihatan Lee serta
kemampuan kognitif dan motorik.
Beberapa anak dapat diajarkan
metode komunikasi yang bermacam-macam secara bersamaan. Sementara satu metode
dikuasai, metode selanjutnya dapat diperkenalkan.
Perkembangan komunikasi yang
progresif.
Para
orang tua dan penyedia jasa layanan perlu mempertimbangkan penglihatan anak,
pendengaran, motorik dan kemampuan kognitif. Mereka harus juga mempertimbangkan
umur anak dan kepada siapa anak akan berkomunikasi. Penting untuk diingat bahwa perkembangan komunikasi adalah
progresif. Hal tersebut berkembang (a) dari mudah hingga sulit (b) dari sedikit
hingga banyak cara (c) dari sedikit keinginan dan kebutuhan hingga banyak (d)
dari sedikit hingga banyak alasan (e) dengan sedikit hingga banyak orang.
Bagaimana kita menentukan sistem komunikasi ekpresif yang efektif dan efisien
untuk Lee?
Kemampuan melihat dan mendengar
Kapan Lee mulai kehilangan
penglihatan dan pendengaran ?
Apakah Lee memiliki kemampuan
mendengar (dengan alat bantu dengar) dan menirukan suara ?
Dapatkah Lee melihat bayangan
atau warna ?
Apakah Lee cukup dapat melihat
objek untuk mencapainya ?
Kemampuan Motorik
- Apa Lee dapat berpindah dari satu tempat ke tempat
yang lain?
- Apakah Lee memiliki rangkaian gerakan lengan dan
tangannya atau gerakan terbatas ?
- Jika Lee tidak dapat menggerakkan lengan dan
kakinya, dapatkah Lee menggerakkan wajahnya dari satu sisi ke sisi lain ?
- Dapatkah Lee memegang objek ?
- Apakah Lee memiliki kemampuan untuk menjauhkan
lengannya atau menunjuk
- Apakah Lee memiliki baki pada kursi roda untuk meletakkan objek,
tombol atau alat elektronik ?
Kemampuan kognitif
- Apakah Lee kelihatannya dapat belajar dengan cepat
?
- Apakah Lee menunjukkan bahwa dia mengetahui kemana
dia akan pergi dan apa yang terjadi ?
- Apa Lee bermotovasi untuk melakukan sesuatu ?
- Apakah Lee mencoba lagi dan lagi ketika Lee belajar
sesuatu yang baru ?
- Apakah Lee tersenyum ketika dia dapat menyelesaikan
tugasnya ?
Lee tidak harus belajar setiap
bentuk atau cara seperti yang disajikan diatas. Anda perlu untuk
mempertimbangkan kemampuan dan ketidakmampuan penglihatan, pendengaran, motorik
dan kognitif supaya (a) memperkuat komunikasinya saat ini (b) mengembangkan
cara baru untuk berkomunikasi (c) Merencanakan cara yang lebih efisien untuk
Lee untuk berkomunikasi di masa yang akan datang.
Ingat….hasil komunikasi terbaik
datang dari pembelajaran yang aktif. Tiap orang pada lingkungan harus bersikap
responsif, konsisten dan memberikan banyak kesempatan yang berbeda untuk
berkomunikasi.
Bacaan yang disarankan
Rowland, C., & Schweigert, P.
(1989). Tangible symbol systems for individuals with multisendory
impairments. Tucson:
Communication Skill Builders.
Rowland, C., &
Stremel-Campbell, K. (1987). Share and share alike. Conventional isyarats through
emergent language. In D. Guess, L. Goetz & K. Stremel-Campbell (Eds.),
Innovative program design for individuals with dual sensory impairments (pp.
45-75). Baltimore:Paul
H. Brookes.
Stremel, K & Schutz, R.
Functional communication in integrated settings for students who are deaf
blind. In N.G. Haring & L. T. Romer (Eds.), Including students with
deaf-blindness in typical educational settings. Baltimore: Paul H. Brookes.
Sumber Referensi
AbleNet,
Inc.1081.Tenth Avenue, S.E., Minneapolis,MN 55414-1312;
800-322-0956, fax 612-379-9143,
customerservice@ablenet.com,
http:/www.ablenet.com
Hope Catallog. Hope Inc. 55 East
100 North,
Ste 203,
Logan, UT
84321-4648: tel/fax
435-752-9533,
hope@n1.net.
Mayer-Johnson Company Non-speech
Communication Products
P.O. Box
1579, Solana Beach, CA 92075-7579,
619-550-0084, fax 619-550-0449,
Mayer@aol.com
Sumber tambahan
California
Deaf-Blind Services, 1992. Communication; what is he trying to tell me? Fact
Sheets from California
Deaf-Blind Services.
Ringkasan bagaimana cara anak
yang buta-tulidapat mencoba berkomunikasi yang diikuti dengan langkah-langkah
yang disarankan lebih lanjut untuk merespon prilaku komunikasi ini. Tersedia
dalam bahasa spanyol.
Fielding G., Bullis, M (ed) (1988). Communication
development in young children with deaf-blindness: literature review. Mommouth, OR,
Teaching Research Publication.
Diterbitkan sebagai bagian dari
Pusat Komunikasi Anak anak Buta Tuli. Tiap bab terminus 15-20 halaman yang membahas
aspek komunikasi tertentu dan juga tinjauan literatur.
Nelson, C. (1994). There’s more than one way to hold a conversation.
Living and Learning Together, vol. 1, no. 23, October 1994, 4-6.
Nelson membahas sifat dan
pentingnya komunikasi non simbolik untuk anak yang buta dan tuli. Ia menekankan
perlunya perhatian pada pengakuan dan respon terhadap pendekatan dan penarikan
isyarat bagi anak buta dan tuli. Pentingnya membangun suatu fokus yang memiliki
arti dalam setiap percakapan yang akan menciptakan kebutuhan untuk anak-anak
berkomunikasi juga ditekankan.
McFarland, S., Miles, B., Silberman, R., Riggio, M., Smithdas, R.,
& Smithdas, M. (1994). Communication with learners who are deaf-blind.
Summer Institute. Sands Point:Hunter
College.
Program ini ditawarkan lewat
Perkins Deaf-Blind Training Project, sebuah program yang memiliki tujuan
penting yang diberikan pada musim panas untuk memperbaiki layanan bagi pelajar
yang buta dan tuli. Kursus ini memberikan analisis yang komprehensif atas
kebutuhan komunikasi pelajar yang buta dan tuli. Dampak kehilangan sensorik
rangkap pada perkembangan komunikasi, prosedur penilaian dan strategi untuk
mengembangkan komunikasi non simbolik dan simbolik dibicarakan pada buku ini. Metodologi
komunikasi khusus khusus dan jenis mode komunikasi termasuk sistem tambahan
disajikan dalam buku ini.
Reyes, D. (1993). Access to
context: a basic need for deafblind people. Deafblind Education, July-December
1993, 5-9.
Artikel ini menerangkan
pertimbangan penulis terhadap apa masalah yang paling serius yang dihadapi oleh
orang buta dan tuli dalam suatu lingkungan yang “mendengar dan melihat”. Bagian
artikel ini menganalisa beberapa sumber yang tersedia dan beberapa sumber yang
perlu dikembangkan dengan tujuan untuk mencapai gaya hidup mandiri dan terintegrasi.
Sementara pengembangan penggunaan rasa, kemampuan mental dan ketrampilan
komunikasi maksimal dirasakan penting, kejernihan berpikir yang dilihat oleh
penulis sebagai kunci kesuksesan hidup mandiri.
Stremel, K., Molden, V., Leister, C., Matthews J., Wilson, R., Goodall,
de V., & Holston, J. (1990). Communication systems and routines: a
decision-making process. University
of Southern Mississippi.
Manual ini diproduksi dibiayai
dana GOO8730414 dari OSER. Tujuan pokok untuk anak dengan berbagai jenis cacat
di area perkembangan komunikasi adalah untuk membantu anak lewat interaksi
sosial dan pengaturan lingkungan supaya mampu berkomunikasi dengan cara
seefektif mungkin, untuk semua jenis orang dan dalam suatu situasi sosial dan lingkungan
yang luas. Pekerjaan pengintervensi (interventionist)
adalah untuk menggerakkan anak dan interaktor utama dalam mengarahkan dengan
sedikit “alasan”. Mengetahui dimana untuk memulai, arah yang diambil,
mengantisipasi perubahan sepanjang jalan dan mengetahui kapan kita ada, akan
menjadi dasar proses mengambil keputusan. Manual ini mngulas tentang pengajaran
prilaku komunikatif, komunikasi yang dapat diterima (receptive) dan komunikasi ekspresif untuk anak dengan penglihatan,
pendengaran dan kerusakan motorik lewat proses pengambilan keputusan. Termasuk
diagram, bagan, contoh dan IFSP.
Belum ada tanggapan untuk "Munculnya Komunikasi Simbolik"
Posting Komentar