Penyakit jantung merupakan penyebab kematian meternal ke-3 dan penyebab utama kematian dalam penyebab kematian maternal nonobstretrik. Penyakit jantung terjadi pada 1-4% dari kehamilan pada permpuan-perempuan yang tanpa gejala kelainan jantung sebelumnya. Keadaan-keadaan tersebut membuat dokter harus waspada akan kesulitan-kesulitan yang dapat timbul ketika mereka hamil. Beberapa penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti emboli paru, aritmia preklampsia, dan kardiomiopati peripartal terjadi sebagai komplikasi kehamilan pada perempuan yang sehat endemic, sehingga kejadian penyakit jantung katub masih banyak dijumpai dan merupakan masalah. Penyakit jantung rematik merupakan penyebab utama dari penyakit jantung katub selain penyebab bawaan. Bila memungkinkan, perempuan dengan reiko dalam kehamilan.
Indeks risiko yang terbaru terdiri atas empat factor resiko yang memprediksi kemungkinan terjadinya perburukan kadiovaskulat dan komplikasi neonatus, meliputi
1. Riwayat kejadian kardiak (cardiac event) sebelumnya, 2. Sionasis atau kelas fungsi buruk, 3. Okstruksi jantung kiri dan 4. Disfungsi fertikel. Perempuan dengan resiko tinggi untuk kejadian kardik, dianjurkan melakukan koreksi katub sebelum kehamilan. Koreksi silgeri atau tidak atas pertimbanganan manfaat dan resikonya. Perempuan dengan resiko sedang sampai tinggi (>1 atau =1) atau dengan resiko spesifik lessi jantungnya sebaiknya tidak hamil atau harus dikirim kerumah sakit yang memadai untuk perawatan dengan para spesialisnya. Perempuan dengan reiko untuk kardik maternal dan neonatal memerlukan pengawasan antenatal yang lebih kerap³.
Tata laksanan atau menejemen kehamilan pada perempuan dengan penyakit jantung adalah upaya tim. Yang terbaik adalah pelaksanaan antenatal dengan kerja sama yang baik antara spesialis obstretri, kardiologis, nutrisionis, spikologis, dokter umum, dan perawat. Menejemen persalinan baik normal maupun seksio sarasehan dalam anestesi regional maupun umum merupakan keadaan yang membahayakan baik bagi ibu hamil dengan penyakit jantung maupun bagi janinnya. Anestetis abstretri merupakan anggota tim yang penting dan harus ada diskusi jenis dan tata laksana persalinan antara kardiologis, spesialis, obstretri, dan spesialis anestesi. Idealnya, penilaian penyakit jantung katub dalam kehamilan dilaksanakan sebelum terjadi konsepsi dan harus mencakup pemerasaan kardiologi lengkap, termasuk ekokardiografi.anamnesis harus difokuskan pada kapitalitas latihan pasien, riwayat gagal jantung,dan aritmia.
Penyakit jantung dan pembuluh darah dalam kehamilan meliputi penyakuit jantung bawaan, yaitu sionotik dan nonsionotik, kehamilan dengan hipertensi fulnormal, mitralvalve prolapse,kardiomiopati pripartum, kardiomiopati hipertropi, aritmia, embolipru, katub artifisia, hipertensi dalam kehamilan, kehamilan dengan kelainan narfan, dan penyakit kardiak fulnormal pada kehamilan.
Penyakit Jantung Katub Obstruksi
Penyakit jantung katub merupakan penyakit jantung yang paling sering ditemukan pada perempuan hamil. Toleransi terhadap perubahan emodinamik kehamilan bergantung pada jenis jantung katub. Tatalaksana pasien-pasien tersebut memerlukan analisis yang cermat pada derajat penyakit katubnya masing-masing. Juga toleransinya terhadap maturitas kehamilan, resiko kehamilan, dan terhadap prosedur intervensi. Seluruhnya harus mempertimbangkan keselamatan ibu hamil dan janinnya.
Fatofisiologi
Konsekuensi utama dari peningkatan curah jantung melalui abstrubsi fertikal kiri dengan adanya penyempitan katub adalah terjadinya peningkatan gradient/yang mengakibatkan peningkatan tekanan atau overloaded pressure dalam ruang jantung yang berada sebelum katup yang menyempit. Hal ini menerangkan mengapa penyakit jantung katup obstruktif sangat buruk dalam toleransi kehamilan, terutama toleransi terhadap peningkatan 30-50% peningkatan curah jantung pada awal trimester kedua. Perburukan homodinamik terutama terjadi pada awal trimester kedua.
Mitral snenosis
Presentasi klinik
Kelainan penyempitan katup mitral ini merupakan penyakit jantung katup rematik yang paling sering ditemukan pada perempuan usia produktif. Diagnosis mitral stenosis mungkin baru ditegtakkan pertama kali ketika timbul keluhan atau gejala sewaktu hamil pada pasien-pasien tanpa keluhan sebelumnya.
Prinsip Penatalaksanaan
Persalinan pervaginam dapat berjalan dengan aman pada mitral stenosis yang dapat menoleransi kehamilan dengan baik pada NYHA kela 1 dan 2 dan bila tekanan arteri pulmonal kurang dari 50 mmHg. Namun, pasien dengan gagal jantung kongestif atau mitral stenosis berat dan moderat tekanan dan tekanan arteri pulmonal > 50 mmHg, harus dilakukan monitor hemodinamik sentra dengan kateter arteri pulmonalis atau swan ganz selama persalinan.
Aorta Stenosis
Presentasi Klinik
Aorta stenosis bert karena penyakit jantung rematik jarang ditemukan pada pasien usia muda, myang sering terjadi disebabkan oleh kelainan bawaan yaitu katup bicuspid. Aorta stenosis ringan dan moderat dengan fungsi fetrikel kiri yang masih baik biasanya dapat menoleransi kehamilan dengan baik. Sebaliknya, pasien dengan aorta stenosis berat, (aortic value / arewa katup aorta : < 0.7 cm²dan gradient tekanan > 50 mmHg)dan yang dengan gejala merupakan risiko tinggi bagi perempuan hamil juga janinnya. Gejala yang timbul dapat sesak nafas, sinkop, yang timbul pada trimester 2 akhir atau trimester 3 akhir. Idealnya harus dilakukan koreksi katup sebelum pasien hamil. Pasien dengan keluhan klinis atau gradien/perbedaan tekanan lintas katup aorta > 50 mmHg dianjurkan untuk menunda konsepsi sampai dilakukan koreksi bedah. Bila aorta stenosis berat ditemukan sewaktu hamil, valvuloplasti balon aorta harus dilakukan sebelum persalinan. Anestesi spinal dan epidural kurang dianjurkan karena efek vasodilatasinya
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "PENYAKIT JANTUNG KATUB"
Posting Komentar