Perubahan gen dihubungkan
dengan karsinogenesis kolon termasuk satu gen yang disebut deleted in colon
cancer (DCC), kadang-kadang
disebut mutated in colon cancer (MCC). Awalnya digambarkan sebagai penanda untuk
suatu molekul sel adhesi (N-CAM) dan kemudian suatu reseptor membran
polipeptida (netrins) bertanggung jawab untuk mengarahkan perpindahan sel. Kesalahan penempatan lokasi kromosom DCC
jelas terlihat, kesalahan yang nyata adalah gen terdekat, SMAD4, yang terlibat
dalam jalur penanda untuk pembentukan faktor pertumbuhan b(TGF-b). Tumour Growth Factor b (TGF-b) merupakan
suatu penghambat pertumbuhan, menyebabkan perbedaan sitokin jadi hilangnya
signal transduksi dari faktor ini dapat menyebabkan promosi tumor. Pada tikus APC deletion dengan satu
allele dihilangkan, menyebabkan efek invasi adenoma, sedangkan DCC deletions
tidak memiliki efek invasi adenoma (King, 2000).
2. Model Kanker Kolorektal
Usus dari
tikus yang dibagi ke bagian sebagai berikut yaitu duodenum, jejunum dan ileum,
yang disebut usus kecil; dan sekum, asendens, transversum, kolon desendens, dan
rektum merupakan bagian dari usus besar.
Duodenum memiliki mesenterium pendek dan diatur sebagai loop berbentuk
S. Panjang jejunum dan ileum tikus
adalah 70 – 90 cm. Mukosa usus kecil seperti
beludru dan tidak pernah membentuk lipatan Kerckring. Usus kecil memiliki panjang mesenterium 2 – 6
cm dan membentuk loop pada berbagai bentuk dan ukuran. Panjang sekum 6 – 9 cm, dan kolon 16 – 20 cm. Vili mukosa tikus terletak sepanjang usus
kecil. Seperti hewan lainnya, epitel
usus tikus terdiri dari dua tipe sel yaitu sel border dan sel goblet. Pada usus kecil juga terdapat sel Paneth dan
Kultchitsky, yang terdiri dari sel Paneth diisolasi pada bagian bawah crypt, yang dilapisi sel border dengan
sitoplasma basofilik. Sel Goblet yang
memproduksi mukus dapat dilihat tersebar diantara sel border (Pozharisski,
1973).
Model
hewan merupakan langkah penting dalam kemajuan evaluasi bahan
kemoprevensi. Bahan kimia
karsinogenesis pada epitel usus tikus bertindak sebagai inisiator atau kombinasi
dua bahan kimia bertindak sebagai inisiator-promotor. Model ini telah banyak digunakan dalam tahap
pra-klinik in vivo untuk menguji
keberhasilan dari bahan kemoprevensi.
Dalam beberapa tahun terakhir model eksperimental hewan telah
dikembangkan untuk mempelajari karsinogenesis kolon dengan induksi
1,2-dimetilhidrazin (DMH), azoxymethane (AOM), metoksimetan (MAM) dan N-metil-N'-nitro-N-nitrosoguanidin (MNNG) (Reddy et al., 1975; Gustin & Brenner, 2002). Induksi 1,2-dimetilhidrazin (DMH) dan 2-asetilaminofluran
selama 6 bulan dapat memunculkan tumor pada kolon desendens. Tumor pada usus kecil terjadi pada
sebagian hewan; tumor pada sekum jarang terjadi. Cycasin dan 3,2'-dimetil-4-aminodifenil
berefek pada usus besar (Pozharisski, 1973). Kebanyakan senyawa-senyawa tersebut beraksi
melalui metilasi nukleotida DNA terutama guanin yang akhirnya menghasilkan
mutasi DNA (Gustin & Brenner, 2002).
Terdapat
beberapa keuntungan penggunaan DMH/AOM pada model karsinogenesis kolon untuk
studi kemoprevensi. Pertama, percobaan
sampai saat ini menunjukkan bahwa efek promosi dan
perlindungan eksperimental
dapat dibedakan dalam model. Kedua, evolusi tumor kolon dalam model
DMH/AOM mirip yang terjadi pada manusia, termasuk progresi Abberant Crypt Foci (ACF) ke adenoma (polip), dan akhirnya
terbentuk karsinoma. Ketiga, gambaran
histopatologi pada tumor kolon yang diinduksi dengan DMH/AOM mirip yang terjadi
pada manusia, dan 30 – 60% induksi tumor kolon dengan DMH/AOM memiliki mutasi K-ras seperti yang terlihat pada tumor
kolon manusia. Selain itu, tidak seperti
tumor kolon manusia, induksi tumor dengan DMH/AOM jarang memperlihatkan mutasi
pada Apc (kira-kira 8%) atau p53.
Induksi kanker kolon dengan DMH/AOM menyebabkan mutasi pada b-catenin (Wong et al., 2007).
Secara
morfologis dan perilaku, induksi tumor usus pada tikus menyerupai tumor yang
terjadi pada manusia. Hampir semua jenis
tumor yang terjadi pada manusia dapat direproduksi secara eksperimen. Studi menggunakan mikroskop elektron dari
polip dan karsinoma pada kolon yang diinduksi 3-2¢-dimetil-4-aminodifenill pada
tikus menunjukkan kemiripan antara tumor kolon pada
manusia dengan tikus (Spjut & Smith, 1967).
Demikian pula karakteristik histologis dari neoplasma epitel yang
diinduksi secara kimia pada tikus, mirip dengan manusia dan anjing (Lingeman
& Garner, 1972). Perkembangan tumor
dalam duodenum dan usus kecil jarang terjadi pada manusia, tetapi pada hewan
menunjukkan frekuensi kejadian tinggi pada bagian ini (Pozharisski, 1973).
3. Karsinogenesis Kolorektal
Pertumbuhan kanker merupakan
proses mikroevolusioner yang dapat berlangsung beberapa bulan atau beberapa
tahun (Albert et al.,
1994). Proses pertumbuhan ini dinamakan
karsinogenesis, dimulai dari satu sel kanker yang memperbanyak diri dan membentuk
satu koloni kecil dalam jaringan yang sama.
Selanjutnya perubahan genetik (misalnya aktivasi onkogen) terjadi dalam
koloni sel yang abnormal dan menjadi tumor ganas (Schneider, 1997).
Proses karsinogenesis terjadi
melalui beberapa fase yang meliputi fase inisiasi, fase promosi, fase progresi,
dan metastasis. Inisiasi merupakan fase pertama dan merupakan akibat adanya perubahan genetik yang
menyebabkan adanya proliferasi abnormal dari satu sel. Promosi merupakan kelanjutan inisiasi, yaitu
adanya pacuan dari faktor promosi tumor yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat
dan pembentukan tumor benigna. Progresi
merupakan perubahan genetik semakin bertambah banyak sehingga akan menambah
koloni sel tumor. Tumor pada stadium ini
bersifat invasif dan seringkali diikuti dengan proses pembentukan pembuluh
darah baru yang dinamakan angiogenesis.
Fase berikutnya adalah metastasis, yaitu perkembangan tumor yang
bersifat malignan dan terjadinya pelepasan sel-sel tumor ganas dari koloni
primernya. Sel-sel tumor ganas ini dapat
memasuki saluran limfatik, sehingga dapat menyebar ke seluruh tubuh dan
berkembang di tempat yang jauh (Schneider, 1997). Kemampuan invasi sel kanker dihubungkan
dengan banyaknya produksi protease pada sel kanker ini. Protease akan mempengaruhi interaksi sel dan
memfasilitasi pergerakan sel kanker melalui matriks ekstraseluler. Tahap metastasis merupakan tahap yang paling
kritis yang menyebabkan gejala klinis dan bahkan kematian (King, 2000).
Karsinogenesis kolorektal
memerlukan sel normal sebelumnya untuk mengakumulasikan genetik ganda dan
menentukan klonnya berturut-turut.
Kebanyakan kanker membutuhkan antara 6 – 10 klon untuk mencapai akhir
fenotip malignan, yang membutuhkan tambahan sifat metastasis juga (Rajagopalan
& Lengauer, 2004). Proses ini
menunjukkan ketidakstabilan genomik, strategi mutasi berikutnya adalah
terjadinya peningkatan mutasi.
Ketidakstabilan genomik merupakan tujuan karsinogenesis yang paling
kritis (Loeb, 1991). Tanpa
ketidakstabilan genomik pencapaian mutasi baru akan terjadi sangat lambat untuk
perkembangan kanker pada manusia. Siklus
sel dan kumparan checkpoint mitosis
adalah kritikal dalam proses ini untuk memastikan bahwa proliferasi sel hanya
mengikuti replikasi yang tepat dan mengatur materi genetik (Worthley et al., 2007).
Terdapat dua kategori utama
dari ketidakstabilan genomik dalam kanker kolorektal. Ketidakstabilan kromosomal [chromosomal instability (CIN)] yang
banyak terjadi pada kanker kolorektal, perubahan genetik ini terjadi melalui
akumulasi jumlah atau struktur ketidaknormalan kromosomal (aneuploid)
(Rajagopalan & Lengauer, 2004). Tipe
ketidakstabilan genomik lainnya adalah ketidakstabilan mikrosatelit [microsatellite instability (MSI)], yang
mengakibatkan kerusakan pengenalan dan perbaikan kesalahan basa dalam daughter strand DNA selama replikasi DNA
(Jass et al., 2002). Mikrosatelit merupakan nukleotida yang
mengulang seluruh urutan genom dan MSI menunjukkan ketidaksesuaian dalam
pengulangan jumlah nukleotida yang ditemukan dalam daerah mikrosatelit tumor
terhadap germline DNA. Jalur yang berhubungan dengan CIN atau MSI
menunjukkan bahwa ketidakstabilan genomik diperlukan dan jalur tersebut juga
berpengaruh terhadap karsinogenesis kolorektal (Rajagopalan & Lengauer,
2004; Worthley et al., 2007).
Umumnya sekitar 70 – 85%
kanker kolorektal berkembang melalui jalur ’tradisional’, yaitu CIN, atau jalur
’penekan’ (Grady, 2004). Identifikasi
lesi tercepat pada jalur ini adalah displasia aberrant crypt focus (ACF).
Mikroskopik dan ACF ditandai dengan lesi mukosa yang diawali oleh
perkembangan polip makroskopik (Takayama et al., 2001). Jalur CIN dihubungkan dengan mutasi adenomatous polyposis coli (APC) atau kehilangan 5q (gen APC), mutasi K-ras, hilangnya 18q, dan akhirnya penghilangan 17p yang mengandung
gen penekan tumor penting p53 (Grady, 2004). Perkembangan kanker kolorektal melalui jalur
CIN dapat dilihat pada gambar 7.
Belum ada tanggapan untuk "Perubahan Genetik dari Karsinogenesis Kolorektal"
Posting Komentar