a. APC (5q21)
Gen adenomatus polyposis coli (APC)
adalah besar, mengadung 15 ekson dan merupakan target utama mutagenesis. Mutasi patogen gen APC sering memotong protein
APC, yang menghambat dengan mengikat b-katenin untuk menurunkan jalur signal Wnt.
Secara normal signal Wnt
membantu dalam mengatur pertumbuhan, apoptosis, dan diferensiasi. (Kuhnert et al., 2004). Jadi mutasi
APC yang menghambat ikatan APC-b-katenin merusak degradasi normal b-katenin dan mengakibatkan jalur signal Wnt
aktif. Kadang-kadang mutasi -b-katenin membuat protein APC resisten terhadap degradasi, sehingga dapat
bertindak sebagai alternatif mutasi APC, sehingga jalur signal Wnt berperan penting dalam perkembangan
kanker kolorektal (Gregorieff & Clevers, 2005).
Kehilangan fungsi APC dapat
pula mengganggu pengaturan normal mitosis.
Selama metafase, pengaturan kromatid
saudara untuk memastikan kesuksesan distribusi untuk sel anakan (daughter cells). Beberapa komponen seluler termasuk kinetokor
mengatur kromatin untuk memastikan pengiriman yang tepat selama pembagian
sel. Adenomatus polyposis coli (APC) adalah kinetokor terikat protein mikrotubuli,
dan bersama dengan EB1 mempromosikan urutan kromosom yang tepat dan selanjutnya
pemisahan kromosom (Green et al.,
2005). Sel APC tidak mampu mendeteksi
kelainan kromosom selama metafase, namun masih dapat dilanjutkan ke anafase
(pemisahan pada fase mitosis) untuk menghasilkan CIN (Draviam et al., 2006). Mutasi APC ditemukan sekitar 60%
pada kanker di kolon dan 82% pada kanker rektum (Jass et al., 2002).
b. K-ras (12p)
Proto-onkogen K-ras mengkode protein GTP dan ketika
bermutasi dapat menyebabkan hilangnya aktivitas GTPase. Dengan demikian, hidrolisis GTP aktif menjadi
GDP tidak aktif terhambat, menyebabkan signal konstitutif melalui jalur downstream. Aktivasi mutasi K-ras ditemukan 35 – 42% pada kanker
kolorektal manusia dan terjadi melalui jalur RAS-RAF-MAPK yang penting dalam
transisi adenoma/karsinoma (Leslie et al.,
2002). Namun demikian, aktivasi ras pada model tikus tidak menyebabkan
kanker kolorektal (Watson, 2008).
c. p53 (17p)
Kehilangan p53, biasanya melalui kehilangan alelik
dari 17p dan membawa transisi dari pre-invasif ke invasif. Beberapa studi menunjukkan bahwa frekuensi
ketidaknormalan p53, baik mutasi
maupun hilangnya heterozigositas, relatif meningkat ke tahap histologis dari
lesi adenokarsinoma kolorektal. Dengan
demikian, kelainan yang ditemukan pada 4
– 26% adenoma, 50% adenoma dengan foki invasif, dan 50 – 75% pada kanker kolorektal
(Leslie et al., 2002). Mills (2005), menyatakan bahwa protein p53
fungsional menstabilkan kerusakan DNA yang merupakan faktor transkripsi pada
kanker kolorektal. Hal ini
bertindak untuk meningkatkan ekspresi gen penghambat siklus sel, memperlambat
siklus sel dan memberi waktu yang cukup untuk perbaikan DNA. Ketika kerusakan genetik terlalu besar untuk
diperbaiki, p53 menginduksi gen pro-apoptosis.
d. Siklooksigenase
(COX)
Dua jenis COX yang merupakan isoform yang ditemukan hingga saat ini yaitu
COX-1 dan COX-2 yang keduanya memiliki aktivitas yang sama sebagai katalase sintesis prostanoid dari
asam arakidonat. COX-1 secara
konstitutif diekspresi secara nyata oleh hampir seluruh jaringan tubuh mamalia,
sedangkan COX-2 hanya sebagian saja dan dalam level yang rendah atau tidak
terdeteksi. Level ekspresi COX-1 pada
umumnya konstan dan hanya akan ada kenaikan sedikit bila ada stimulasi dari
faktor pertumbuhan atau selama masa deferensiasi. Ekspresi COX-2 biasanya akan lebih banyak
karena adanya rangsangan dari mitogen, sitokin, dan tumor promoter yang bisa
diakibatkan oleh adanya kerusakan sel atau bentuk stres sel lainnya (DeWitt,
1991; Dubois et al., 1998).
Perbedaan fungsi COX-1 dan COX-2 dapat dilihat pada gambar 8.
COX-1 memiliki peranan yang sangat
penting dalam menjaga proses-proses fisiologis pada berbagai jaringan atau
organ. Misalnya pada ginjal, COX-1
berfungsi untuk menjaga elastisitas pembuluh darah sehingga proses filtrasi
dapat berlangsung dengan baik, sedangkan pada lambung berfungsi untuk merawat
integritas mukosa lambung dengan cara mengatur vasodilatasi pembuluh
darah. COX-2 yang diekspresi karena
adanya rangsangan tertentu berfungsi sebagai pendukung fungsi COX-1 atau sesuai
dengan kebutuhan (Dubois et al., 1998).
Ekspresi COX-2 menunjukkan adanya peningkatan yang nyata pada beberapa
sel kanker (Crofford, 1997), bahkan pada kanker kolon ekspresi COX-2
menunjukkan adanya peningkatan yang sangat tinggi dibanding pada keadaan
normalnya (Kutchera et al., 1996; Sano et al. , 1995).
Penelitian Sano et al.
(1995) memperlihatkan bahwa ekspresi COX-2 terlihat di dalam sel-sel kanker,
sel-sel inflamasi, endotelium vaskular, dan fibroblast dari jaringan yang luka,
dibandingkan dengan jaringan yang tidak luka dan jaringan kolon yang normal. Tingkat
dan intensitas dari immunoreaktif COX-2
dalam sel kanker lebih baik dibanding tipe-tipe sel lainnya. Sebaliknya, ekspresi COX-1 lemah dalam
spesimen normal dan kanker. Oleh karena
itu, peningkatan ekpresi COX-2 dalam jaringan kanker kolon kemungkinan juga
meningkatkan sintesis prostaglandin E2. Peningkatan ekspresi COX-2 berperan dalam
patogenesis kanker kolon. Selanjutnya,
inhibisi selektif dari COX-2 kemungkinan lebih berkhasiat dalam menghambat
perkembangan kanker kolon.
Pada sel-sel kanker
overekspresi COX-2 yang berakibat pada overproduksi prostanoid akan menyebabkan
peningkatan proliferasi (Kinoshita et al., 1999) dan mencegah apoptosis
(Battum et al., 1998).
Peningkatan proliferasi sel terjadi karena adanya aktivasi beberapa
onkogen yang terlibat dalam signal
mitogenik seperti Ras, sedangkan inhibisi terhadap proses apoptosis
merupakan akibat dari adanya overekspresi bcl2 (Sheng et al.,
1998), di samping itu overekspresi COX-2 pada sel-sel kanker kolon juga ikut
memacu proses angiogenesis sehingga akan mempermudah berkembangnya kanker
(King, 2000). Peristiwa ini disebabkan
karena produk katalisis COX -2 akan memacu aktivasi faktor angiogenik (Chan et
al., 1998).
Percobaan menggunakan tikus betina defisiensi gen APC menyebabkan terjadinya polip
kolon. Hilangnya gen COX-2 mengurangi ukuran dan jumlah polip
tersebut (Tuynman et al., 2004). Penghambat COX memiliki efek yang serupa pada
kanker kolon yang diinduksi secara kimiawi.
Pada kultur sel kanker kolon, transfeksi dari gen COX-2 meningkatkan
sintesis prostaglandin, menigkatkan adhesi sel, dan menurunkan apoptosis,
selanjutnya efek ini diblok oleh penghambat COX (King, 2000; Isselbacher et al., 1999).
Belum ada tanggapan untuk "Ekspresi Gen pada Kanker Kolorektal"
Posting Komentar