Kanker pada dasarnya merupakan penyakit sel yang ditandai oleh pergeseran mekanisme kontrol yang menentukan proliferasi dan diferensiasi sel. Sel tersebut berproliferasi berlebihan dan membentuk tumor lokal yang dapat menekan atau menginvasi struktur normal berdekatan. Sub populasi kecil dari sel-sel dalam tumor ini dapat disebut sebagai induk sel tumor yang mempertahankan kesanggupan menjalani siklus proliferasi berulang-ulang maupun berimigrasi ke tempat yang jauh dalam tubuh untuk mengkolonisasi berbagai organ dalam proses yang dinamai metastasis (Katzung, 1982). Sel-sel demikian ini disebut kanker karena tumbuhnya bercabang-cabang menginvasi jaringan sehat di sekitarnya, menyerupai kepiting (kanker) (Yuswanto & Sinaradi, 2000). Kanker atau tumor ganas dibedakan dari tumor jinak karena kecepatan pertumbuhan sel kanker tinggi, aktivitas mitotiknya tinggi, pertumbuhan bersifat infiltratif dan mampu membentuk metastasis, biasanya tidak teratur dan diferensiasinya rendah (Bosman et al., 1999).
Sel kanker memperlihatkan ciri yang berbeda dengan sel normal, yaitu:
1. Sel normal memerlukan kontak dengan permukaan lingkungan ekstraseluler agar dapat tumbuh, sedangkan sel kanker tumbuh dengan bebas.
2. Sel normal memberikan tanggapan terhadap adanya sel-sel lain dan dalam biakan akan membentuk lapisan pelindung terhadap kontak dengan penghambat, sedangkan sel kanker tidak.
3. Sel kanker bersifat kurang melekat dibanding sel normal, artinya pertautan antar sel pada sel-sel penyusun kanker kurang terikat erat satu dengan yang lain dibanding sel normal.
4. Sel normal menghentikan perkembangannya pada saat mencapai kerapatan tertentu, tetapi sel kanker terus berkembang biak (Yuswanto & Sinaradi, 2000).
5. Sel kanker mempunyai kemampuan invasi ke jaringan lain dan masuk ke peredaran darah karena didukung oleh kemampuan melepaskan diri dari sel lain dan menempel pada jaringan lain, sehingga dapat membentuk koloni di jaringan tersebut (Hanahan & Weinberg, 2000).
6. Sel kanker kehilangan kemampuan melakukan apoptosis (program bunuh diri sel), sehingga sel tersebut terus bertambah. Kehilangan kemampuan ini dihubungkan dengan mutasi gen p53 (Sofyan, 2000).
7. Sel kanker memiliki kemampuan untuk membentuk saluran darah sendiri (angiogenesis), sehingga suplai oksigen dan nutriea tetap terpenuhi. Kemampuan ini dihubungkan dengan adanya sinyal inisiasi Vascular Endothelial Factor (VEGF) (Hanahan & Weinberg, 2000).
Kanker kolorektal yang juga dikenal dengan nama kanker kolon merupakan kanker yang tumbuh di kolon, rektum dan usus buntu. Kanker kolon merupakan bentuk kanker yang ketiga dan penyebab kematian kedua di antara penyakit kanker lainnya di dunia bagian barat. Kanker kolon menyebabkan 655.000 kematian di dunia per tahun (WHO, 2006). Kanker kolorektal umumnya terjadi pada individu usia 50 tahun atau lebih. Etiologi untuk kebanyakan kasus kanker usus besar tampaknya berhubungan dengan faktor lingkungan. Penyakit terjadi lebih sering pada populasi dengan sosial ekonomi yang tinggi yang hidup di daerah perkotaan (Isselbacher et al., 1999).
Kira-kira 60% kejadian dari semua kanker usus terjadi pada bagian rektosigmoid, sehingga tidak dapat teraba pada pemeriksaan rektum atau terlihat pada sigmoidoskopi. Sekum dan kolon asendens merupakan tempat berikutnya yang paling sering diserang. Kolon transversa dan fleksura merupakan bagian yang memiliki kemungkinan terserang yang paling kecil (Price & Wilson, 1995).
Kanker kolorektal ditemukan dua pertiga pada kolon kiri dan sepertiganya pada kolon kanan (gambar 5). Sebagian besar kanker kolorektal ditemukan pada rektum sebesar 51,6%, selanjutnya diikuti oleh kolon sigmoid 18,8%, kolon descendens 8,6%, kolon transversum 8,06%, kolon ascendens 7,8%, dan multifokal 0,28%. Berdasarkan data kanker statistik Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 60% dari kanker kolorektal ditemukan pada rektum, hal ini juga terlihat di Cina sekitar 80% kanker kolorektal terdeteksi di rektum (Fahlevi, 2008).
Gambar 5. Letak Kanker Kolorektal (Fahlevi, 2008)
Kanker kolon banyak timbul dari polip adenomatus di dalam kolon. Polip ini tumbuh ke dalam lumen dan dengan cepat meluas ke sekitar usus sebagai cincin anular. Lesi anular lebih sering terjadi pada bagian rektosigmoid, sedangkan polip/polipoid atau lesi yang datar sering terdapat pada sekum dan kolon asendens. Secara histologis, hampir semua kanker usus besar adalah adenokarsinoma (terdiri atas epitel kelenjar) dan dapat mensekresi mukus yang jumlahnya berbeda-beda. Tumor dapat menyebar secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih, melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon dan melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah ke sistem portal. Prognosis relatif baik bila lesi terbatas pada mukosa dan submukosa pada saat reseksi dilakukan, dan jauh lebih jelek bila terjadi metastasis ke kelenjar limfe (Price & Wilson, 1995; King, 2000).
Gejala-gejala paling sering kanker usus besar adalah perubahan kebiasaan defekasi, perdarahan, nyeri, anemia, anoreksia, dan penurunan berat badan. Tanda dan gejalanya berbeda-beda menurut tempat kanker dan sering dibagi menjadi kanker yang mengenai bagian kanan dan kiri usus besar (Price & Wilson, 1995).
Penyakit inflamasi segmen kolon (kolitis, divertikulitis) atau tumor kolon menyebabkan nyeri yang bisa dirasakan pada bagian bawah abdomen di antara umbilikus dan pubis, pada daerah midlumbal, atau pada keduanya. Jika sangat hebat, nyeri bisa mempunyai suatu distribusi seperti sabuk mengelilingi tubuh. Suatu lesi kolon transversum atau bagian pertama kolon desendens bisa sentral atau di sisi kiri, dan batas penjalarannya ke bagian belakang tubuh adalah pada vertebra lumbal kedua sampai ketiga. Jika kolon sigmoid terkena, nyeri terasa lebih rendah, pada daerah sakral atas dan pada bagian depan pada garis tengah daerah suprapubik atau kuadran kiri bawah abdomen (Isselbacher et al., 1999).
Karsinoma kolon kiri dan rektum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon refleks. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mukus maupun darah segar sering terlihat pada feses, dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Pertumbuhan pada sigmoid atau rektum dapat mengenai radiks saraf, pembuluh limfe, atau vena, menimbulkan gejala-gejala pada tungkai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bagian bawah, keinginan defekasi, atau sering berkemih dapat timbul sebagai akibat tekanan pada alat-alat tersebut (Price & Wilson, 1995).
Karsinoma kolon kanan, isi kolon berupa cairan, cenderung tetap tersamar hingga lanjut. Sedikit kecenderungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samar dan hanya dapat dideteksi dengan tes guaiak. Mukus jarang terlihat karena tercampur dalam feses (Price &Wilson, 1995).
Sebanyak 25% pasien dengan kanker kolorektal dapat mempunyai riwayat keluarga penyakit tersebut menunjukkan predisposisi herediter. Kanker usus besar yang diturunkan ini dapat dibagi dalam dua kelompok utama: sindroma poliposis dan sindroma nonpoliposis (Isselbacher et al., 1999).
Poliposis koli (yaitu poliposis kolon familial) merupakan keadaan yang jarang yang ditandai dengan munculnya ribuan polip adenomatosa di seluruh usus besar. Keadaan ini diturunkan dengan cara dominan autosomal; pasien tertentu tanpa riwayat keluarga diperkirakan mengembangkan poliposis akibat mutasi spontan. Penelitian molekuler telah menghubungkan poliposis koli dengan delesi lengan panjang kromosom 5 (gen APC). Hilangnya materi genetik ini (yaitu kehilangan alele) menyebabkan tidak adanya gen penekan tumor yang memproduksi protein yang secara normal akan menghambat pertumbuhan neoplastik (Isselbacher et al., 1999). Demikian pula dengan sindroma nonpoliposis yang berhubungan dengan mutasi gen dalam memperbaiki gen DNA seperti hMSH2 dan hMLH1 (McPhee et al., 2000).
Belum ada tanggapan untuk ". Kanker Kolorektal"
Posting Komentar