1. Perilaku Orang Tua
Menurut Hendrastuti (2003) bahwa seorang anak dalam perawatan gigi menjadi pusat perhatian antara orang orang tua dan dokter gigi. Dokter gigi/ perawat gigi harus mempunyai pengetahuan dasar tentang perawatan gigi anak serta dapat mengamati bagaimana hubungan anak tersebut dengan orang tuanya. Sikap orang tua yang berpengaruh pada anak dalam perawatan gigi antara lain (Hendrastuti, 2003).
a. orang tua yang otoriter
sikap orang tua yang otoriter kepada anaknya membuat anak cenderung patuh bertingkah laku baik, ramah dan kooperatif terhadap perawatan gigi.
b. orang tua yang melindungi
orang tua yang melindungi menyebabkan anak akan mengalami keterlambatan dalam pematangan sosial dan aturan sosial, anak menjadi berdaya malu dan memiliki perasaan-perasaan sebagai seorang yang selalu berada di bawah. Sehingga orang tua cemas tentang kecemasan anaknya, maka dokter atau perawat gigi harus memberikan waktu yang lebih dalam menjelaskan hal-hal yang berhubungan perawat gigi.
c. Orang tua yang terlalu sabar
orang tua yang terlalu memberi hati menunjukan perhatian yang berlebihan terhadap anaknya. Orang tua semacam ini akan terlihat berhubungan seperti seorang sahabat dengan anaknya.
d. Orang tua yang lalai
Biasanya orang tua yang tipe ini akan terlihat setelah kunjungan pertama anaknya ke dokter gigi dan akan tampak pada perjanjian berikutnya, dimana anak tersebut tidak kembali untuk perawatan selanjutnya.
Orang tua yang lalai membawa anaknya ke dokter gigi berupa motivasi dan penyuluhan yang disampaikan oleh dokter gigi tidak dijalankan dengan baik. Orang tua mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap kesehatan gigi anaknya.
e. orang tua yang suka mencurigai
Sikap ini ditunjukan oleh orang tua yang mempertanyakan akan perlunya perawatan gigi anak.
f. orang tua yang manipulatif
kebiasaan suka bertanya yang berlebih-lebihan pertanyaan berkisar berapa lama waktu untuk perawatan sampai akhirnya mendiagnosa penyakit dan proses perawatan (Hendrastuti, 2003).
Orang tua dengan secara tidak direncanakan mananamkan kebiasaan-kebiasaan dari nenek moyang yang diwarisi dan pengaruh lain yang diterimanya dari masyarakat. Si anak menerima daya peniruannya, dengan segala senang hati kadang-kadang menyadari benar apa maksud dan tujuan yang ingin dicapai dengan pendidikan itu. Kebiasaan tertentu yang diinginkan untuk dapat dilakukan anak ditanamakan benar-benar sehingga seakan-akan tidak boleh tidak dilakukan si anak. Dengan demikian si anak akan membawa kemana pun pengaruh keluarga itu. Sekalipun ia sudah mulai berpikir lebih jauh lagi. Inilah yang membuktikan bahwa anak didalam perkembangan pribadinya, dipengaruhi oleh lingkungannya. Pengaruh itu tidak akan dapat hilang begitu saja sekalipun pada waktu besarnya si anak telah meninggalkan lingkungan itu dan hidup di lingkungan yang lain (Agus Sujanto, dkk, 2001).
Didalam hal itu tentu saja peranan orang tua sangat menentukan justru merekalah berdua yang memegang tanggung jawab seluruh keluarga. Merekalah yang menentukan kemana keluarga itu akan dibawah, warna apa yang akan diberikan kepada keluarga itu. Hal ini sama sekali ditentukan oleh orang tua. Kebanyakan anak meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya (Agus Sujanto, dkk, 2001).
2. Peranan Orang Tua Dalan Perkembangan Anak
Peranan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1994).
Keluarga memiliki peranan sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai pendidikan baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang baik untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat (Syamsul Yusuf, 2000).
Anak membutuhkan orang lain dalam perkembangannya. Dan orang lain yang paling utama dan pertama yang bertanggung jawab adalah orang tua sendiri. Orang tuanyalah yang bertanggung jawab secara penuh dalam memenuhi kebutuhan anak baik secara organis maupun psikologis (Singgih, 1990).
Ada satu anggapan mengatakan anak didik itu merupakan kertas putih yang masih kosong karenanya peranan orang tua sangat menentukan dalam pembentukan kepribadian sang anak, orang tua akan menurun kepada anaknya. Justru karena itu, selama anak masih dibawah asuhan orang tua hendaknya orang tua dapat memberikan contoh-contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari malahan lebih dari itu orang tua aktif mempengaruhi /mengarahkan, bila keperluan memaksakan agar anaknya menjadi manusia susila. Akan tetapi semua itu harus dijalankan dengan secara penuh kasih sayang kepada sang anak (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993).
Untuk dapat melakukan upaya pencegahan terhadap kesehatan, orang tua harus memberi bimbingan antisipasi kepada anak. Pendidikan kesehatan harus diperhatikan bahwa pendidikan kesehatan suatu proses terjadi perubahan perilaku orang tua sehingga memerlukan waktu yang relatif lama karena mengubah perilaku orang tua bukan suatu hal yang mudah.
Anak sebagai buah hati orang tua, tentu akan diupayakan semaksimal mungkin agar berkembang secara optimal, termasuk mendapat perawatan gigi dan mulut secara rutin. Tapi, kebanyakan orang tua mengeluh kesulitan membawa anaknya ke dokter gigi. Sebuah dilema yang harus dihadapi. (Runkat, 2000).
Peranan orang tua diperlukan untuk mendapatkan gigi yang sehat pada anak-anak. Orang tua memiliki pengetahuan tentang kesehatan gigi yang baik mengajarkan cara hidup sehat terhadap anaknya akan mungkin mendapat anak-anak dengan gigi yang sehat. Orang tua sangat berperan dalam menumbuhkan kebiasaan pada anak-anak dalam menyikat giginya. Tetapi pengetahuan seseorang belum tentu mampu memotivasi orang tersebut untuk berperilaku sehat, karena proses peralihan dari mengetahui sampai melakukan bukanlah suatu proses sederhana. Proses tersebut meliputi banyak variabel yang terhimpun dalam sikap atau penilaian seseorang terhadap sesuatu (Prasetyo, 2003).
Belum ada tanggapan untuk " Sikap dan Perilaku Orang Tua"
Posting Komentar