PENDAHULUAN.
Sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang definisi asma yang dapat
diterima semua ahli. Definisi yang banya dianut saat ini adalah yang
dikemukakan oleh The American Thoracic Societyyaitu asma adalah suatu penyakit
dengan cirri meningatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun sebagai hasil
pengobatan. 1,2
Asma adalah penyakit paru yang heterogen dengan obstruksi saluran
pernapasan yang sembuh sebagian atau total, spontan atau dengan terapi.
Serangan umumnya singkat, walaupun jarang, asma dapat berakibat fatal. Secara
tradisional asma dapat diklasifikasikan dua kelompok yaitu alergi ( ekstrinsik
) dan idiosinkrasi (intrinsik). Asma ekstrinsik
merupakan asma yang dipicu oleh alergen atau mediator IgE. Umumnya terdapat pada
orang dan / atau riwayat keluarga dengan penyakit alergi. Sedangkan asma
intrinsik jika tidak ditemukan alergen spesifik sebagai pemicunya, dan terdapat
pada pasien tanpa riwayat alergi dalam keluarganya 2,3
Prevalensi asma terjadi pada 4-8% populasi umum. Pada kehamilan
prevalensinya 1-4%. Di Indonesia prevalensi asma berkisar 5-7 %. 3,4,5 Kepustakaan
lain menyatakan asma berpengaruh pada 1-9% wanita atau pada 200.000 - 376.000
kehamilan di Amerika setiap tahunnya. Rata - rata morbiditas dan mortalitas
pada wanita hamil sebanding dengan populasi umum. Rata - rata mobilitas asma di
Amerika adalah 2,1 per 100.000. 3
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering
dijumpai kehamilan dan persalinan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya
serangan asma selalu sama terhadap setiap penderita, bahkan pada seorang
penderita asma, serangan tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.
Penyakit ini menimbulkan yang serius pada wanita hamil. Asma yang tidak
terkontrol dengan baik, dapat berpengaruh terhadap ibu dan janin.6,7
Terdapat risiko yang jelas baik pada ibu maupun janin, bila gejala asma
memburuk. Pada penelitian menyatakan asma dihubungkan dengan meningkatnya
kematian perinatal dua kali lipat. Selain itu juga meningkatkan risiko
komplikasi berupa hiperemesis, preeklampsia, dan perdarahan pada pasien yang
mengidap asma, begitupula halnya terjadi peningkatan angka kematian neonatal
dan persalinan prematur. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penanganan aktif
pasien hamil untuk menghindari eksaserbasi akut asma bronkhial.2
ETIOLOGI DAN
PATOGENESIS
Sampai saat ini patogenesis maupun
etiologi asma belum diketahui dengan pasti. Berbagai teori tentang patogenesis
telah diajukan, tetapi yang paling disepakati oleh para ahli adalah yang
berdasarkan gangguan saraf autonom dan sistem imun. 1
Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas.
Adanya inflamasi hiperaktivitas saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma
alergi maupun non-alergi. Oleh karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai
keadaan tersebut. Jalur imunologi utama didominasi oleh IgE dan jalur saraf
otonom. Pada jalur IgE , masuknya allergen kedalam tubuh akan diolah oleh APC (Antigen
Presenting Cells), untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan dikomunikasikan
kepada sel Th (T penolong). Sel ini akan memberikan instruksi melalui
interleukin atau sitokin agar sel-sel plasma membentuk serta sel- sel radang
lain seperti mastosit, makrofag, sel epitel, eosinifil, neotrofil, trombosit, serta limfosit untuk mengeluarkan
mediator-mediator inflamasi seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin
(LT), platelet activating factor (PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan
lain-lain akan mempengaruhi organ sasaran menyebabkan peningkatan permeabilitas
dinding vaskuler, edema saluran napas, infiltrasi sel-sel radang, sekresi
mukus, dan fibrosis sub epitel sehingga menimbulkan hiperreaktivitas saluran
napas (HSN). Jalur non- alergi selain merangsang sel inflamasi, juga merangsang
sistem saraf otonom dengan hasil akhir berupa inflamasi dan hiperreaktivitas
saluran napas.5
Hiperreaktivitas saluran napas diduga sebagian didapat sejak lahir.
Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas yaitu :
inflamasi saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis, gangguan
intrinsik, dan obstruksi saluran napas.5
PATOFISIOLOGI
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi
spasme otot bronkus, penyumbatan mukus, edema dan inflamasi dinding bronkus.
Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisioiogis saluran napas
menyempit pada fase tersebut. Hal ini menyebabkan udara distal tempat
terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi
peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional (KRF), dan pasien akan
bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT). Keadaan
hiperinflasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas
berjalan lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot bantu
napas.5
Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas
dapat dinilai secara obyektif dengan VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa
detik pertama) atau APE (Arus Puncak Ekspirasi), sedang penurunan
KVP (Kapasitas Vital
Paksa) menggambarkan derajat
hiperinflasi paru. Penyempitan
saluran napas dapat terjadi, baik pada saluran napas besar, sedang maupun
kecil. Gejala mengi (wheezing) menandakan adanya penyempitan disaluran napas
besar, sedangkan penyempitan pada saluran napas kecil gejala batuk dan sesak
lebih dominan dibanding mengi.5
Perubahan fungsi paru pada kehamilan meliputi 20%
karena peningkatan kebutuhan oksigen dan metabolisme ibu, 40% peningkatan
ventilasi semenit dan peningkatan tidal volume.3 Terdapat sejumlah
perubahan fisiologik dan struktural terhadap fungsi paru selama kehamilan.
Hiperemia, hipersekresi dan edema mukosa dan saluran pernapasan merupakan
akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Pada uterus gravid terjadi peningkatan
ukuran lingkar perut, diafragma meninggi, dan semakin dalamnya sudut
antar kosta. Wanita hamil mengalami peningkatan tidal volume, volume residu,
serta kapasitas residu fungsional, penurunan volume balik ekspirasi, sementara
kapasitas vital tidak berubah. Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2
menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34
mmHg, yang biasanya terlihat pada umur kehamilan 12 minggu. Seperti yang
diperkirakan, frekuensi terjadinya serangan eksaserbasi asma puncaknya pada
umur kehamilan sekitar enam bulan, gejala yang berat biasanya terjadi antara
umur kehamilan 24 minggu - 36 minggu.2
Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:2
- Kontraksi otot pada saluran napas
meningkatkan resistensi jalan napas
- Peningkatan sekresi mukosa dan obstruksi
saluran napas
- Hiperinflasi paru dengan peningkatan volume
residu
- Hiperaktivitas bronkial, yang
diakibatkan oleh histamin, prostaglandin dan leukotrin.
Degranulasi sel mast menyebabkan terjadinya asma dengan cara pelepasan
mediator kimia, yang memicu peningkatan resistensi jalan napas dan spasme
bronkus. Pada kasus kehamilan alkalosis respiratori tidak bisa dipertahankan
diawal berkurangnya ventilasi, dan terjadilah asidosis. Akibat perubahan nilai
gas darah arteri pada kehamilan (penurunan PCO2 dan peningkatan pH).
Pasien dengan perubahan nilai gas darah arteri secara signifikan merupakan
faktor risiko terjadinya hipoksemia maternal, hipoksia janin yang
berkelanjutan. dan gagal napas.2
GEJALA KLINIS
Pada penderita yang sedang bebas serangan tidak
ditemukan gejala klinis, sedangkan pada waktu serangan tampak penderita
bernapas cepat dan dalam, gelisah duduk dengan tangan menyangga kedepan. 5
Gambaran klinis asma klasik adalah serangan
episodik batuk, mengi. dan sesak napas. Pada awal serangan sering gejala tidak
jelas, seperti rasa berat didada, dan pada asma alergi mungkin disertai pilek
atau bersin, Meskipun pada mulanya batuk tanpa disertai sekret. tetapi pada
perkembangan selanjutnya pasien akan mengeluarkan sekret baik yang mukoid,
putih kadang-kadang purulent.5
Wanita hamil dengan eksaserbasi asma akan
mengeluh dispnu. batuk yang produktif atau tidak. atau rasa tertekan di dada.
Gejala yang ada bisa bertambah buruk pada malam hari dan didahului sebelumnya
rinitis alergi atau penyakit yang disebabkan oleh virus. Pada pemeriksaan fisis
biasanya frekuensi pernapasan pasien biasanya meningkat, nadi yang cepat dan
peningkatan tekanan darah. Pada
auskultasi, suara pernapasan berkurang, terdengar
ronki, wheezing, dan waktu pernapasan memanjang. Sebagai tambahan biasanya pasien
menggunakan otot bantu napas.2
Pada tahun 1993, The National Asthma Education
Program ( NAEP ), membagi dalam tiga kategori atau kelompok yaitu ringan,
sedang, dan berat, berdasarkan eksaserbasi gejala (wheezing. batuk, dispne atau
ketiganya). Pembagian ini juga berdasarkan pada episode perlangsungan asma tiap
minggu, fungsi paru-paru, frekuensi serangan asma pada malam hari, dan gangguan
terhadap aktivitas sehari-hari. 1,8
Sedangkan menurut berat ringannya gejala, asma dapat
dibagi menjadi empat tahap yaitu: 5
1.
Asma intermitten
Gejala intermitten (kurang dari sekali seminggu), serangan singkat
(beberapa jam sampai beberapa hari), gejala asma pada malam hari kurang dari 2
kali sebulan, diantara serangan pasien bebas gejala dan fungsi paru normal, nilai
APE dan KVP1 > 80% dari hasil prediksi, vanabilitas <20 o:p="">20>
2.
Asma persisten ringan
Gejala lebih dari 1 kali seminggu, tetapi kurang dari 1 kali per hari,
serangan mengganggu aktifitas dan tidur, serangan asma pada malam hari lebih
dari 2 kali /bulan, nilai APE atau KVP1 > 80% dari nilai
prediksi, variabilitas 20-30%
3.
Asma persisten sedang
Gejala setiap hari, serangan mengganggu aktifltas dan tidur, serangan
asma pada malam hari lebih dari 1 kali seminggu, nilai APE atau KVP, antara
60-80% nilai prediksi, variabilitas >30%
4.
Asma persisten berat
Gejala terus menerus. sering mendapat serangan, gejala asma malam sering,
aktifitas fisik terbatas karena gejala asma, nilai APE atau KVP1 60%
nilai prediksi, variabilitas > 30%.
DIAGNOSIS
Diagnosis asma tergantung pada informasi yang didapatkan dari beberapa
sumber lain dari anamnesis pasien asma, pemeriksaan fisis, tes laboratorium,
dan tes fungsi paru. Walaupun tidak ada tes laboratorium yang dapat memastikan
diagnosis, tes fungsi paru penting mengetahui reversibilitas penyakit,
progresifitasnya dan sebagai petunjuk pelaksanaan.1
Pada riwayat penyakit akan dijumpai keluhan batuk, sesak, mengi, atau
rasa berat di dada. Tetapi kadang- kadang pasien hanya mengeluh batuk-batuk
saja yang umumnya timbul pada malam hari atau sewaktu kegiatan jasmani. Adanya
penyakit alergi yang lain nada pasien maupun keluarganya, dapat membantu
diagnosis. Yang perlu diketahui adalah faktor-faktor pencetus terjadinya asma.
5
Belum ada tanggapan untuk "ASMA BRONKHIALE DALAM KEHAMILAN"
Posting Komentar