Pengeluaran janin merupakan saat penting yang
membutuhkan oksigenasi segera dan hal ini bergantung pada suplai oksigen dan
arteri ibu, venous return, cardiac output, dan arkulasi uteroplasenter.
Mekanisme kompensasi bagi janin untuk melawan kondisi kekurangan oksigen adalah
mempertahankan kadar Hb 16g/dL dan PO2 22 mmHg.9
Asma yang tidak terkontrol baik atau asma yang
berat dapat mengancam janin oleh karena mengakibatkan hipoksia yang berat pada
ibu dan penurunan sirkulasi darah ke uterus. 9 Kelompok wanita ini mempunyai risiko tinggi melahirkan
bayi berat Janin rendah (BBLR) dan bayi prematur, hipoksia neonatal, komplikasi
selama persalinan, dengan tingkat mortalitas perinatal dan maternal yang tinggi
pula. Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain hiperemesis gravidarum. perdarahan
maternal, dan preeklampsia.1,9,10,11
Oleh karena akibat yang ditimbulkan asma selama
kehamilan, maka dianggap yang disertai asma adalah kehamilan risiko tinggi.
Namun bayi yang lahir dan dari wanita yang menderita asma (misalnya dari wanita
dengan asma yang terkontrol) menunjukkan tidak ada perbedaan dalam
hal berat bayi, nilai apgar, dan tingkat kelainan kongenital, dibandingkan
dengan wanita yang tidak menderita asma. 9
PENANGANAN
Penanganan asma pada kehamilan harus dilakukan
secara cepat, dengan tujuan menghilangkan gejala dan menjaga fungsi normal
paru. Prinsip penanganan penderita inpartu disertai asma sama dengan penanganan
asma pada penderita yang tidak harmil. Beberapa aspek penting dalam penanganan
asma meliputi pencegahan. monitoring fungsi paru, dan terapi farmakologi.1,9
Pencegahan dan tes
fungsi paru
Pencegahan yang dianjurkan meliputi menghindari
rangsangan potensial atau faktor pencetus, imunoterapi yang teratur sebelum
kehamilan, dan memperoleh vaksin influenza. Tes fungsi paru khususnya VEP1
( Volume Ekspirasi Paksa detik pertama), merupakan tes terbaik untuk menilai
beratnya penyakit. APE ( Arus Puncak Ekspirasi ) berkaitan dengan VEP1
dan indikator ini mudah diukur dengan spirometer. Pada penderita asma berat yang
inpartu dianjurkan untuk memeriksa APE dua kali sehari di rumah. Hal ini membantu
penanganan dengan membandingkan nilai balas sebelum menggunakan β agonis dan
untuk mendeteksi secara jelas perubahan kearah kekambuhan asma.1
Penilaian untuk janin berupa:1,2
1.
Ultrasonografi : untuk mengetahui pertumbuhan janin
lebih dini
2.
Monitoring jantung janin
3.
Non
Stress Test : digunakan untuk meyakinkan bahwa janin dalam keadaan baik
4.
Kartu gerak janin harian: memonitor gerakan janin.
dengan mencatat setiap gerakan janin
Perawatan darurat
Pasien yang hamil dengan eksaserbasi berat penyakit asma membutuhkan
perhatian karena kegawatan janin akibat hipoksia ibu. Lakukan ABC, dan
tempatkan pasien dengan monitor jantung dan oximetry pulse. Lakukan
intubasi bila ada indikasi untuk mencegah hipoksia pada fetus. Intubasi dan
ventilasi mekanik dilakukan pada pasien yang hampir atau telah mengalami gagal
napas atau pada penderita yang tidak mempunyai respon terhadap pengobatan dan
bemanifestasi terjadinya gagal napas dan asidosis.3
Penanganan asma pada wanita hamil termasuk pemberian oksigen untuk mempertahankan
kadar PaO2 > 60 mmHg, atau saturasi oksigen sebesar 95%.
Ketidakmampuan mempertahankan PaO2 > 60 mmHg merupakan indikasi
untuk melakukan intubasi, dan kemungkinan persalinan darurat jika bayi belum
aterm. Pada semua pasien dengan gejala yang jelas, pemeriksaan gas darah arteri
dan penggunaan oximetry pulse harus dilakukan. Pada pasien dengan gejala
yang nyata dan dengan kehamilan yang viabel, dianjurkan melakukan fetal monitoring
(untuk pemantauan denyut hitung janin secara berkelanjutan). Adanya gambaran
denyut jantung abnormal >160 x/menit atau <120 konsultasi="" membutuhkan="" menit="" obstetri="" secepatnya.="" sup="" x="">2120>
Persalinan biasanya dapat berlangsung spontan akan tetapi bila penderita
masih dalam serangan dapat diberi tindakan ekstraksi vakum atau forceps.
Tindakan seksiosesarea atas indikasi asma jarang dilakukan. Penderita asma yang
melahirkan secara seksiosesarea lebih berisiko mengalami komplikasi post partum
dibandingkan dengan penderita asma yang melahirkan pervaginam. 1,7
Obat- Obat Umum
Semua obat anti asma dapat digunakan secara
luas, termasuk steroid sistemik. aman buat kehamilan dan menyusui. Terapi yang
kurang merupakan masalah utama dalam penanganan wanita hamil dengan asma. Bahan
inhalasi merupakan terapi utama untuk pengobatan asma. β-agonis menyebabkan
relaksasi otot pernapasan. Anti inflamasi inhalasi dapat mengurangi
pelepasan mediator radang yang diyakini
sebagai penyebab sekresi dan bronkospasme.3
Terapi standar konservatif yaitu β-adrenergik
agonis direkomendasikan untuk asma ringan. adrenergik β-agonis inhalasi atau
oral ditambah dengan anti inflamasi inhalasi disarankan untuk asma sedang, dan β-agonis
dan kortikosteroid oral direkomendasikan untuk asma yang berat. Saat ini
kortikosteroid inhalasi meningkat penggunaannya untuk asma yang ringan dan
sedang.3
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "EFEK ASMA PADA KEHAMILAN"
Posting Komentar