A.
Bronkodilator
Kerja cepat dan sangat efektif, meningkatkan
diameter jalan napas dan merelaksasikan otot polos jalan napas. β 2
reseptor agonis lebih luas penggunaannya dan mempunyai efek sistemik yang
kurang. Efektifitas sesudah inhalasi atau oral mempunyai masa kerja obat yang lebih
lama. Albuterol, terbutaline, metaproterenol, dan bitolterol digunakan sebagai patokan
dosis inhalasi. Salmetrol, juga β 2 adrenoreseptor agonis, mempunyai
masa kerja yang panjang ( sekurang - kurangnya 12 jam ). Jadi efektif untuk
pengobatan asma nokturnal.
1.
Nama obat: Albuterol ( Proventil, Ventolin ),
kategori C
Β-agonis untuk bronkospasme seperti epinefrin. Merelaksasikan otot
polos bronkus melalui aksi β2 reseptor dengan efek minimal pada
kontraksi otot jantung.
Dosis : 2-3 puffs setiap 4-6 jam (90mcg/ inhalasi); tidak
melebihi 12 inhalasi/hari
2.
Nama obat: Salmeterol ( Serevent ), kategori C
Merelaksasikan otot polos
bronkiolus pada kondisi
yang berhubungan dengan bronkitis, emfisema, asma, atau
bronkiektasis. Efeknya dapat juga difasilitasi dengan ekspektoran.
Dosis : 2 puffs ( 42 mcg ) dua kali/hari
B.
Antikolinergik
Nama obat: Ipatropium ( Atrovent ) kategori B
Secara kimiawi sama dengan atropin. Mempunyai efek anti sekresi dan
bekerja lokal. Menghambat sekresi glandula sereus dan seromukus pada mukosa
hidung.
Dosis : 2-3 puffs tiap 4-6 jam ( 1 8 mcg/Inhalasi)
C.
Methylxanthine
Manfaat Theophyllin sebagai anti asma berkurang sejak adrenoreseptor
agonis dan obat anti inflamasi digunakan. Theophyllin mempunyai batas
terapeutik yang sempit.
Nama obat: Teophyllin ( Theo - Dur, Aminophylline ), kategon C
Menghasilkan katekolamin eksogen dan menstimulasi pelepasan katekolamin
endogen dan relaksasi muskulus diafragma, serta menyebabkan bronkodilatasi.
Dosis : 600-900 mg/ hr dalam dua atau tiga kali/hari
D.
Kortikosteroid
Meliputi kortikosteroid oral (prednison), kortikosteroid inhalasi (
beclamethasone, flunisolide, triamcinolone), cromolyn dan nedocromil.
Penelitian menunjukkan efek yang stabil dengan penggunaan kortikosteroid.
Penggunaan aerosol lebih efektif untuk mengurangi efek sistemik pada terapi
kortikosteroid. Penggunaan yang lama akan mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi
paru pada pasien dengan asma ringan. Jika bronkodilator inhalasi tidak
berhasil, maka kortikosteroid iragulasi dapat dimulai.
1.
Nama obat: Prednison ( Deltason ), kategori B
Immunosupresan untuk terapi
pada gangguan autoimun dapat mengurangi inflamasi dengan meningkatkan
permeabilitas kapiler dan mengurangi aktivitas PMN.
Dosis : 5-60 mg/hr per oral dalam dua atau tiga kali/'hari.
2.
Nama obat: Beclomethasone ( Beclovent, Beconase, Vancenase).
kategori C
Menghambat
bronkokonstriksi, menyebabkan relaksasi
otot polos, mungkin
dapat mengurangi jumlah dan aktivitas sel inflamasi dan mengurangi hiperresponsif jalan
napas.
Dosis : 2-5 puffs dalam empat kali/hari (42 mcg/puffs)
3.
Cromolyn (Intal), kategori B
Menghambat degranulasi pada sensitasi sel mast
Dosis : 1-4 puffs dalam empat kali/hari (0,8 mcg/spray)
Perawatan lanjut di rumah sakit
Kriteria rawat
rumah sakit :3
1.
Respon tidak adekuat terhadap terapi
2.
PO2 kurang dari 70 mmHg, adanya tanda gawat janin (penurunan
gerakan, kardiotokodinamometri abnormal, kontraksi uterus)
3.
Penggunaan pengobatan multipel (membutuhkan tiga
atau lebih pengobatan secara bersamaan)
4.
Penderita dengan riwayat asma berat yang memerlukan
intubasi atau perawatan ICU dan kondisi transportasi yang kurang baik dan tempat
tinggal ke rumah sakit.
Kriteria rawat
ICU :3
1.
Kesadaran menurun
2.
Terdapatnya aliran udara pernapasan yang kurang
3.
Terdapat
tanda-tanda kelemahan, keadaan
bertambah buruk atau memerlukan ventilasi mekanik
4.
APE/VEP1, kurang dari 25% nilai prediksi
atau PCO2 lebih dari 35 mmHg.
Perawatan lanjut di luar rumah sakit3
1. Kriteria untuk
perawatan di rumah:
· Gejala dan pemeriksaan
fisik mengalami perbaikan
· Pasien dapat
berjalan tanpa gangguan
· APE/VEP1
lebih dari 70%
· Tidak ada
gangguan pada janin
2. Disarankan untuk
follow - up 2-4 hari dengan berkunjung ke RS
3. Berkunjung ke
spesialis asma
PROGNOSIS
·
Pada
suatu penelitian asma
dan kehamilan, sebagian
pasien tidak mengalami
perubahan, dimana terdapat keadaan menjadi buruk atau mengalami perbaikan dari keadaan
sebelumnya.
·
Wanita dengan penyakit ringan tidak mempunyai masalah
·
Pasien dengan asma berat mempunyai risiko menjadi
buruk
·
Adanya bukti yang tidak tetap pada wanita dengan
asma, dimana terjadi peningkatan insiden:
Ø Kehamilan yang
menginduksi hipertensi
Ø Bayi kecil dan
preterm (kejadian ini dapat
diperkecil dan dikurangi dengan kontrol
asma yang baik)
Ø Partus
preterm.
RINGKASAN
·
Asma merupakan penyakit kronik yang ditandai dengan
inflamasi pada jalan napas, obstruksi saluran pernapasan yang reversibel dan
respon berlebihan dari jalan napas, yang dapat sembuh sebagian atau total,
spontan atau dengan terapi. Diagnosis asma tergantung pada informasi yang
didapatkan dari beberapa sumber antara lain dari anamnesis pasien asma,
pemeriksaan fisis, tes laboratorium, dan tes fungsi paru.
·
Gejala asma selama kehamilan yaitu sekitar 1/3
wanita dengan gejala asma yang memberat dari sebelum hamil, 1/3 mengalami
perbaikan atau dengan gejala minimal, dan 1/3 lainnya mengatakan gejala asma
tidak berubah selama kehamilan. Penderita asma selama kehamilan akan mengalami
dispnu yang lebih berat selama kehamilan, yang dapat mengakibatkan hipoksia
berat pada ibu dan janin.
·
Wanita yang menderita asma yang berat mempunyai
risiko tinggi melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan bayi prematur.
hipoksia neonatal, komplikasi selama persalinan, dengan tingkat mortalltas perinatal
dan maternal yang tinggi pula.
·
Prinsip penanganan penderita inpartu disertai asma
sama dengan penanganan asma pada penderita yang tidak hamil. Beberapa aspek
penting dalam penanganan asma meliputi pencegahan, monitoring fungsi paru, dan
terapi farmakologi.
Belum ada tanggapan untuk "Kategori Obat 3"
Posting Komentar