Keadaan-Keadaan Hati
Kedudukan hati sebagai pusat spiritualitas manusia menunjukkan pentingnya fakultas ini dalam keseluruhan hidup manusia. Dalam al-Qur'an hati menjadi lokus perbagai perlakuan, yang hal itu terjadi karena ia menempati sentralitas manusia sebagai individu. Karena itu, hati, sesuai dengan makna bahasanya, mengalami proses yang senantiasa berubah-ubah, tergantung dari bagaimana manusia memanage hatinya untuk menerima atau menolak berbagai perlakuan yang diterimanya. Hukum moral dan spiritual yang ditetapkan Allah sepenuhnya berlaku dalam hati manusia.
Al-Qur'an mendeskripsikan hati (yang mewakili personalitas manusia) dengan berbagai keadaan, seperti:
1. Hati yang dikunci mati oleh Allah karena bertindak kafir. Hati yang dikunci mati tersebut menyebabkan orang tidak dapat mendengarkan (la> yasma‘u>n) ajaran Allah,
[1] tidak dapat memahami (la> yafqahu>n) tanda-tanda Allah,
[2] dan tidak dapat mengetahui (lâ ya‘lamu>n) kebenaran.
[3] Allah juga mengunci mati hati orang yang melampaui batas (mu‘tadu>n),
[4] juga karena mereka memperturutkan nafsu (al-hawa>).
[5]
2. Hati yang di dalamnya ada penyakit (marad}), dan Allah menambah penyakitnya karena berlaku dusta (kiz\b). Akibatnya adalah siksa yang pedih (‘aza>b-un ‘ali>m).
[6]
3. Hati yang menjadi keras (qaswah, qasa>wah, atau qa>siyah) seperti batu atau lebih keras lagi, misalnya karena sebelumnya melanggar janji dan menerima laknat Allah.
[7] Hati menjadi semakin keras adalah juga karena tidak mau merendahkan diri setelah mencapat siksa karena kesalahan sebelumnya. Akibat selanjutnya, setan menghias indah segala perilakunya.
[8] Celaka bagi orang yang keras hatinya.
[9]
4. Hati yang tertutup (ghulf, gila>f), sebuah pengakuan menolah ajaran Allah.
[10] Ada pula hati yang di atasnya Allah meletakkan tutup ('akinnah), sehingga tidak dapat memahami tanda-tanda Allah.
[11] Ada pula tutup (ra>na) yang terjadi atas hatidisebabkan oleh perbuatan jahat.
[12]
5. Hati yang menyimpan kecenderungan sesat (zaigh), yang memilih ayat-ayat yang samar (mutasya>biha>t) daripada ayat yang jelas (muh}kama>t), dengan maksud menyesatkan orang lain.
[13] Tapi, sebaliknya ada hati yang menyimpan kecenderungan baik.
[14]
6. Hati yang disatukan, sehingga orang menjadi bersaudara.
[15]
7. Hati yang tenang atau ditenangkan (t}uma'ni>nah), misalnya oleh kabar gembira (busyra>) dari Allah.
[16] Hati orang beriman tenang karena mengingat Allah, dan Allah menanamkan ketenangan (sakînah) di dalamnya.
[17] Sebaliknya, hati orang yang kafir kepada Allah dan hari kemudian akan kesal ketika Allah disebut-sebut.
[18]
8. Hati orang kafir yang dicengkeram rasa takut karena melakukan tindakan syirik yang mengundang siksa neraka.
[19] Allah juga yang memasukkan rasa takut (ra'b) ke dalam hati.
[20]
9. Hati yang menyimpan rasa penyesalan (h}asrah) yang ditimbulkan oleh Allah di dalamnya.
[21]
10. Ada hati yang kosong iman,
[22] ada pula yang berisi iman.
[23]
11. Hati yang bergetar karena mengingat Allah dan bertambah iman dan tawakkalnya kepada Allah ketika dibacakan ayat-ayat-Nya. Inilah hati orang yang beriman.
[24]
12. Hati yang dikuatkan,
[25] dan yang dihilangkan panas (ghayz})-nya oleh Allah.
[26]
13. Hati yang menyimpan keraguan (rayb) dan karenanya bimbang (yataraddadu>n).
[27]
14. Hati menjadi tempat menyembunyikan rahasia diri, kendatipun Allah pasti mengetahuinya.
[28]
15. Hati yang ada nifa>q-nya karena ingkar dan berdusta.
[29]
16. Hati yang di dalamnya ada keingkaran (munkirah), sehingga melahirkan kesombongan.
[30]
17. Hati yang bertaqwa (taqwa> al-qulu>b), yang menyebabkan seseorang mengagungkan Tanda-tanda (sya‘a>’ir) Allah.
[31]
18. Hati yang buta tidak melihat Tanda-tanda Allah.
[32]
19. Hati orang kafir berada dalam kesesatan (ghamrah).
[33]
Penjelasan al-Qur'an di atas menunjukkan bahwa keadaan-keadaan hati merupakan hasil timbal balik antara tindakan atau perilaku manusia dan akibat-akibat hukum spiritual yang secara otomatis mengenainya. Dengan kata lain, keadaan hati ditentukan oleh dua hal: perbuatan manusia dan hukum spiritual Allah. Kedua hal tersebut dapat menciptakan keadaan hati manusia sehat, sakit, keras, mati, kuat, lemah, fungsional dan disfungsional. Oleh karena hukum spiritual itu berjalan otomatis, maka keadaan-keadaan hati seperti tersebut di atas sepenuhnya tergantung kepada bagaimana manusia memanagenya. Seperti halnya hati fisik yang kehidupannya tergantung kepada, misalnya, nutrisi dan vitamin yang relevan bagi kesehatannya; demikian juga hati spiritual membutuhkan tindakan dan perlakuan moral dan spiritual yang sesuai untuk menjamin kesehatan dan kelangsungan hidupnya.
Memperhatikan modus penjelasan al-Qur'an mengenai hati, sebagaimana diuraikan di atas, tampak sekali bahwa sebagian besar ayat-ayat al-Qur'an mengungkapkan keadaan-keadaan hati yang kurang baik karena berbagai bentuk kelakuan manusia yang menodai pusat kehidupan moral dan spiritualnya sendiri. Tampaknya hanya satu kata kunci untuk menjamin kesehatan hati, dan yang akan menyelamatkan kehidupan manusia, adalah mengikuti cahaya iman dengan sikap pasrah; sedangkan faktor yang merusak hati adalah sebanyak macam dan bentuk tindakan menyimpang manusia dari tuntutan hukum moral dan spiritual.
Tafsi>r al-Qurt}ubi> secara elaboratif memerinci keadaan-keadaan hati orang kafir, yang keadaan-keadannya tergantung kepada tingkat kekafirannya, atau tingkat keburukan tindak pengingkarannya. Disebutkan oleh Qurt}ubi>,
[34] yang dialamatkan kepada pendapat kaum esoteris (ahl al-ma‘a>ni>) yang menjelaskan sepuluh macam keadaan hati orang kafir, yaitu: ingkar (al-inka>r),
[35] rendah atau bersifat merendahkan (al-h}amiyyah),
[36] berpaling (al-ins}ira>f),
[37] keras (al-qasa>wah),
[38] mati (al-mawt),
[39] kotor (ar-rayn),
[40] sakit (al-marad}),
[41] sempit (ad}-d}ayyiq),
[42] terkunci (at}-t}ab‘),
[43] dan terkunci mati (al-khatm).
[44]
Hati menjadi kedap terutama disebabkan oleh sikap seseorang yang dengan sengaja menutupi hatinya dari cahaya kebenaran (deliberate rejection of Truth). Mata dan telinganya dengan sengaja tidak difungsikan untuk melihat Tanda-tanda Allah dan untuk mendengarkan ajaran-Nya. Dengan demikian ia tidak memiliki kemauan untuk memahami kebenaran, memahami Allah dan wahyu-Nya. Oreng tersebut dengan sengaja pula mengunci hati dan pikiran mereka, sehingga tak ada pengaruh cahaya spiritual yang mampu menembus hatinya.
[45]
Hati dari segi penciptaan memang suci dan bersih dari noda. Karena kesuciannya, hati bersifat memancarkan cahaya (luminous) dan merupakan lokus intervensi spiritual Allah dalam spiritualitas manusia.
4. Jiwa (al-Nafs)
Nafs dijumpai dalam al-Qur'an sebanyak 140 kali.
[46] Dari penggunaan al-Qur'an, diketahui bahwa nafs merujuk kepada "diri" manusia, atau sesuatu yang menyangkut jatidiri, dan sesuatu yang berada di dalam diri manusia yang dapat mewakili keberadaannya. Dari penjelasan al-Qur'an, ada juga kesan yang kuat bahwa nafs adalah sisi spiritual manusia yang diperbedakan dengan sisi jasmaniahnya, misalnya dalam polarisasi jiwa-raga, atau nafsani-jasmani, di samping ada pula polarisasi ruhani-jasmani.
Nafs menjadi wacana dalam pemikiran Islam, sekurang-kurangnya karena nafs ini disebutkan dalam kitab suci, yang menjadi sumber dan rujukan dalam pemikiran umat Islam. Banyak hal yang dapat dipelajari dari al-Qur'an mengenai nafs ini, tentunya dengan melakukan analisis bagaimana al-Qur'an menggunakan istilah ini. Dari sekian pengungkapan al-Qur'an mengenai nafs, terdapat beberapa tema pokok yang mengungkap sifat dan keberadaan nafs ini, yaitu antara lain:
a. Nafs adalah personifikasi diri manusia yang menerima konsekuensi disebabkan oleh perbuatan-perbuatan manusia. Karakteristik ini berarti bahwa perbuatan manusia yang baik akan berakibat baik bagi nafs-nya; sebaliknya, jika buruk akan buruk pula nafs-nya.
[47]
b. Segala yang buruk dari nafs manusia; sebaliknya, segala yang baik berasal dari Allah.
[48]
c. Ada perbedaan, sekurang-kurangnya ada jarak, antara manusia dan nafs-nya, ketika al-Qur'an berbicara mengenai manusia yang berbuat zhalim kepada nafs-nya.
[49]
d. Mengingat Allah dalam nafs,
[50] dan Allah tahu apa yang diperbuat oleh nafs.
[51]
e. Setiap nafs manusia merasakan kematian (za>’iqat al-mawt).
[52]
f. Selain nafs untuk manusia, ada juga penggunaan nafs untuk Allah.
[53]
Dalam pemikiran hukum Islam, nafs dipandang mewakili personalitas manusia, dan di ssi lain nafs adalah manusia itu sendiri, atau sekurang-kurangnya berarti "nyawa" atau "jiwa," seperti dalam persoalan qis}as} atau masalah jinayat lainnya. Sedangkan dalam pemikiran spiritual Islam (tasawuf), seperti halnya ru>h}, akal, dan hati, nafs menjadi fokus perhatian; namun berbeda dengan tiga entitas lainnya yang mengesankan sebagai fakultas bercahaya dari manusia, nafs sebaliknya dipandang sebagai fakultas spiritual yang cenderung merusak.
Sebelum membahas hal ini, di bawah ini dikemukakan pengertian nafs menurut beberapa penulis:
(1) Said Hawwa berpendapat bahwa nafs adalah ruh yang telah menyatu dengan jasad.
[54]
(2) Robert Frager menyebutkan bahwa nafs dalam psikologi sufi diterjemahkan sebagai diri (self), atau ego, atau jiwa (soul). Makna lain dari nafs adalah "intisari" dan "nafas." Dan, penggunaan yang lebih umum, nafs adalah diri, seperti dalam kata dirimu atau diriku.
[55]
(3) William C. Chittick menjelaskan bahwa pada umumnya nafs diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan soul (jiwa) atau self (diri). Rumi seringkali menggunakan nafs sebagai jiwa binatang, dan kadang merujuk kepada tingkatan jiwa yang lebih tinggi. Para sufi mengggunakan nafs dalam pengertian nafs al-'ammaa>rah. Sedangkan Chittick sendiri memilih kata ego untuk terjemahan nafs.
[56]
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka nafs dapat dipahami sebagai "diri", jiwa, atau "ego" manusia. Dalam hubungannya dengan kekuatan-kekuatan spiritual, maka nafs manusia adalah sumber kejahatan.
Perkembangan Nafs
Pendapat yang populer mengenai perkembangan nafs ini adalah teori tiga tingkatan perkembangan jiwa berdasarkan al-Qur'an, seperti sering digambarkan oleh kebanyakan penulis sufi, yaitu: (1) jiwa amma>rah, (2) jiwa lawwa>mah, dan jiwa mut}ma‘innah. Jiwa amma>rah (the unregenerate soul, an-nafs al-amma>rah) disebutkan dalam Qs. 12:53.
Jiwa amma>rah adalah jiwa yang mencari kepuasan dari memperturutkan kehendak-kehendak nafsu rendah dan duniawi (the lower eartly desires). Jiwa amma>rah yang disebutkan pada Qs. 12:53 menurut Yusuf Ali adalah jiwa yang cenderung kepada kejahatan (prone to evil), memaksa (impelling), keras kepala (headstrong), bernafsu-berkeinginan keras (passionate).
[57] Lebih tinggi dari ini adalah jiwa lawwa>mah, seperti disebut dalam Qs. 75:2. Jiwa lawwa>mah (the self-reproaching soul, an-nafs al-lawwa>mah), menurut Yusuf Ali adalah jiwa yang memiliki kesadaran mengenai dosa dan menghindarinya. Sedangkan kesadaran akan dosa seperti yang terdapat dalam jiwa lawwa>mah, menurut Yusuf Ali, secara intrinsik sudah ada jiwa atau ruhani manusia, tentunya jika ia tidak menekan atau menindas suara batinnya (the inner voice) di dalam jiwanya.
[58] Sedangkan jiwa mut}ma'innah (the righteous soul, an-nafs al-mut}ma'innah) adalah jiwa yang memasuki tempat yang dijanjikan (surga) dan menerima sambutannya, di mana jiwa tersebut bebas dari sakit, susah, khawatir, kepayahan, kekecewaan, keinginan, atau hawa nafsu; juga dalam kedamaian, dalam kepuasan yang sempurna.
[59]
Teori klasifikasi jiwa seperti ini bukanlah satu-satunya penjelasan, karena masih ada teori yang membagi jiwa lebih dari tiga macam, seperti yang dilakukan oleh Robert Frager yang membuat teori tujuh tingkat jiwa, yaitu (1) jiwa tirani, (2) jiwa penuh penyesalan, (3) jiwa terilhami, (4) jiwa tenteram, (5) jiwa yang ridha, (6) jiwa diridhai, dan (7) jiwa suci.
[60] Teori tujuh tingkat jiwa di atas, dengan demikian, berarti menambahkan empat kategori jiwa selain tiga macam jiwa yang sudah disebutkan sebelumnya. Empat jiwa lainnya adalah jiwa terilhami, jiwa rid}a>, jiwa dirid}ai, dan jiwa suci. Jiwa terilhami didasarkan pada Qs. 91:7-10; jiwa rid}a didasarkan pada Qs. 89:27-30; sdangkan jiwa diridhai dan jiwa suci tidak disebutkan landasarn Qur'a>ni>-nya, melainkan menyebutkan pernyataan para sufi, seperti Ibnu 'Arabi. Yang menarik dari penjelasan Frager adalah penggambarannya dalam bentuk figur-figur untuk masing-masing tingkat perkembangan jiwa. Pada prinsipnya ia membuat figur-figur jiwa itu dalam kerangka hubungan atas-bawah, di mana Tuhan berada pada struktur paling atas, sedangkan alam bawah sadar-bawah terdapat pada struktur paling bawah.
Belum ada tanggapan untuk "Keadaan-Keadaan Hati "
Posting Komentar