.Dalam
kehidupan sehari-hari sering ditemui reaksi kimia yang dapat digolongkan dalam
reaksi oksidasi, reaksi reduksi maupun reaksi oksidasi-reduksi (redoks),
misalnya pembakaran, perkaratan, pengolahan logam dari bijinya.
Berdasar
perkembangannya, konsep oksidasi-reduksi dijelaskan dari beberapa hal berikut :
a. Penggabungan dan Pengeluaran Oksigen
Jika
sepotong besi diletakkan di udara terbuka, lama kelamaan logam itu berkarat.
Reaksi perkaratan besi
berlangsung sebagai berikut :
4Fe(s) + 3O2(g) ------> 2Fe2O3
Pada
peristiwa perkaratan, besi bereaksi dengan oksigen. Kita katakan besi mengalami
oksidasi. Kata “oksidasi” secara karafiah berarti “ Pengoksigenan ”. karat besi
adalah oksida dengan rumus Fe2O3, sebagaimana bijih besi pada kulit bumi, pada
industri logam bijih besi diolah menjadi besi murni menurut reaksi berikut ini
:
Fe2O3(s) + 3CO(g) ------> 2Fe(s) + 3CO2 (g)
Pada pembuatan besi murni,
terjadi pengeluaran atau pengurangan oksigen dari bijih besi (Fe2O3). Kita
katakan, Fe2O3 mengalami reduksi. Kata reduksi secara harafiah berarti
“pengurangan”. Jadi : Oksidasi adalah peristiwa penggabungan pada persamaan
reaksi berikut :
2Cu + O2 ----> 2CuO
2Fe + O2 ----> 2FeO
4Fe + 3O2 ----> 2Fe2O3
Reduksi adalah proses
pengambilan atau pengeluaran oksigen dari suatu zat.
2FeO
+ C ----> 2Fe + CO2
CuO + H2 ----> Cu + H2O
b. Pelepasan dan Penangkapan Elektron
Pada
peristiwa oksidasi Fe menjadi Fe2O3, atom Fe melepaskan elektron menjadi ion
Fe3+. Jadi pengertian oksidasi dapat diperluas menjadi pelepasan elektron.
Sebaliknya pada peristiwa reduksi Fe2O3 menjadi Fe, ion Fe3+ menangkap
elektron menjadi atom Fe. Maka pengertian reduksi juga dapat diperluas menjadi
peristiwa penangkapan elektron.
Dengan pengertian yang lebih
luas ini, konsep oksidasi dan reduksi tidaklah terbatas pada reaksi-reaksi yang
melibatkan oksigen saja.
Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron.
Contoh
reaksi oksidasi :
Na ----> Na+ + e
Zn ----> Zn2+ + 2e
Fe2+ ----> Fe3+ + e
S2- ---- >S + 2e
Reduksi adalah reaksi penerimaan atau penangkapan elektron.
Contoh
reaksi reduksi :
K+ + e ---- >K
Cu2+ + 2e ---->Cu
Co3+ + e----> Co2+
Cl2 + 2e ---->2Cl-
Pada
reaksi oksidasi, elektron berada di ruas kanan
Pada reaksi reduksi, elektron berada di ruas kiri
Perlu
diingat bahwa “ melepaskan elektron “ berarti memberikan elektron kepada atom
lain. Sedangkan “menangkap elektron” berarti menerima elektron dari atom lain.
Jadi peristiwa oksidasi suatu atom selalu disertai oleh peristiwa reduksi atom
yang lain. Sebagai contoh, kita lihat reaksi oksidasi
Zn----> Zn2+ + e
Reaksi
ini harus mempunyai pasangan berupa reaksi reduksi agar jelas kepada siapa
elektron itu diberikan, misalnya :
Cu2+ + 2e ---->Cu
Dengan
demikian, kedua reaksi diatas masing-masing baru merupakan setengah reaksi,
sedangkan reaksi lengkapnya adalah :
Zn
+ Cu2+ ---->Zn2+ + Cu
Reaksi lengkap ini disebut
reaksi redoks (singkatan dari reduksi-oksidasi) sebab mengandung dua peristiwa
sekaligus : Zn teroksidasi menjadi Zn2+ dan Cu2+
tereduksi menjadi Cu.
Zat yang mengalami oksidasi
(melepaskan elektron) disebut reduktor (pereduksi), sebab ia menyebabkan zat
lain mengalami reduksi, sebaliknya zat yang mengalami reduksi disebut oksidator
(pengoksidasi).
Pada contoh reaksi diatas Zn merupakan reduktor, sedangkan Cu2+merupakan
oksidator.
Reduktor = Zat yang mengalami oksidasi
Oksidator = Zat
yang mengalami reduksi
c. Oksidasi-Reduksi Berdasarkan Bilangan
Oksidasi
Oksidasi
= Penambahan (naiknya) bilangan oksidasi
Reduksi = Pengurangan (turunnya) bilangan oksidasi
Bilangan oksidasi : bilangan yang menunjukkan kemampuan atom dalam mengikat
atau melepas elektron
Contoh
:
Fe2O3(s) + ....3CO(g)→ 2Fe(s) +..3CO2(g)
+3..................+2............0..........+4
l_________________l
reduksi........... l_____________l
...........................oksidasi
A.
NORMALITAS
Normalitas
yang bernotasi (N) merupakan satuan konsentrasi yang sudah memperhitungkan
kation atau anion yang dikandung sebuah larutan. Normalitas didefinisikan
banyaknya zat dalam gram ekivalen dalam satu liter larutan. Secara sederhana
gram ekivalen adalah jumlah gram zat untuk mendapat satu muatan.
Sebagai
contoh: 1 mol H2SO4 dalam 1 liter larutan, H = 1, S = 32 dan O = 16, kita dapat
tentukan gram ekivalennya. Dalam hal ini kita telah mengenal konsep ionisasi. 1
mol H2SO4 = 98 gram. (Ingat konsep mol).
Untuk
mendapatkan larutan 1 N, maka zat yang dibutuhkan hanya 49 gram H2SO4
dilarutkan kedalam 1 Liter air, karena dengan 49 gram atau 0.5 molar sudah
dihasilkan satu muatan dari zat-zat yang terionisasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian materi
di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:
1. Stoikiometri adalah perhitungan
kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi.
- Konsep
mol digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu senyawa, baik rumus
empiris (perbandingan terkecil atom dalam senyawa) maupun rumus molekul
(jumlah atom dalam senyawa)
- Rumus
empiris dihitung gram atau persen masing-masing penyusun senyawa dan angka
tersebut dibagi dengan Ar masing-masing diperoleh perbandingan mol
terkecil dari unsur penyusun senyawa.
- Rumus
molekul dan rumus empiris suatu senyawa ada kalanya sama, tetapi
kebanyakan tidak sama.
- Menentukan
rumus molekul senyawa ada dua hal yang harus terlebih dahulu diketahui
yaitu rumus empiris senyawa dan Mr atau BM senyawa.
- Koefisien
reaksi : Perbandingan mol seluruh
zat yang ada pada persamaan reaksi, baik reaksi ruas kiri maupun hasil di
ruas kanan.
7.
Jika
salah satu zat sudah diketahui molnya, mk zat lain pada persamaan reaksi dapat
dicari dengan cara membandingkan koefisien.
8.
Hukum-hukum
gas
Yaitu:
a.
Hukum
Gay-Lussac (hukum perbandingan volume).
b.
Hukum
Avogadro (pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang bervolume sama akan
memiliki mol yang sama).
c.
Keadaan
Standar (setiap 1 mol gas apa saja pada suhu 0oC dan tekanan 1 atm
memiliki volume 22,4 liter (22,4 dm3)
SOAL DAN PEMBAHASAN
1. Pada wadah tertutup, 4 gram logam kalsium dibakar dengan
oksigen, menghasilkan kalsium oksida. Jika massa kalsium oksida yang dihasilkan
adalah 5,6 gram, maka berapa massa oksigen yang diperlukan?
Jawab :
m Ca = 4 gram
m CaO = 5,6 gram
m O2 = ..?
Berdasarkan hukum kekekalan massa :
Massa sebelum reaksi = massa
sesudah reaksi
m Ca + m O2 = m CaO
m O2
= m CaO - m
Ca
= (5,6 – 4,0) gram
= 1,6 gram
Jadi
massa oksigen yang diperlukan adalah 1,6 gram.
2. Jika diketahui perbandingan massa besi (Fe) dan
belerang (S) dalam pembentukan senyawa besi (II) sulfida (FeS) adalah 7 : 4
maka tentukan
a.
Massa besi yang dibutuhkan untuk bereaksi dengan 8 gram belerang!
b.
Massa belerang yang tersisa, jika sebanyak 21 gram Fe direaksikan dengan 15
gram S!
c.
Massa S dan massa Fe yang dibutuhkan untuk menghasilkan 22 gram senyawa
FeS!
Jawab :
Reaksi :
7 4 11
Massa
zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama, sehingga 7 gram Fe akan bereaksi
dengan 4 gram S membentuk 11 gram FeS.
a)
Massa S = 8 gram
Massa Fe = …?
Massa Fe =
Jadi massa Fe yang dibutuhkan adalah 14 gram.
b)
21 gram Fe direaksikan dengan 15 gram S, berarti :
Fe : S
= 21 :
15 = 7
: 5
Belerang berlebih, berarti seluruh Fe habis
bereaksi.
Massa Fe yang bereaksi = 21 gram
Massa S yang bereaksi =
Massa S yang tersisa = ( 15-12 ) gram =
3 gram
Jadi massa S yang tersisa adalah 3 gram.
c)
Untuk membentuk 22 gram FeS :
m Fe =
m S =
Jadi massa Fe dan S yang dibutuhkan adalah 14 gram
dan 8 gram.
3.
Karbon dapat bergabung dengan hidrogen dengan perbandingan 3 : 1, membentuk
gas metana. Berapa massa hidrogen yang diperlukan untuk bereaksi dengan 900
gram C pada metana?
Jawab :
C : H = 3
: 1 sehingga :
900 : m H = 3
: 1
m H =
Jadi, massa H yang
diperlukan adalah 300 gram.:
4.
Pada suhu dan tekanan yang sama, sebanyak 2 L gas nitrogen (N2)
tepat bereaksi dengan gas H2 membentuk gas NH3 (amonia).
Tentukan :
a.
Persamaan reaksinya!
b.
Volume gas H2 yang diperlukan!
c.
Volume gas NH3 yang dihasilkan!
Jawab :
a)
Persamaan reaksinya :
b) V H2 =
=
= 6 L
Jadi volume gas H2 yang diperlukan dalam
reaksi adalah 6 L.
c) V NH3 =
=
= 4 L
Jadi volume gas NH3 yang dihasilkan oleh
reaksi tersebut adalah 4 L.
5. Setarakan persamaan
reaks berikut!
Jawab:
Langkah 1:
Menetapkan koefisien C2H6 = 1 sedangkan koefisien yang lain
ditulis dengan huruf.
Langkah 2 :
Jumlah atom di ruas kiri dan
kanan :
|
Atom
|
Ruas kiri
|
Ruas kanan
|
|
C
|
2
|
B
|
|
H
|
6
|
2c
|
|
O
|
2a
|
2b+c
|
Langkah 3:
Jumlah atom di ruas kiri =
jumlah atom di ruas kanan.
Dari langkah 3, diperoleh :
b = 2 ……………. (i)
2c = 6 ……………. (ii)
2a = (2b + c) …….. (iii)
Dari persamaan (ii), diperoleh
:
2c = 6
c =
………. (iv)
Persamaan (i) dan (iv)
disubstitusikan ke persamaan (iii) :
2a = (2b + c) …….. (iii)
2a = {(2).(2) + 3} = 7
a =
…………... (v)
Langkah 4 :
Nilai-nilai a, b dan c
disubstitusikan ke persamaan reaksi :
…………..(x 2)
Langkah 6 :
Memeriksa kembali jumlah atom
di ruas kiri dan kanan, serta melengkapi wujud zatnya.
6. Tentukan rumus empiris dan rumus molekul senyawa-senyawa di bawah ini!
|
a.
|
Suatu senyawa C den H mengandung 6 gram C
dan 1 gram H.
Tentukanlah rumus empiris dan rumus molekul senyawa tersebut bila diketahui
Mr nya = 28 !
|
|
Jawab:
|
mol C : mol H = 6/12 :
1/1 = 1/2 : 1 = 1 : 2
Jadi rumus empirisnya: (CH2)n
Bila Mr
senyawa tersebut = 28 maka:
12n + 2n = 28
14n = 28
n = 2
Jadi
rumus molekulnya : (CH2)2 = C2H4
|
|
b.
|
Untuk mengoksidasi 20 ml suatu
hidrokarbon (CxHy) dalam keadaan gas diperlukan oksigen
sebanyak 100 ml dan dihasilkan CO2 sebanyak 60 ml. Tentukan rumus
molekul hidrokarbon tersebut !
|
|
Jawab:
|
Persamaan reaksi
pembakaran hidrokarbon secara umum
CxHy
(g) + (x + 1/4 y) O2 (g) x CO2 (g) + 1/2 y H2O
(l)
Koefisien reaksi menunjukkan perbandingan mol zat-zat yang terlibat dalam
reaksi.
Menurut Gay Lussac gas-gas pada p, t yang sama, jumlah mol berbanding lurus
dengan volumenya
Maka:
|
mol CxHy
|
: mol O2
|
: mol CO2
|
= 1
|
: (x + 1/4y)
|
: x
|
|
20
|
: 100
|
: 60
|
= 1
|
: (x + 1/4y)
|
: x
|
|
1
|
: 5
|
: 3
|
= 1
|
: (x + 1/4y)
|
: x
|
atau:
1 : 3 = 1 : x
x = 3
1 : 5 = 1 : (x + 1/4y)
y = 8
Jadi rumus hidrokarbon tersebut adalah : C3H8
|
7.
Gas
A2 sebanyak 10 mL tepat habis bereaksi dengan 15 mL gas B2
membentuk 10 mL gas AxBy
pada suhu dan tekanan yang sama. Berapakah nilai x dan y?
Penyelesaian
:
Perbandingan
volume gas A2 terhadap gas B2 dan gas AxBy
adalah 10 mL : 15 mL : 10 mL = 2 : 3 : 2. Perbandingan volume gas sama dengan
perbandingan koefisien reaksinya. Dengan demikian, persamaan reaksi menjadi :
2
A2(g) + 3 B2(g) → 2 AxBy
Nilai
x = 2 dan nilai y = 3.
8.
Pada
suhu dan tekanan tertentu, sebanyak 0,5 L gas hidrogen (Ar H = 1) memiliki
massa sebesar 0,05 gram. Berapakah volume gas oksigen yang dapat dihasilkan
jika sebanyak 12,25 gram padatan KClO3 dipanaskan? (Mr KClO3 =
122,5)
Penyelesaian
:
mol
H2 = gram / Mr = 0,05 / 2 = 0,025 mol
Persamaan
reaksi pemanasan KClO3 adalah sebagai berikut :
KClO3(s)
→ KCl(s) + 3/2 O2(g)
mol
KClO3 = gram / Mr = 12,25 / 122,5 = 0,1 mol
Dengan
demikian, mol O2 = (3/2) x 0,1 mol = 0,15 mol
Pada
suhu dan tekanan yang sama, Hukum
Avogadro berlaku pada sistem gas. Perbandingan mol gas sama dengan
perbandingan volume gas. Dengan demikian :
mol
H2 : mol O2 = volume H2 :
volume O2
0,025
: 0,15 = 0,5 : volume O2
Volume
O2 = ( 0,15 x 0,5) / 0,025 = 3 L
9. Sebanyak 16,4 gram Ca(NO3)2 dilarutkan
dalam air hingga volume 250 ml. Jika diketahui Mr Ca(NO3)2
= 164, tentukan Konsentrasi larutan !
Jawab :
M=
(m/n) x (1000/v)
M=
(16,4/164) x (1000/250)
M=0,4
M
10. Sebanyak 50 ml larutan HCl
0,2 M ditambah air hingga membentuk larutan HCl dengan konsentrasi 0,05 M.
Hitunglah volume air yang harus ditambahkan !
Jawab :
M1 . V1 = M2 . V2
0,2 . 50 = 0,05 . V2
V2 = 200 ml
V air = 200-50 = 150 ml
11. Berapa molalitas larutan yang dibuat
dari 4 gram NaOH dengan 200 gram air?
Jawab
4
gram NaOH dalam 200 gram air
Jadi,
molalitas larutan NaOH adalah 0,5 m.
12. Tentukan molalitas larutan glukosa
(C6H12O6) 6 %.
Jawab
Larutan
glukosa 6 % mengandung arti bahwa setiap 100 gram larutan, massa glukosa = 6
gram dan massa air 94 gram.
Massa
glukosa dalam 6 % glukosa = 6/100 x 100 gram = 6 gram
Massa
pelarut = (100 - 6) gram = 94 gram = 0,094 kg
Jumlah
mol glukosa = 6/180 = 0,033 mol
Jadi,
molalitas larutan glukosa 6 % adalah 0,35 molal.
13. Tentukan fraksi mol etanol (Mr = 46)
dalam larutan etanol 46 % massa.
Jawab
Larutan
etanol 46 % mengandung arti bahwa setiap 100 gram larutan mengandung:
Massa
etanol = 46/100 x 100 gram = 46 gram
Massa
air = (100 - 46) gram = 54 gram
Jumlah
mol etanol (nB)= 46/46 = 1 mol
Jumlah
mol air (nA) = 54/18 = 3 mol
=
1/ 1+3
= ¼
= 0,25
Jadi,
fraksi mol etanol adalah 0,25.
14. Berapa kadar (dalam %) glukosa
(C6H12O6) dalam suatu larutan, jika diketahui fraksi mol glukosa dalam larutan
itu sama dengan 0,2 (Mr glukosa = 98)?
Jawab
Jika
fraksi mol glukosa = 0,2; maka fraksi mol air = 0,8
Jumlah
mol glukosa : jumlah mol air = 0,2 : 0,8 = 1 : 4
Massa
glukosa : massa air
=
(mol glukosa x Mr glukosa) : (mol air x Mr air)
=
(1 x 98) : (4 x 18)
=
98 : 72
Kadar
(%) glukosa = 98/170x 100% = 0,58%
Jadi, kadar glukosa
dalam larutan sebesar 0,58 %.
15. Suatu senyawa
dengan rumus C12H22O11 mengandung 72 g karbon
, dan oksigen sebanyak…..( Ar H=1, O=16, C=12 )
Jawab
Perbandingan
indeks = Perbandingan mol
mol
C : mol = 12 : 11
massa C/Ar C : massa O/Ar O =
12
: 11
72/12 : m/16 = 12: 11
72/12x12 = m/11x16
m = 88
Jadi,
massa Oksigen dalam senyawa C12H22O11 adalah
88 gram.
Belum ada tanggapan untuk " KONSEP REAKSI OKSIDASI DAN REDUKSI"
Posting Komentar