Fenobarbital tergolong obat anti kejang, oleh karena itu, fenobarbital merupakan salah satu pilihan obat untuk epilepsi. Di Indonesia, fenobarbital diberikan kepada hampir semua anak/bayi demam dengan tujuan mencegah terjadinya kejang demam. Padahal, standard operating procedure (SOP) tatalaksana kejang demam maupun SOP demam tidak mencantumkan perlunya pemberian fenobarbital untuk mencegah terjadinya kejang demam. Kejang demam tidak dapat dicegah. Oleh karena itu, pemberian fenobarbital pada anak demam merupakan pola pemberian obat yang tidak rasional.
Pemberian fenobarbital pada kondisi demam bukan saja tidak diperlukan, bahkan dapat merugikan. Fenobarbital merupakan salah satu obat yang menekan ensim sitokrom P450 di hati, ensim yang berperan pada metabolisme obat tahap pertama (lihat slide no 9). Penekanan ensim ini menyebabkan terganggunya metabolisme obat lain yang diberikan bersamaan dengan fenobarbital, akibatnya konsentrasi obat lain akan meningkat dan meningkat pula risiko toksisitas obat yang diberikan bersama fenobarbital. Misalnya, pemberian fenobarbital dengan parasetamol menyebabkan kadar parasetamol di darah meningkat (dibandingkan bila parasetamol hanya diberikan tanpa fenobarbital) sehingga risiko “keracunan” parasetamol pun meningkat. Hal yang sama terjadi bila fenobarbital diberikan bersama chloramphenicol, steroid, teofilin, metronidazole, rifampisin, obat untuk asma, obat untuk selesma.
Efek samping yang mungkin ditimbulkannya:
- Mengantuk, penurunan kesadaran
- Sakit kepala, Pusing/Dizziness
- Depresi atau hiperaktivitas
- Gangguan lambung,
- Muntah-muntah
ANTI DIARE, ANTI MUNTAH
Simaklah SOP diare dengan atau tanpa muntah. Keduanya adalah gejala, bukan penyakit. Carilah penyebabnya. Pada anak dan bayi, kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus yang akan sembuh sendiri dalam beberapa hari, tanpa pengobatan kecuali cairan dan cairan rehidrasi oral. Ada kebiasaan bila anak/bayi diare, diberi berbagai macam obat mulai dari kaolin, smectite (Smecta), LactoB, sampai dengan obat anti jamur, dan antibiotik. Pemberian obat-obat tersebut tidak ada dalam SOP tatalaksana diare dan muntah, juga tidak ada evidence nya (tidak terbukti EBMnya).
Kaolin: Pernah coba browsing di situs WHO atau lainnya? Tidak menemukan? Jangan bingung, memang obat ini tidak dipakai di negeri lain. Bahkan dari produsen nya sendiri menyatakan bahwa obat ini justru tidak boleh diberikan pada infeksi E coli, salmonella, shigella, dan tidak boleh juga diberikan pada diare yang ada darahnya serta bila ada kecurigaan obstruksi usus dan berbagai kasus bedah lainnya. Kaolin juga dapat menimbulkan efek samping yang disebut Toxic megacolon yaitu terkumpulnya dan terperangkapnya tinja di usus besar sehingga racun-racun yang seharusnya dikeluarkan oleh tubuh kita akan meracuni tubuh kita. Selain itu, baru-baru saja ada warning agar tidak memberikan Kaopectate karena kandungan aspirin di dalamnya.
Pepto Bismol Warning
====================
Parents generally know that they shouldn't give aspirin to their kids. They may not know exactly why, but most are aware that it can be dangerous. Of course, the reason to avoid these medications is because they can increase your child's chances of developing Reye's syndrome if they take them while they also have a viral infection, such as the flu or chicken pox.
There are other medicines that contain salicylates, which are related to aspirin, that you should also avoid. Their link to Reye's syndrome is just theoretical though. These include: Kaopectate & Pepto-Bismol
Also remember that the AAP, in the practice parameter: The management of acute gastroenteritis in young children, makes the recommendation that 'as a general rule, pharmacologic agents should not be used to treat acute diarrhea' and that 'the routine use of bismuth subsalicylate is not recommended in the treatment of children with acute diarrhea'.
Anti Jamur? Dalam keadaan normal, jamur banyak sekali di usus kita, dan samasekali tidak membahayakan bahkan kita butuhkan antara lain untuk memproses sisa makanan yang akan dibuang. Bila kita mengalami kelainan sistem imun misalnya pasca transplantasi organ atau memperoleh steroid jangka panjang, maka tubuh kita potensial rentan trerhadap infeksi jamur. Diare pada orang normal samasekali tidak memerlukan anti jamur. Obat anti jamur justru dapat menimbulkan gangguan pencernaan karena obat tersebut membunuh jamur “baik” yang ada di dalam usus kita.
Antibiotik? Hanya diare akibat parasit (umumnya ditandai dengan adanya darah di tinjanya) yang perlu diberi antibiotik. Diare akibat kuman sekalipun umumnya tidak membutuhkan antibiotik. Pemberian antibiotik akan menganggu flora normal di usus kita dan menimbulkan gangguan pencernaan termasuk diare yang berkepanjangan. Pemberian antibiotik dapat menyebabkan colitis pseudomembranosa yaitu suatu kondisi dimana usus besar dilapisi suatu selaput akibat maraknya kuman (yang aslinya bukan kuman jahat) sehingga proses penyerapan air di usus besar terganggu dan terjadilah diare berkepanjangan.
Anti muntah. Secara garis besar, muntah bisa dibagi dua, muntah karena kelainan usus yang memerlukan tindakan bedah (apendisitis, intususepsi/penjepitan usus, strangulasi/usus terpelintir, hernia, tumor). Muntah juga bisa karena infeksi dan sebagian besar muntah pada bayi dan anak disebabkan oleh gastroenteritis virus. Pemberian obat muntah sangat melawan proses fisiologis tubuh untuk membuang racun, kedua, menyesatkan kita kalau ada kelainan bedah tersebut di atas. Selain itu, obat anti muntah tersebut potensial menimbulkan efek samping.Be rational, jangan tergopoh-gopoh menghentikan gejala. Cari penyebabnya, itu sikap yang bijak.
TEOFILIN
Teofilin sering sekali ditulis diresep untuk anak batuk pilek padahal teofilin BUKAN obat batuk pilek. Teofilin adalah suatu bronkodilator (pembuka saluran napas) yang dibutuhkan anak asma berat atau asma yang tidak memberikan respons terhadap bronkodilator lainnya misalnya salnutamol. Anehnya, resep teofilin umumnya diberikan bersamaan dengan salbutamol dan steroid, antihistamin, serta antibiotik. Padahal, di negara maju, obat ini jarang sekali dipakai karena
(1) ia potensial menimbulkan efek samping (rentang keamanannya sempit). Artinya, dosis terapi sangat berhimpitan dengan dosis yang bisa menimbulkan efek samping; ia juga harus dipergunakan dengan sangat hati-hati (yang pasti bukan untuk anak batuk pilek biasa) karena
(2) teofilin berpengaruh terhadap sistem jantung-pembuluh darah, syaraf dan otak, saluran cerna, serta sistem metabolik. Efek samping nya antara lainmual, diare, detak jantung meningkat, irama jantung tidak beraturan, serta eksitasi sistem otak. Kelebihan dosis Teofilin juga bisa menyebabkan hypokalemia, hyperglycemia, hypercalcemia, hypophosphatemia, acidosis.
(3) toksisitasnya meningkat apabila pada saat bersamaan diberikan obat cimetidine, phenytoin (anti kejang), erythromycin, fluoroquinolones. Juga berinteraksi dengan allopurinol, azithromycin (Zithromax), carbamazepine (Tegretol), cimetidine (Tagamet), ciprofloxacin (Cipro), clarithromycin, diuretics, lithium, oral contraceptives, prednisone, propranolol, rifampin, tetracycline, obat lain untuk infeksi dan penyakit jantung.
Ketika anak memperoleh resep, tanya dokter apakah ada teofilin nya ... apabila ya .. tanya apa maksudnya karena ia hanya diberikan pada asma yang tidak mempan obat asma biasa.
Belum ada tanggapan untuk "APA ITU PHENOBARBITAL/LUMINAL "
Posting Komentar