Kombinasi ACE-i
dengan CCbs
Kombinasi
dari ACE-i dan CCBs telah menunjukkan efek penurunan tekanan darah yang lebih
besar bila dibandingkan dengan penggunaan monoterapi. Kombinasi ACE-i/CCBs
telah menunjukkan penurunan tekanan darah yang efektif pada pasien hipertensi
dan gagal ginjal, tanpa mempengaruhi fungsi renal yang tersisa, serta pada
pasien dengan diabetes melitus tipe 2. ASCOT -BPLA memberikan bukti-bukti
mengenai keuntungan dari kombinasi terapi CCB (Amlodipine) dan ACE-i (perindopril). ASCOT sendiri merupakan suatu
studi acak prospektif terkontrol di berbagai pusat kesehatan dengan jumlah pasien
hipertensi sebesar 19.257, berusia 40-79 tahun, dan dengan sekurangnya memiliki
tiga faktor resiko kelainan kardiovaskuler. Pada studi, pasien diberikan regimen
terapi amodipine dengan perindopril atau atenolol dengan bendroflumethiazide.
Terdapat perbedaan yang signifikan pada penurunan tekanan darah pada kombinasi
CCB/ACE-i, meskipun perbedaan pada pengurangan
resiko kelainan kardiovaskuler tidak berbeda secara signifikan (pengurangan
resiko 10%; p=0.l), kombinasi CCB/ACE-i memberikan penurunan resiko stroke
sebesar 23%, kelainan dan prosedur kardiovaskuler total 16%, kematian
kardiovaskuler 24% dan onset diabetes 30% bila dibandingkan dengan kombinasi
B-blocker/diuretik. Secara kontras, hasil terbaru dari percobaan DREAM
(Diabetes Reduction Assessment With Ramipril and Rosiglitazone Medication)
mengindikasikan bahwa penggunaan ACE-i Ramipril tidak secara signifikan
mengurangi angka kejadian diabetes melitus, dibandingkan dengan plasebo pada
5.269 pasien yang terdiagnosa mengalami gangguan glukosa puasa IFG (Impaired
Fasting Glucose) atau IGT (Impaired Glucose Tolerant) tanpa adanya kelainan
kardiovaskuler. Akan tetapi studi dari Kaplan-Meier pada kurva lambat divergen
menunjukkan bahwa mungkin terdapat keuntungan di dalam pencegahan diabetes
setelah 3.5 tahun, yang menunjukkan bahwa studi tersebut kurang mendapat
perhatian atau waktu studi yang terlalu pendek. Hasil dari penelitian yang
sedang berjalan dari penelitian NAVIGATOR (Nateglinide And Valsartan in Impaired Glucose Tolerance
Outcomes Research), akan memberikan data tambahan terhadap efek dari ACE-i
untuk mengurangi onset terjadinya diabetes melitus.
Penggunaan
kombinasi ACE-i dan CCBs juga menunjukkan hasil insiden edema yang lebih rendah
dibandingkan penggunaan CCBs sebagai monoterapi. ACE-i secara umum mudah
diterima pasien, meskipun terkadang terdapat efek samping batuk kering kronis
yang dapat menjadi permasalahan pada 20% dari pasien.
Tabel 1.
Keuntungan dari mekanisme multipel terapi CCB/ARB, seperti amlodipine/valsartan (Sverre E. Kjeldsen, Drug
Evaluation Therapy, 2007).
|
Efek
|
Dampak Klinis
|
|
Meningkatkan efek penurunan tekanan
darah
|
Potensiasi efek antihipertensi
Efek aditif
Menyeimbangkan mekanisme regulasi
balik
|
|
Peningkatan toleransi
|
Pengurangan efek samping
Tidak memerlukan penambahan dosis,
sehingga mengurangi efek samping
Pengurangan efek samping (ex :
amlodipine-edema perifer)
|
|
Efek protektif
|
Keuntungan karena penurunan tekanan
darah:
- mengurangi resiko diabetes melitus
- efek anti
angina
|
|
Peningkatan toleransi
|
Menyederhanakan regimen terapi
Menawarkan kenyamanan pada pasien
Dosis satu kali/hari
Mengurangi kerumitan regimen terapi
|
|
Efek terhadap ekonomi
|
Biaya lebih murah dibandingkan
penggunaan 2 monoterapi mengurangi pengeluaran melalui :
- penurunan tekanan darah yang cepat
dan menghindari efek samping kardiovaskuler
- mengurangi biaya kesehatan secara
langsung dan tidak langsung
- meningkatkan toleransi terhadap
penderita
|
ARB : Angiotensin II receptor blocker; CCB : calcium
channel blocker.
D. Kombinasi ARBs
dengan CCBs
Penggunaan
kombinasi ARB dan CCB memiliki beberapa keuntungan
(tabel 1), meskipun ada beberapa aspek yang berpengaruh
terhadap penggunaannya (seperti harga yang berhubungan dengan onset terjadinya
angina dan diabetes melitus) yang perlu diperhitungkan. Terdapat beberapa
mekanisme terapi yang berhubungan dengan penurunan tekanan darah secara cepat
dan efek tambahan terhadap penurunan tekanan darah pada dua jalur mekanisme
terapi yang berbeda. ARBs bekerja pada target sistem renin angiotensin dengan menghambat
pada reseptor angiotensin II tipe reseptor 1 ( AT1), sehingga menghasilkan
vasodilatasi pembuluh darah serta ekskresi garam dan air, dan mengurangi
aktivasi dari sistem saraf simpatis. CCBs menstimulasi vasodilatasi perifer
dengan menghambat kanal kalsium pada otot halus pembuluh darah. Kedua target
kerja obat ini memiliki mekanisme yang penting terhadap mekanisme regulasi
balik.
Terapi dengan ARB
dan CCB memiliki efek yang potensial untuk mengurangi tekanan darah yang
diharapkan dapat mengurangi morbiditas dan mortalitas karena komplikasi
kardiovaskuler. Sebagai tambahan, ARBs dan CCBs berhubungan dengan efek yang
menguntungkan terhadap efek kardioprotektif selama pengaturan tekanan darah.
Sebagai contoh, ARBs dan CCBs memiliki efek antisklerotik melalui beberapa
mekanisme. Studi terkini pada pasien hipertensi yang tidak diterapi bahwa
penggunaan amlodipine dapat mengurangi kekakuan pada pembuluh darah arteri,
dengan variabilitas pengurangan tekanan darah selama 24 jam, dimana valsartan
memiliki efek yang serupa dalam mengurangi kekakuan arteri tanpa mempengaruhi
variabilitas tekanan darah, yang kemungkinan dikarenakan efek pleiotropik.
Terdapat pula bukti yang menunjukkan bahwa pengaruh CCBs long-acting berpengaruh terhadap
perbaikan hipertrofi ventrikel sehubungan dengan pengaturan tekanan darah 24
jam, dimana ARBs juga menunjukkan efek penurunan terhadap fibrosis dari
kardiovaskuler dan perbaikan renal. Sebagai tambahan, ARB valsartan telah menunjukkan
pengurangan terhadap resiko kejadian diabetes melitus, dimana CCB amlodipine
memiliki keuntungan sebagai anti-angina. Sedangkan efek anti-angina tidak
dimiliki oleh CCBs (efek yang serupa didapat pada penggunaan B-blocker),
perbedaan keuntungan antara ARBs dan CCBs menyebabkan rasionalisasi yang kuat
terhadap penggunaan secara kombinasi 2 macam jenis antihipertensi ini.
Sehubungan dengan
efektifitasnya yang menguntungkan, mekanisme terapi yang terjadi diharapkan
memiliki keuntungan terhadap keamanan
dan toleransi terhadap pasien. Cara kerja dari ARBs memiliki potensi untuk mengatasi
kemungkinan efek samping yang berhubungan dengan penggunaan CCBs. Secara umum,
kejadian edema perifer yang terjadi berhubungan dengan penggunaan CCBs
merupakan hasil dari efek vasodilatasi yang bisa diatasi oleh ARBs, yang
menyebabkan dilatasi vena dan arterial secara bersamaan. Lebih lanjut lagi,
semenjak diketahui bahwa pengaturan tekanan darah dapat dicapai tanpa
memerlukan peningkatan dosis regimen, maka efek samping yang dengan dosis
tinggi CCBs dapat dihindari.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Kombinasi ACE-i dengan CCbs Pada Hipertensi "
Posting Komentar