Terapi kombinasi baku (FDC/Fixed Dose Combination) memiliki beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan monoterapi atau kombinasi secara bebas. Penggunaan terapi kombinasi baku dapat meningkatkan keyakinan pasien dan menyederhanakan regimen terapi. Peningkatan kepercayaan dan pengurangan kerumitan dari regimen terapi dapat meningkatkan optimalisasi dari pemberian pengobatan dan ketaatan pasien, sehingga dapat mengurangi salah satu hambatan utama didalam pengobatan terhadap pasien hipertensi. Sebagai tambahan, biaya medis secara langsung dan tak langsung terhadap penanganan tekanan darah tinggi dan hubungannya dengan kejadian komplikasi kardiovaskuler menurun sebagai hasil dari penggunaan regimen dan ketaatan dari penggunaan masing-masing obat antihipertensi yang juga memiliki efek kardioprotektif.
A. Kombinasi Terapi yang Tersedia
Beberapa jenis kombinasi regimen antihipertensi telah tersedia, termasuk ACE-i (Angiotensin-Converting Enzym Inhibitor) dengan penghambat kanal kalsium (CCBs), ACE-i dengan diuretik, ARBs (Angiotensi Reseptor Blockers) dengan diuretik, dan B-blocker dengan diuretik. Dari uraian diatas, maka yang belum tersebutkan adalah kombinasi antara CCB/ ARB, yang mungkin dapat menjadi suatu strategi pengobatan kombinasi pada pasien hipertensi yang tidak dapat mencapai target tekanan darah yang dikehendaki. Hambatan secara simultan melalui dua jalur yang berbeda pada pengaturan tekanan darah dari CCB/ARB telah menunjukkan hasil yang signifikan terhadap penurunan dan kontrol tekanan darah bila dibandingkan dengan penggunaan monoterapi obat antihipertensif. Meskipun penggunaan obat terapi B-blocker/diuretik lebih efektif dalam menurunkan tekanan darah dibandingkan dengan penggunaan monoterapi, akan tetapi terdapat laporan penggunaan kombinasi tersebut terhadap resiko terjadinya diabetes melitus, dimana diabetes melitus sendiri merupakan salah satu faktor resiko dari penyakit kardiovaskuler. Penggunaan dari kombinasi B-blocker/diuretik telah menunjukkan hasil yang sedikit berbeda dari hasil studi LIFE (Losartan Intervention For Endpoint) dan pada studi ASCOT-BPLA (Anglo Scandinavian Cardiac Outcomes Trial-Blood Pressure Lowering Arm), yang menunjukkkan bahwa B-blocker memberikan efek perlindungan terhadap jantung yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis obat antihipertensi yang lain. Studi ASCOT-BPLA menunjukkan bahwa regimen amlodipine dapat memberikan efek kardio-protektif terhadap resiko komplikasi jantung yang jauh lebih besar dibandingkan dengan penggunaan regimen atenolol, meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pasien stadium akhir seperti miokard infark nonfatal dan penyakit jantung koroner yang fatal, yang kemungkinan dikarenakan terminasi awal pada pemilihan populasi sampel percobaan. Efek proteksi yang ditawarkan oleh obat B-blocker dari percobaan ASCOT-BPLA memiliki efek yang kecil, walaupun perbedaan kardio-protektif terlalu berlebihan bila hanya dinilai dari tekanan darah saja. Penurunan tekanan darah secara cepat didapatkan pada kelompok dengan penggunaan amlodipine dibandingkan dengan kelompok atenolol (perbedaan diantara masing-masing kelompok paling besar pada bulan ke-3), yang sesuai dengan hipotesa bahwa penurunan tekanan darah yang cepat berhubungan dengan penurunan faktor resiko kejadian komplikasi kardiovaskuler dibandingkan dengan kelompok "delayed responders". Studi ASCOT–BPLA memberikan suatu tuntunan baru penatalaksanaan hipertensi pada institut di Inggris (NICE/National Institute Clinical Excellence), yang membuat pernyataan bahwa B-blocker bukanlah merupakan pilihan utama pada terapi awal hipertensi (Gambar 2). Analisa dari pengaruh terapi B-blocker/diuretik pada studi VALUE memberikan data tambahan pada keadaan metabolik yang merugikan dari kombinasi obat tersebut sehubungan dengan peningkatan resiko terjadinya diabetes melitus.
B. Kombinasi Diuretik dengan ACE-i dan ARBs
Terdapat alasan yang kuat penggunaan terapi kombinasi dari ACE-i atau ARBs dengan diuretik, berdasarkan dengan peningkatan presentase dari pasien hipertensi yang berhasil mencapai target tekanan darah dibandingkan dengan penggunaan monoterapi. Sebagai tambahan, penghambatan terhadap sistem renin-angiotensin (RAS system) dengan ACE-i atau ARB dapat mencegah atau membalikkan efek diuretik terhadap serum glukosa, lipid, dan kalium. Berdasarkan data terbaru dari tuntunan terapi UK NICE, penggunaan ACE-i atau ARBs merupakan pilihan utama terapi hipertensi pada pasien dengan usia kurang dari 55 tahun dan merupakan pilihan terapi lini kedua pada pasien umur 55 tahun atau lebih.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Terapi Kombinasi Untuk Hipertensi "
Posting Komentar