Analisis Dampak HPP Gabah/Beras Terhadap Tingkat dan Stabilitas Harga Gabah di Tingkat Produsen
Secara umum, sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Simatupang et. al (2005a, 2005b), dari berbagai data sekunder yang ada di tingkat nasional dan propinsi, HPP untuk Gabah Kering Panen (GKP) cukup efektif dalam mengamankan harga gabah di tingkat petani. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini, untuk kurun waktu 1998-2005, harga gabah petani umumnya berada di atas HPP yang ditetapkan pemerintah. Untuk Sumatera Barat dalam dua tahun terakhir harga GKP di tingkat petani selalu di atas HPP yang ditetapkan pemerintah.
Analisis reggresi sederhana antara harga GKP dan HPP memperlihatkan fenomena yang sama antara data di tingkat nasional dan daerah pengamatan (Sumbar, Jabar, D.I. Yogyakarta dan Sulsel). Semua intersepnya bernilai positif dan nilai koefisien variasinya tidak lebih dari 5%, ini berarti harga produsen stabil di atas HPP dalam kurun waktu tersebut di atas.
Namun kalau kita lihat dari data riil di tingkat petani gambarannya tidaklah sebaik dari uraian di atas, masih banyak ditemui petani yang menerima harga pembelian gabah di bawah Rp.1,730,-, dan ini terkait dengan berbagai faktor yang akan diterangkan pada bagian berikutnya.
3.2. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitasi harga gabah di tingkat produsen.
Secara umum rata-rata harga gabah di tingkat petani, terutama GKP, selama musim kemarau lebih tinggi dari pada musim hujan. Sementara itu dari sisi wilayah, harga GKP di Sumatera Barat lebih tinggi dari daerah lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal di atas diantaranya terkait dengan pola perdagangan gabah dan beras serta alternatif pasar yang tersedia, sistem panen, pola tanam dan kondisi spesifik wilayah.
Perdagangan gabah dan beras, sebagaimana perdagangan komoditi pertanian lainnya, berjenjang dari pedagang tingkat desa sampai pengecer di wilayah konsumen. Dari sisi rantai tataniaga tidak banyak berbeda dengan hasil pengamatan dan penelitian terdahulu seperti yang ditemui Rusastra et. al (2004) dan Rachman et. al. (....). Satu hal yang mulai agak ada perubahan terutama untuk pedagang besar di Jawa Barat dan D. I. Yogyakarta, adalah peran pedagang besar yang mulai tersaingi oleh pedagang menengah dalam pemasaran beras antar wilayah/propinsi. Bila pada waktu yang lalu pemasaran beras antar wilayah, terutama untuk tujuan Jakarta dan sekitarnya di monopoli oleh beberapa pedagang besar, maka sekarang jumlah pedagang yang memasarkan berasnya ke wilayah Jakarta dan sekitarnya relatif lebih banyak. Dalam hal lainnya tidak ada perubahan yang berarti selama 10 tahun terakhir.
Fluktuasi harga gabah antar musim, merupakan fenomena yang sudah biasa kita temui, dan ini banyak terkait dengan masalah penawaran dan permintaan gabah/beras. Panen raya di Jawa Barat dan DIY umumnya terjadi pada saat musim hujan, dan ini menyulitkan petani dalam mengelola gabah yang dihasilkannya, sementara harga penjualan gabah pada musim hujan ini adalah rendah. Dari sisi pedagang, pada saat musim hujan mereka umumnya lebih menyukai membeli gabah dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) karena secara rata-rata di seluruh wilayah yang diamati, margin keuntungan yang diperoleh pedagang lebih besar untuk GKG dibandingkan GKP (lihat Tabel 3).
Bagi pedagang di tingkat desa, umumnya memiliki usaha penggilingan padi, pada saat musim hujan biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan GKP sampai menjadi beras untuk setiap kilogram gabah yang mereka beli, lebih besar dari GKG. Selisih biaya ini, kecuali untuk Sumatera Barat, relatif besar antara GKP dan GKG. Pada saat musim kemarau, biaya yang dikeluarkan relatif sama perbedaannya hanya untuk biaya jemur dan itu jumlahnya relatif kecil (Tabel 4). Keadaan ini membawa konsekwensi besar bagi margin keuntungan yang diperoleh pedagang, pada saat musim hujan rata-rata margin keuntungan dari GKG sekitar 30% sampai tiga kali lipat dari keuntungan GKP. Inilah juga yang menyebabkan kenapa harga jual GKP semakin terpuruk pada saat musim hujan, selain jumlah produksi melimpah, pedagang kurang mempunyai insentif untuk membeli dalam bentuk GKP.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Analisis Dampak HPP Gabah"
Posting Komentar