Definisi
Gangguan Visual Menurut WHO:
penglihatan yang buruk dan kebutaan
Low vision (penglihatan
yang buruk): akuitas/ketajaman penglihatan paling baik yang sudah diperbaiki
sampai 6/18 sampai 3 meter counting fingers (CFàdapat menghitung jari dari jarak 3 meter)
Kebutaan: dapat dikoreksi
sampai keadaan paling baik akuitas penglihatannya menjadi 3 meter CF atau
kurang dari itu
Gangguan visual sebagian
besar dapat dihindari (dapat dicegah dan/atau dapat diobati).
Kebutaan
Global Menurut WHO tahun 1990
Prevalensi kebutaan
bervariasi dari 0.08% pada anak-anak sampai 4.4% pada orang dewasa di atas 60
tahun; prevalensi global keseluruhan yakni 0.7%.
Setidaknya 7 juta orang
menjadi buta setiap tahunnya
Jumlah orang buta di
seluruh dunia bertambah 1-2 juta per tahunnya.
Prevalensi di kebutaan di
Indonesia >1%
47% kebutaan disebabkan
oleh katarak, 12% karena glaucoma, 9% karena Age related Macular degeneration
(degenerasi macula terkait penuaan), 13% karena lain-lain.
Akibat kebutaan:
o
Beban sosial
n Menjadi
tanggungjawab orang lain
n Imobilitas,
sekalipun badan sehat
o
Kerugian finansial/Biaya
Cost of surgery
/ treatment / rehabilitation
o
Efek kejiwaan
rasa tidak berdaya,
depresi
Prevalensi Kebutaan :
o
Indonesia: 1.5%
(tinggi,
dibandingkan negara Asia lainnya
o
Penyebab kebutaan utama di Indonesia
- katarak
- glaukoma
- kelainan refraksi
- penyakit retina
- penyakit kornea
(Survei Kesehatan
Rumah Tangga, Depkes, 1993)
Pencegahan kebutaan
Visi 2020: Hak untuk
Penglihatan
·
Hubungan
kerja sama antara WHO dan International Agency for the Prevention of Blindness
(IAPB)
·
Diluncurkan
tahun 1999 dengan 2 tujuan
o
Mengeliminasi
kebutaan yang tak bisa dicegah sebelum tahun 2020
o
Mencegah
penggandaan kejadian gangguan visual yang bisa dicegah yang telah diproyeksikan antara tahun 1990 dan
2020
Pencegahan kebutaan
melibatkan:
·
Fasilitas
·
Sumber
daya manusia
·
Dana
·
Kesadaran
Pencegahan kebutaan
·
Petugas
kesehatan: dokter umum, oftalmologis, suster, optometris
·
Organisasi
o
Pemerintah
o
NGO
o
Organisasi
profesi (contoh PERDAMI)
o
Kelompok2
kolaboratif
Oftalmologi untuk dokter
umum
·
Perlu pengetahuan anatomi dan fisiologi mata, serta
patogenesis penyakit mata
·
Perlu pengetahuan mata dasar
·
Melakukan diagnosis masalah mata
·
Tatalaksana:
- komplit/mandiri
- inisial
- merujuk
Anatomi Mata
•
Terletak
dalam rongga mata (orbita)
•
Terlindung oleh lemak
•
Digerakkan
oleh:
- 4 otot rektus
- 2 otot oblique
•
Ukuran :
2/3 bola pingpong
(diameter bayi 18 mm
à dewasa 24-25 mm)
Mata Kita itu…
•
Bola
mata dibasahi (lubrikasi) oleh air mata yang terdiri atas: air, lipid
dan musin
•
Lapisan air mata tersebar di permukaan mata
dengan gerakan mengedip
•
Kelebihan air mata dipompa ke saluran(duct)
dan di-drainase ke hidung
Refraksi
o
Sinar
sejajar/paralel dari suatu obyek jauh (6 meter), misalnya pohon, akan terfokus
pada satu titik fokus di retina
n
semakin
tinggi kekuatan lensa/cembung, semakin dekat titik fokus dari lensa
n
kekuatan
lensa (kekuatan refraksi) diukur dalam satuan diopter (D)
o
lensa
konveks dengan kekuatan refraksi 1 diopter memiliki kemampuan untuk
mengkonvergensikan sinar 1 meter dari lensa.
o
Obyek/cahaya
masuk secara divergen jika jaraknya semakin dekat dengan mata
Proses
Penglihatan (pada mata normal=emetropia)
Sinar sejajar (paralel) dari
benda jauh akan dibelokkan oleh
kornea dan lensa
Sinar tersebut difokuskan
tepat pada retina (makula),lalu diteruskan lewat saraf optik ke otak,sehingga
menghasilkan penglihatan yang jelas
Klasifikasi
Masalah Mata:
o
mata merah (normal dan
penurunan penglihatan)
o
Hilangnya penglihatan kronik
(progresif)
o
Hilangnya penglihatan akut (persisten)
o
Trauma
o
Abnormalitas pada garis (alignment) dan motilitas ocular
o
Gangguan refraktif
Mata Merah
·
Media
refraksi jernih: penglihatan normal
·
Opasitas
(kekeruhan) media refraksi: penurunan penglihatan
·
Vasodilatasi
pembuluh konjungtiva/episklera/kornea
·
Inflamasi
(infeksi dan noninfeksi)
·
Penglihatan
normal: konjungtivitis, skleritis, episkleritis, pterigium, pinguecula
·
Penurunan
penglihatan: glaucoma akut, keratitis, uveitis, endoftalmitis
Penurunan
penglihatan kronis
·
Disebabkan
oleh perubahan kronik kejernihan atau fungsi media refraksi
·
Abnormalitas
jaras saraf (dari retina ke korteks visual)
·
Sebagian
besar: proses degenerative
·
Misalnya:
katarak, glaucoma kronik, retinopati diabetic, age-related macular degeneration
(AMD)
Pada Glaukoma terjadi
cupping pada papil mata (dari normal àcupping
besaràglaucomatous cupping)
Hilangnya
penglihatan yang akut
o
Disebabkan oleh perubahan akut pada media refraksi
atau fungsinya, atau gangguan akut pada jaras penglihatan
o
Dapat berhubungan dengan penyakit sistemik, misalnya:
retinal detachment, retinal vascular occlusive diseases, vitreous hemorrhage,
optic neuritis, optic neuropathies
Cedera
Okular
·
Cedera
yang penetrating (mempenetrasi) atau memperforasi
·
Cedera
tumpul
·
Cedera
kimia
Masalah refraksi
·
Myopia
(rabun jauh)
·
Hipermetropia
(rabun dekat)
·
Astigmatisma
·
Presbiopia
Myopia (rabun jauh)
·
Kornea
terlalu cembung, atau bola mata terlalu panjang
·
Sinar
dari benda jauh jatuh di depan retina
Hiperopia (rabun dekat)
·
Kornea
terlalu datar ataupun bola mata terlalu pendek
·
Sinar
akan di fokuskan di belakang retina
·
Benda
yang jauh maupun dekat menjadi tidak jelas
Astigmatisme (silindris)
·
Bentuk
kubah kornea tidak simetris, ada yang terlalu cembung pada sumbu tertentu dan
terlalu datar pada sumbu lain
·
Terdapat
2 titik fokus pada retina
·
Gambar
menjadi tidak jelas membuat penglihatan buram
Nice
to know: abnormalitas alignment dan motilitas ocular
·
Strabismus
(squint) àeksotropia (mata yang juling mengarah ke
luar), esotropia (mata yang juling lebih ke medial)
·
Nistagmus
·
Diplopia
·
Paresis
otot ocular eksternal
·
Tumor
orbital
Contoh-contoh Pemeriksaan
Mata:
·
uji
refraksi
·
pinhole
test
·
snellen
chart
·
funduskopi
·
palpasi
digital
·
tonometer
Schiotz
·
Tes
konfrontasi
·
Slitlamp
biomikroskopis + tonometri aplanasi
·
Tes
konfrontasi
Belum ada tanggapan untuk " "
Posting Komentar