Lembaga penyelenggaraan tenaga kependidikan mempunyai tanggung jawab dalam menyiapkan calon pendidik yang akan bertugas melaksanakan pendidikan tingkat dasar dan menengah, bahkan juga untuk perguruan tinggi. Ini artinya, selain ditentukan oleh sistemm pendidikan yang dikembangkan olehh pemerintah pusat maupun derah, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kuaitas lulusan LPTK, yakni guru. Dengan memperhatikan filosopi dan konsep pelaksanaan lesson study di Jepang, serta berdasarkan pada hasil-hasil pengalaman implementasi dibeberapa dareah rintisan diriktorat ketenagaan DIKTI sedang memperogramkan pengembanagan Lesson study diseluruh LPTK di Indonesia.
Mengapa lesson study menjadi salah satu program andalan dalam membangun pendidikan melalui LPTK ? berikut diuraikan beberapa alasan yang dikemukakan berdasrkan beberapa keunggulan lesson study.
1. Lesson study merupakan cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pemebelajaran.
Menurut Lewis (2002) dan Iverson (2002) lesson study memiliki peran yang cukup besar dalam melakukan perubahan secara sistematik. Di Jepang lesson study tidak hanya memberikan sumbangan terhadap pengetahuan keprofesionalan guru, tetapi juga terhadap peningkkatan sistem pendidikan yang lebih luas. Lewis mengguraikan bagaimana hal tersebut dapat terjadi dengan menguraikan bagaimana hal tersebut dapat terjadi dengan membahas lima jalur yang dapat ditempuh lesson study yaitu 1) membawa tujuan standar pendidikan kealam nyata didalam kelas, 2) menggalakkan perbaikan dengan dasar data, 3) mentargetkan pencapaian berbagai kualitas siswa yang mempengaruhi kegiatan belajar, 4) menciptakan tuntutan mendasar perlunya peningkatan pembelajaran dan 5) menjunjung tinggi nilai guru (Lewis, 2002).
Melalui lesson study guru secara kolaboratif berupaya menerjemahkan tujuan dan standar pendidikan ke alam nyata di dalam kelas. Mereka berupaya merancang pembelajaran sedemikian sehingga siswa dapat dibantu menemukan tujuan pembelajaran yang dituliskan untuk suatu materi pokok (yang didalam kurikulum kita sekarang berarti siswa dibantu untuk menguasai kompetensi dasar yang diharapkan). Selain itu, guru di Jepang juga memperhatikan aspek lain standar pendidikan nasional mereka yaitu belajar memiliki kebiasaan berpiikir ilmiah, saya disebutkan disini sebagai memiliki kecakapan hidup. Mereka berupaya merancang suatu sekenario pembelajaran yang memperhatikan kompetensi dasar dan penegembangan kebiasaan berpkir ilmiah itu dengan membantu siswa agar mengalami sendiri, misalnya pentingnya pengendallian variabel dan juga memperoleh pengetahuan tertentu yang terkait meteri pokok yang dibelajarkan. Setelah itu rancanagn pembelajaran itu dilakasanan, diamati, didiskusikan, dan revisi serta kalau perlu dilaksanakan lagi.
Lesson study menggalakkan perbaikan dengan dasar data, dan data ini tidak seperti yang selama ini terbatas pada hasil tes tulis (UAN) yang hanya mengukur kinerja akademik yang sangat sempit. Sebaliknya dalam mengkaji pembelajaran dalam lesson study, guru-guru secara cermat mengamati siswa dan mengumpulkan data untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
a. Bagaimana pengetahuan dan pemahaman siswa mengenai topik tersebut dapat berubah sepanjang proses pembelajaran ?
b. Apakah siswa benar-benar tertarik pada topik ini, apakah mereka belajar dengan terpaksa ?
c. Apakah siswa memiliki kuallitas individu mendasar yang diperlukan untuk belajar ? misalnya apakah meraka tertib, bertanggung jawab dan mampu mendengarkan dan memberi jawaban atau komentar terhadap gagasan teman mereka satu sama lain ?
Guru di Jepang mengumpullkan dan menganalisis data-data ini dan menggunakannya sebagai dasar untuk merancang perubahan dalam pembelajaran, merancang prosedur dalam kelas dan merancang iklim kelas. Jadi dalam lesson study tidak hanya diurus kegiatan belajar akdemis siswa saja, tetapi juga diperhatikan motivasi siswa dan iklim sosial, yaiut faktor-faktor yang mungkin turut berkontribusi terhadap kesuksesan akademis siswa dalam jangka waktu panjang.
Jadi tidah hanya tes dan hasil karya siswa yang memberikan informasi mengenai apa yanng perlu ditingkatkan, lesson study juga menyarankan bagaimana meningkatkanya. Sebagai contohnya pengamat mungkin mencatat bahwa suatu cara mengajarkan konsep tertentu itu menyebabkan kesalahpahaman siswa karena itu ia menyarankan cara lain yang lebih baik. Kebalikan dari hasil tes terstandar, masukan yang diperoleh melalui lesson study itu langsung dapat diterima, sesuai dengan kondisi siswa saat itu, dan berdasrkan observasi terhadap kenyataan nyata pembelajaran. Masukan berasal dari mitra guru yang umumnya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai siswa dan konteks pembelajaran mereka, yaitu orang-orang yang mempunyai posisi terbaik untuk memahami permasalahan yang dihadapi siswa dan menyarankan pemecahgan yang mungkin ditempuh.
Lesson study mentargetkan berbagai kualitas siswa yang memppengaruhi kegiatan belajar yanng disebut kecerdasan berpikir dan bersikap (the habits of mind and heart that are fundamental to succes in scholl). Kecerdasan berpikir dan bersikap yang dikembangkan selam bertahun-tahun di Jepang itu berupa ketekunan (persistence), kerjasama (cooperation), tanggungjawab (responsibility), dan kemauan untuk bekerja keras (willingnes to work hard). Agar dapat mengembangkan hal tersebut, guru perlu bekerja sama sebagai suatu tim untuk memberiikan lingkungan belajar (menurut istilah kita menumbuhkan budaya sekolah) yang koheren dan konsisten. Tidak mungkin siswa belajar ”berpikir seperti ilmuan” hanya di salah satu kelas, lalu pada tahun berikutnya hal ini tidak dikembangkan lagi oleh gurunya. Lewis (2002) mencontohkan kecerdasan berpikir dan bersikap yang dapat diamati pada siswa Jepang antara lain mendengarkan dan merespon ide teman selama diskusi, dengan penuh tanggungjawab dan berhati-hati mengenai bahan berbahaya dan alat yang mudah pecah, mencatat dengan tertib, bekerjasama dengan mudah dalam kerja kelompok, dan membersihkan bahan dan air yang tumpah setelah praktikum.
Lesson study juga mmenciptakan tuntutan mendassar perlunya peningkatan pemeblajaran. Seorang guru yang mengamati pelaksanaan pembelajaran yang diteliti (reseach lesson) akan mengadopsi pembelajaran sejenis setelah mengamati respon siswa yang tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksakan. Melalui pengamatan langsung terhadap pembelajaran yyang diteliti (reseach lesson) maupun laporan tertulis, video, ataupun bberbagai pengalaman dengan kolega, telah tersebar lluas berbagai rancangan pembelajaran yang telah dikembangkan melalui lesson study yang meliputi berrbagai topik. Semua itu dimulai ditingkat lokal, dikelola secara lokal, dan menyebar menjadi repormasi tingkat sistem pendidikan keseluruh negeri. Misalnya dalam bidang Matematika, berkat inspirasi dari sekelompook guruMatematika yang aktif menyelenggarakan lesson study pada tahun 1970-an, seluruh guru di Jepang dalam dalam 30 tahun terakhir ini mulai menekankan pemecahan masalah dalam matematika, dan perlahan-lahan beralih kemengajar untuk memahamkan (teaching for understanding) untuk tingkat matematika SD.
Selanjutnya, lesson study juga menjunjung tinggi nilai guru karena lesson study mengenali pentingnya dan sulitnya mengajar, yaitu secara nyata menerjemahkan standar pendidikan, kerangka dasar pendidikan dan ”Praktik Pembelajaran” terbaik ke kelas. Lesson study menggunakan waktu dan sumber daya guru untuk merancang, mengkaji dan memperbaiki apa yang secara nyata terjadi dikelas. Lesson study merupakan suatu sistem penelitian dan pengembangan dimana guru-guru mengembangkan teori dan praktik melalui kajian cermat terhadap ”praktik terbaik” dalam kelas yang terus diuji dan dikembangkan.
2. Lesson study akan menghasilkan dosen/guru yang profesional dan inovatif
Dengan melakukan lesson study maka pendidik (dosen dan guru) akan :
a. Lebih peduli akan hak mahasiswa untuk belajar dengan sebaik-baiknya.
b. Berpikir mengenai bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya.
c. Lebih serius membuat Satuan Acara Perkuliahan (SAP) atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sehingga rencana pembelajaran juga akan lebih baik kerena hasil pemikiran salah seorang dosen akan diberi masukan oleh teman-teman dosen lainnya untuk memperbaiki/ meningkatkan kualitas rencana pembelajaran.
d. Secara bersama-sama memilih dan menerapkan berbagai strategi / metode pembelajaran atau materi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi atau permasalahan pembelajaran yang dihadapi dosen.
e. Membantu mahasiswa mencapai tujuan pembelajaran yang dituliskan untuk suatu materii pokok (yang didalam kurikulum kita sekarang berarti mahasiswa dibantu unntuk menguasai kompetensi dasar yang diharapkan.
f. Membantu mahasiswa belajar mengembangkan kebiasaan berpikir illmiah atau belajar mengembangkan salah satu kecakapn hidup yaitu kecakapan hidup akademik.
g. Melakukan perbaikan dengan dasar data yaitu dalam mengkaji pembelajaran dalam lesson study, dosen secara cermat mengamati mahasiswa dan mengumpulkan data untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
· Bagaimana pengetahuan dan pemahaman mahasiswa mengenai topik tersebut dapat berubah sepanjang proses pembelajaran ?
· Apkah mahasiswa benar-benar tertarik pada topik ini, apakah meraka belajar dengan terpaksa ?
· Apakah mahasiswa memiliki kualitas individu mendasar yang diperlukan untuk belajar ?, misalnya, apakah mereka tertib, bertanggungg jawab dan mampu mendengarkan dan memveri jawaban atau komentar terhadap ide teman mereka satu sama lain ?
h. Memperhatikan motivasi dan iklim sosial yaitu faktor-faktor yang mungkin turut berkontribusi terhadap kesuksesan akademis mahasiswa dalam jangka panjang.
i. Memperoleh masukan yang langsung dapat diterima, sesuai dengan kondisi mahasiswa saat itu, dan berdasarkan observasi terhadap kenyataan nyata pembelajaran. Masukan yang berasal mitra dosen itu sangat berharga karena para dosen itu memiliki pengetahuan yang cukup mengenai mahasiswa dan kontek pembelajaran mereka, dan ppunya posisi yang terbaik untuk memahami permasalahan yang dihadapi mahasiswa dan menyarankan pemecahan yang mungkin ditempuh.
j. Memberikan lingkuungan belajar (menurut istilah kita menumbuhkan budaya sekolah) yang koheren dan konsisten.
k. Mengadopsi pembelajaran sejenis dikelasnya sendiri setelah mengamati respons mahasiswa yang tertarikdan termotivasi untuk belajar dengan cara seperti yang dilaksnakan.
l. Mengembangkan keprofesionalannya, karena lesson study memungkinkan dosen untuk 1) memmikirkan dengan cermat mengenai tujuan pembelajaran, materi pokok, dan pembelajaran bidang study, 2)mengkaji dan mengembangkan pembelajaran yang terabaik yang dapat dikembangkan, 3) memperdalam pengetahuan mengenai materi pokok yang diajarkan, 4) memikirkan secara mendalam tujuan jangka panjang yang akan dicapai yang berkaitan dengan siswa, 5) merancang pembelajaran secara kolaboratif, 6) mengkaji secara cermat cara dan proses belajar serta ringkah laku siswa, 7) mengembangkan pengetahuan pedagogis yang sesuai untuk membelajarkan siswa, dan 8) melihat hasil pembelajaran sendiri melalui mata siswa dan kolega.
Belum ada tanggapan untuk "Mengapa lesson study perlu dilakukan di LPTK ?"
Posting Komentar